Langit Abu-Abu di Layar Biru

Ismawati menatap layar ponsel kecilnya. Merek tak terkenal, RAM pas-pasan, tapi cukup untuk membuka Instagram dan TikTok. Setiap hari, sebelum berangkat sekolah, dia duduk di ruang tamu rumah tipe 21-nya yang sempit—lantainya masih semen kasar, dindingnya belum dicat penuh.

Di layar, hidup orang-orang sebayanya tampak jauh lebih berwarna. Ada yang lagi healing ke Bali, unboxing iPhone terbaru, nongkrong di kafe kekinian sambil ngopi latte dan pakai totebag lokal mahal.
Sementara dia? Sarapan tempe goreng dan teh manis, ditemani suara ibu yang sibuk menyiapkan dagangan warung, dan ayah yang sudah siap berangkat ke pabrik dengan motor tuanya.

“Kenapa hidupku begini-begini aja, ya?” gumam Isma pelan.

Di sekolah, ia tidak pernah benar-benar fokus. Tiap kali temannya cerita soal nonton konser atau ikut workshop digital marketing berbayar, Isma cuma tersenyum tipis. Pura-pura paham. Pura-pura ikut senang. Padahal di dalam kepalanya, ada suara yang terus berbisik,
“Kamu ketinggalan. Kamu nggak cukup keren. Kamu bukan siapa-siapa.”

Malam harinya, saat rumah sudah sunyi, Isma membuka ponselnya lagi. Feed media sosialnya seperti parade dunia yang tak bisa ia masuki. Ia scroll-scroll sampai mata lelah, hati kosong.

Lalu, entah kenapa, dia terhenti di satu unggahan lama—foto ayahnya sedang tertidur pulas dengan helm masih di kepala, dan ibunya yang duduk mengipasi ayah dengan senyum lelah.

Caption-nya: “Orangtuaku, pahlawanku yang diam-diam.”

Isma menatap layar itu lama. Ia merasa hangat, meski di luar sedang hujan deras. Mungkin memang benar, hidupnya tidak seperti orang-orang di medsos. Tapi ia punya sesuatu yang lebih nyata. Sesuatu yang tidak butuh filter: cinta dan perjuangan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Isma mematikan ponselnya lebih awal. Ia tidur dengan senyum kecil di wajahnya—senyum yang bukan untuk dunia, tapi untuk dirinya sendiri.

Gol A Gong/ChatGPT

REDAKSI: Di meja makan bukan sekadar tempat orang atau sebuah keluarga makan. Di sana akan banyak ditemukan cerita-cerita sebuah keluarga tentah ayah, ibu, dan anak-anak. Juga cerita-cerita penuh makna agar kita tidak selalu memikirkan perut. Tapi di meja makan kita bisa juga mendengarkan mutiara-mutiara kehidupan agar kita bisa selamat menjalani kehidupan ini.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==