TBM Bukan Melulu Soal Buku

Oleh: Zaeni Boli

Banyak dari kita menganggap bahwa TBM, atau Taman Baca Masyarakat, hanya soal kehadiran buku. Ya, hal tersebut tidak bisa dipungkiri. Namun, tanpa kreativitas dan pemikiran-pemikiran yang cemerlang, buku-buku yang tersedia di TBM hanya akan ditemani debu dan rayap.

Perlu ada upaya lain untuk menghidupkan Taman Baca. Sekali lagi, TBM memang soal buku, tetapi lebih dari itu, ada ide dan program yang bisa ditawarkan oleh pengelola. Dalam buku Taman Bacaan Masyarakat Kreatif, yang diterbitkan oleh Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2010, dijelaskan bahwa Taman Bacaan Masyarakat Kreatif adalah taman bacaan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kreasi dan rekreasi.

Taman Baca Masyarakat sedikit berbeda dengan perpustakaan yang terkesan lebih kaku. Di TBM, kita bebas berekspresi. Anak-anak bisa menjadi diri mereka sendiri, bermain sesuka hati dengan permainan edukatif yang mungkin bisa disediakan oleh pengelola. TBM juga dapat menjadi tempat diskusi kelompok atau komunitas di lingkungan sekitar. Selain itu, TBM yang baik seharusnya memiliki inisiatif untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak.

Di TBM, program-program yang dihadirkan pun tidak harus selalu berkaitan dengan membaca buku. Misalnya, ada program memasak untuk ibu-ibu sekitar TBM, belajar bersama tokoh masyarakat, dan berbagai kegiatan lain yang relevan dengan kebutuhan komunitas.

Saat ini, Taman Baca juga didorong untuk lebih mandiri, sebagaimana didorong oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia melalui jargon Literasi untuk Kesejahteraan. Konsep ini memungkinkan TBM untuk melakukan aktivitas ekonomi di dalamnya, sehingga tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==