Pagi baru saja merekah di Pasar Kembang. Hiruk pikuk suara pedagang bersahutan dengan langkah pembeli yang terburu-buru mencari sayur segar. Di antara keranjang berisi tomat, kangkung, dan kol, Siti, seorang pedagang muda, sedang menata dagangannya. Hatinya resah, karena ia tahu hari ini si “penagih” akan datang.
Benar saja. Belum genap matahari naik sepenggalah, lelaki berbadan besar dengan wajah datar menghampiri lapaknya. Warga pasar mengenalnya sebagai Ujang—orang suruhan dari seseorang yang tak pernah terlihat tapi punya kuasa. Ia tak pernah marah, tapi kata-katanya selalu membuat orang gemetar.
“Seperti biasa, ya, Ti,” ucap si badan besar singkat sambil menyodorkan tangan.

Siti menarik napas dalam, mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong kecil di balik kerudungnya. Tangannya gemetar. Itu uang modal besok. Tapi menolak berarti dagangannya bisa ‘tak sengaja’ terguling, atau kiosnya tak kebagian tempat.
Wajah Ujang si badan besar itu tetap datar. Ia mengambil uang itu tanpa banyak kata, lalu berbalik pergi.
Di balik langkah beratnya, Ujang tahu apa yang ia lakukan salah. Tapi ia juga seorang ayah. Ia butuh uang untuk anak dan istrinya. Ia hanya menjalankan perintah. Ia hanya kaki tangan dari penguasa pasar.
Tapi apakah itu cukup untuk membenarkan semuanya?
Tim GoKreaf/ChatGPT



