Puisi Minggu: Perempuan Merdeka Karya Tias Tatanka

Sudahkah kaum perempuan merdeka di negeri ini? Di HUT Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, rasa-rasanya masih dalam perjuangan. Jika kita memantau berita di media mainstream, online atau TV, hampir setiap hari penguasaaan tubuh perempuan oleh lelaki masih terasa. Perkosaan dan berujung pembunuhan mendominasi.

Ya, merdeka! Hari ini tepat Indonesia merdeka. Kita merayakannya setiap tahun. Sekarang usia merdekanya sudah 80 tahun. Di mana-mana warna merah dan putih mendominasi. Merah itu berani dan putih itu suci.

Bagaimana dengan perempuan Idonesia? Sudah merdeka dari kaum lelaki? RA Kartini sudah berjuang untuk kita.

Ayo, seduh teh manis hangat di pagi hari sambil meneriakkan: merdeka! Eh, apakah perempuan boleh menikmati kopi pahit? Bukankah hidupnya sendiri sudah pahit?

Tias Tatanka

Tias Tatanka
Bayangan di Belakang

Aku adalah bunga kenanga di sudut pawon,
wangi terperangkap di sangkar tradisi yang beku,
dari kasur, ke dapur, lalu sumur berlumur daun gugur,
suara padi berbisik di telinga waktu, tentang konco wingking,
“Perempuan itu bayangan di belakang lelaki, bukan sayapnya,”
dan aku pun berjalan di jejak yang tak kutentukan.

Di meja makan, aku seperti asap yang hanya lewat,
menyuapi dunia tanpa menyentuh suap sendiri,
menjadi langit malam yang menahan bintang agar tak jatuh,
meski jiwaku ingin mengalir seperti sungai,
aku disuruh menjadi bumi yang tak pernah pindah,
meski matahari pun sering berpaling arah.

Tradisi ini menancap seperti paku di papan doa,
tak ada kata “merdeka” di bibir para tetua,
yang ada hanya “begitulah kodrat wanita,”
padahal aku ingin menanam padi di tanah kata-kata,
membawa panen dari kebun impian,
bukan hanya menuai peluh di ladang lelaki.

Di hari bendera merah-putih berkibar,
aku bertanya pada cermin yang retak,
“Merdekakah aku di negeriku sendiri?”
bila setiap langkahku diatur garis tak kasat mata,
aku ingin merdeka,
bukan hanya nama di Kartu Keluarga.

*) Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
Surat dari Tanah Basah

Tubuhku pernah jadi halaman kosong,
yang dipenuhi huruf-huruf kekerasan,
tangan-tangan tamak merobek kulitku seperti kertas tipis,
lalu membuangku ke parit senyap,
mereka kira kematian akan mematikan suaraku,
tapi tanah basah ini justru mengantarkannya pada langit.

Aku adalah berita yang cepat dilupakan,
sehelai kain penutup luka yang tak pernah dijahit,
di batu nisanku, hujan turun seperti air mata asing,
dan angin malam membacakan namaku di telinga Tuhan,
aku tak minta belas kasihan,
aku menuntut keadilan.

Di negeri yang mengibarkan bendera merah-putih setiap Agustus,
mengapa tubuh perempuan masih jadi ladang rampasan?
mengapa kemerdekaan tak sampai pada kulit kami?
aku mati bukan karena tak melawan,
tapi karena dunia ini tak mau mendengar
teriak perempuan sebelum napasnya diambil.

Kini suaraku hanyut di antara doa dan dendam,
mengalir di sungai yang tak lagi jernih,
mencari telinga yang mau percaya,
bahwa merdeka untuk perempuan
adalah ketika tubuh kami bukan lagi piala perang,
melainkan rumah yang tak pernah dipaksa dibuka.

*) Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
Jilbab yang Dirobek Angin Kantor

Aku menutup kepalaku dengan doa,
sehelai kain yang menyimpan ayat-ayat subuh,
tapi di meja kerja, kata-kata itu diremukkan,
“Lepaskan, itu tak cocok untuk citra perusahaan,”
seakan iman hanyalah aksesori yang bisa dicopot,
seperti dasi di leher seorang direktur.

