Oleh: Naufal Nabilludin
Beberapa teman saya belakangan curhat soal pernikahan. Bukan tentang bagaimana mereka membayangkan hari bahagia itu, tapi lebih ke… “Gimana cara nyiapin dananya?” Dengan gaji yang pas-pasan, apalagi yang masih harus menanggung keluarga sebagai sandwich generation, rasanya mimpi menikah makin jauh dari genggaman.
Saya sendiri sebenarnya belum ada kepikiran untuk menikah. Tapi dari curhatan teman-teman, saya mulai sadar bahwa hidup ini memang tidak mudah. Menyiapkan mahar, biaya resepsi, tabungan rumah, biaya anak nanti—wah, dengarnya saja sudah bikin geleng-geleng kepala. Apalagi kalau harus mengalaminya langsung.
Beberapa teman sampai menyarankan saya untuk mulai mempersiapkan dana pernikahan sejak sekarang, meskipun saya sendiri belum ada rencana ke sana. Awalnya saya pikir itu bercanda, tapi setelah melihat angka-angka, saya jadi mikir, “Iya juga, ya.”
Harga Emas vs Kenaikan Gaji
Coba lihat harga emas. 1 Januari 2024, harga emas di Pegadaian Rp1.159.000 per gram. Sekarang, 26 Februari 2025, sudah Rp1.674.000 per gram. Naiknya Rp515.000 per gram dalam setahun. Kalau mahar minimal 10 gram, berarti kenaikannya Rp5.150.000 hanya untuk mahar!

Sekarang, coba bandingkan dengan kenaikan gaji. Ada nggak gaji yang dalam setahun naik Rp5 juta? Jarang banget, kan? Ini baru maharnya saja, belum biaya lain-lain.
Saya juga baca di Kompas, angka pernikahan terus menurun dari tahun ke tahun, dan usia menikah semakin tua. Artinya, bukan cuma teman-teman saya yang merasa kesulitan, tapi banyak anak muda lainnya juga merasakan hal yang sama.
Dan kalau melihat kebijakan-kebijakan pemerintah sekarang, rasanya wajar kalau banyak Gen Z yang makin pesimis. Tidak heran muncul tren #KaburAjaDulu—karena merasa kesempatan untuk hidup layak di negeri sendiri makin kecil.
Rumah? Jangan ditanya. Harga properti semakin tidak masuk akal. Generasi kita terancam tidak bisa punya rumah sendiri, kecuali kalau warisan orang tua atau tiba-tiba menang lotre kehidupan.
Terkadang saya berpikir, mungkin kita harus mulai membayangkan kehidupan yang lebih sederhana. Bukan berarti menyerah, tapi menyesuaikan ekspektasi. Karena kalau terus berharap keadaan membaik dengan sendirinya, bisa-bisa kita malah semakin frustrasi.
Yah, semoga saja masa depan kita cerah. Atau setidaknya, tidak terlalu gelap.




