Esai: Ide Tak Semurni Air

IDE TAK SEMURNI AIR

Oleh Muhzen Den

Dalam dunia ilmu pengetahuan, ide adalah buah pikir yang muncul dari isi kepala kita setelah melalui serangkaian proses pencarian. Dulu para nabi dan rasul dalam menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya tidak serta-merta diungkapkan dengan cara sembarang. Mereka berpikir dan memilih metode bahkan cara halus agar kaum yang beliau ajak mempercayainya. Begitu juga dengan penulis atau ilmuwan.

Ide-ide yang bergejolak di dalam pikiran dan menggelisahkan dada seorang penulis merupakan proses hasil berpikir dari ‘membaca’, ‘menyimak’, dan ‘berbicara’. Tiga metode sederhana ini menjadi cara paling mudah bagi kita dalam mendapatkan informasi—yang secara tidak langsung menjadikan wawasan berpikir kita—juga mengubah cara pandang kita terhadap objek (perspektif nalar).

Dalam proses mencerna sebuah informasi kita seolah-olah dibuat seperti orang yang tidak tahu menjadi tahu. Namun, ketidaktahuan tersebut menjadi rasa ingin tahu yang besar dalam diri kita sehingga terus mencari sesuatu (research). Sampai pada akhirnya, kita menemukan perantara ketidaktahuan tersebut melalui benda-benda asing   melalui media datar, baik dalam bentuk buku, poster, slogan, laman berita, media sosial, ataupun lainnya yang disebut referensi data.

Menurut Ashleigh Brilliant, ide yang bagus sudah umum—yang tidak umum adalah mereka yang bekerja keras untuk mewujudkan ide tersebut. Artinya, ide yang ada dalam kepala kita ini akan mentah dan sia-sia jika kita tidak pernah melakukan atau mewujudkannya menjadi karya nyata. Hal ini biasanya terjadi pada penulis pemula atau orang awam yang baru mendapatkan informasi pada dirinya.

Namun, apakah ide itu benar-benar murni? Ide yang kita keluarkan atau cetuskan untuk diubah menjadi sebuah karya ataupun momentum sejarah, tidak semurni air yang jatuh dari mata airnya langsung. Ada proses literasi yang melatarbelakangi pola pikir kita terhadap objek yang akan dijadikan ide sehingga menjelma karya monumental.

Ide yang kita keluarkan tidak serta-merta murni. Ada wawasan berpikir yang didapat melalui proses pencarian informasi itu. Bahkan, kecenderungan kita akan mengikuti pola pikir sama dengan apa yang pernah kita baca, simak, dan bicarakan, atau istilahnya mengikuti penulis atau penemuan sebelumnya sehingga menjadi cermin bahkan rujukan dalam berkarya. Meskipun ide tersebut hampir sama, namun yang membedakan adalah bagaimana cara kita mengemas atau menginovasikannya menjadi sebuah karya utuh yang dapat disukai pembaca.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==