Tanganku gemetar di lipatan jilbab putih,
bukan karena ragu pada janji Tuhan,
tapi karena dunia memaksa memilih
antara roti di meja atau cahaya Tuhan di kepala,
padahal negeri ini mengaku rumah bagi semua iman,
namun menutup pintu pada iman yang berbeda rupa.

Mereka bicara toleransi di panggung besar saat kampanye,
tapi di lorong kantor, sunyi jadi saksi penghakiman,
aku bukan boneka yang bisa didandani sesuka hati,
aku hanya ingin bekerja tanpa melucuti doa,
karena yang kututup di kepala
adalah harga diriku yang tak ternilai.

Di hari ulang tahun ke-80 negeri ini,
aku ingin benderanya tak hanya merah-putih,
tapi juga mekar dalam semua warna iman,
agar tak ada lagi perempuan sepertiku
yang dipaksa membuka surga dari kepalanya
demi sesuap nasi.

*) Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
Perempuan yang Memilih Pergi

Aku menemaninya dari sumur yang kering, saat ia susah
dari dapur yang tak punya bara, menghitung butir nasi
dari hujan yang membocorkan atap, ranjang pun basah
aku jadi payung, jadi selimut, jadi perahu, untuk perjuangannya
tapi setelah ia menggapai dermaga emas, meraih podiumnya
ia ingin berlayar lagi dengan kapal lain.

Katanya, “Poligami itu sunnah jika adil,”
tapi aku tahu adil di lidahnya adalah manisan,
bukan janji yang bisa mengenyangkan hati,
aku tak ingin jadi setengah bintang di langitnya,
lebih baik jadi satu bulan purnama
di langitku sendiri.

Aku tak melarang ia mencari kebahagiaan,
tapi aku berhak memilih keluar dari peta hidupnya,
karena merdeka bukan hanya soal melawan penjajah,
tapi juga melawan ketidakadilan di ranjang rumah,
aku memilih menggandeng sunyi, pergi mencari rumah baru
daripada berbaring di cinta yang dibagi dua.

Di hari negeri ini meniup 80 lilin kemerdekaan untuk tetap bertahan
aku pun meniup lilin rumah tangga kami, padam selamanya
melepasnya tanpa menyesal, karena atap rumah telah roboh
karena kadang pergi adalah bentuk setia pada diri,
dan berpisah adalah cara paling jujur
untuk mencintai harga diri.

*) Agustus 2025

oOo

Tias Tatanka
Tubuh Bukan Etalase

Kukatakan pada adik-adikku di jalan perjuangan,
tubuhmu bukan baliho di simpang kota, semua menikmati,
paha, dada, dan lekuk pinggang dipamerkan sembarangan,
bukan undangan bagi mata liar, yang hasratnya sebuas srigala
jagalah tubuh seperti kau menjaga rumah, jangan mengundang
karena maling pun datang pada pintu yang terbuka.

Bukan berarti salahmu jika mereka memaksa,
tapi kita punya hak untuk memasang pagar,
kita berhak menutup jendela sebelum badai datang,
sebab dunia ini belum sepenuhnya aman
bagi perempuan yang berjalan sendiri
di malam yang terlalu panjang.

Mereka berkata, “Lelaki yang harusnya dijinakkan,”
benar, aku setuju seratus persen,
tapi pertahanan terbaik adalah ganda:
kesadaran di kepala dan perlindungan di tubuh,
agar tak ada celah bagi serigala
menyelinap ke ladang kita.

Di ulang tahun ke-80 negeri ini,
aku ingin kemerdekaan tak hanya di bendera,
merah-putih adalah cara kita menjaga diri,
agar perempuan bukan lagi korban, nafsu bejat lelaki
tapi benteng yang tak runtuh, tegak berdiri seperti tiang bendera
meski dikepung zaman perubahan yang datang bertubi-tubi

*) Januari 2025

TENTANG PENULIS: Tias Tatanka pendiri Rumah Dunia. Menulis buku catatan perjalanan di buku “The Traveler’s Wife” yang mengisahkan perjalanan Tias bersama suaminya, Gol A Gong, melintasi 7 negara dalam waktu 48 hari. Menulis novel anak dan buku cerita bergambar. Novel anak terbarunya berjudul “Negeri Permen” (MCM). Mendapatkan Ummi Award

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==