Awang mendorong pintu lobi perusahaan pelan-pelan. Terasa mencolok perbedaannya. Di luar udara panas menyengat, ketika memasuki lobi langsung terasa dinginnya AC menyergap tubuhnya.
Aang merasa suara AC berdesis lembut seperti bisikan yang licin masuk ke telinga. “Mereka sudah tahu siapa kau sebenarnya…,” bisik pikirannya.
Beberapa orang yang duduk di kursi, meletakkan map di kedua pahanya, menatapnya. Ada yang aneh, tapi ada yang tersenyum.
Awang duduk kaku di kursi tunggu, map cokelat dipeluk erat di dada. Jemarinya gemetar, tapi genggamannya tak mau lepas. Di dalam map itu ada “masa depannya”—begitu ia meyakinkan diri.
Satu persatu dipanggil masuk.
Awang masih setia duduk.
Pelamar terakhir dipanggil.
Tinggal Awang sendiri.
Pelamar terakhir keluar dari ruangan wawancara dan mengangguk kepada Awang.
Beberapa saat tanpa suara.
Resepsionis, perempuan muda berblazer hitam, mengetik sambil sesekali melirik. “Maaf, Pak Awang, HRD masih rapat. Mohon tunggu sebentar.”
“Sebentar… sama seperti yang lalu-lalu. Sampai kau menyerah,” bisik suara di kepalanya.
Awang menoleh ke jam dinding. Tuk… tuk… tuk… — denting detiknya semakin keras, seperti palu mengetuk batok kepalanya. “Ini sudah keterlaluan!” suara di kepalanya terus menggedor.
Awang berdiri. “Apa katamu tadi? Sebentar?” suaranya meninggi. “Saya sudah menunggu satu jam di sini! Bersabar! Perusahaan macam apa ini?!”
Beberapa karyawan yang lewat buru-buru memalingkan wajah. Resepsionis mencoba menenangkan. “Bapak, mohon…”
Tapi Awang mengartikannya lain. “Dia memanggil mereka. Mereka datang untukmu,” pikirannya mulai memperingatkan.
Awang makin tidak terkontrol. Tangannya menghantam meja. Pena-pena berloncatan. Mapnya hampir jatuh, tapi ia buru-buru memeluknya lagi. Napasnya memburu.
Pintu lobi terbuka. Dua perawat berseragam putih masuk, diikuti dua polisi.
“Apa kataku! Lihat… eksekusi sudah dimulai!” otaknya bersuara keras.
“Pak Awang,” ujar salah satu polisi, suaranya seperti dari jauh, “tolong ikut kami.”
Awang tertawa keras. “Akhirnya… wawancara khusus, ya?” sindirnya kesar. Kedua bola matanya seperti mau melompat keluar.
Perawat pertama membuka tas medis. “Iya, Pak. Kita ngobrol sebentar di luar.”

Map Awang terlepas dari genggaman. Kertas-kertas menyebar di lantai. Di antaranya, satu halaman mencolok: skripsi dengan cap merah plagiarism detected 98%.
Awang memicingkan mata. Itu fitnah. Mereka semua iri. Mereka ingin menghapus karyaku.
Perawat kedua memegang bahunya dari belakang. “Tenang, Pak.”
Jarum menusuk kulit. Sensasi dingin merayap cepat ke lengan, lalu ke dada.
“Bertahan… jangan biarkan mereka menghapusmu…,” otak Awang berputar-putar mencari pembenaran.
“Aku… cuma mau… kerja…” suara Awang melemah, matanya meredup.
Tubuh Awang lemas. Dunia memudar menjadi suara detak jam… lalu sunyi.
Perawat dan polisi membawanya keluar. Resepsionis menunduk, memunguti kertas yang berserakan.
Perawat mengangguk ke resepsionis. “Terima kasih sudah tenang. Pasien kami ini depresi karena skripsinya dibatalkan. Skripsinya ketahuan menjiplak,” perawat menjelaskan.
Resepsionis juga mengangguk.
Di lantai marmer, jam terus berdetak. Entah menghitung waktu kantor, atau sisa waktu waras yang sudah lama ditinggalkan Awang. (*)
Serang 11 Agustus 2025



FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:



