Puisi Esai Gen Z: Vape dan Tali Jemuran Karya Natasha Harris

Siswa di Garut diduga tewas bunuh diri setelah menjadi korban perundungan (bullying). Pemkab Garut pun telah menerima laporan kasus ini. Menurut Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Perlindungan Perempuan dan Anak Garut, Yayan Waryana, laporan kasus dugaan perundungan yang dialami korban telah diterima pihaknya pada akhir Juni 2025. “UPT PPA menerima laporan kasus dugaan bullying dari orang tua siswa pada hari Senin, 30 Juni 2025,” ucap Yayan dilansir detikJabar, Kamis, (17/7/2025).

oOo

Tanganku gemetar ketika membaca berita online.
Kenapa harus bunuh diri?
Andai aku seorang ibu, betapa sedih.
Aku kini hidup di rumah berdebu, sendiri.
Setiap sudutnya dipenuhi gema nama anakku,
yang telah pergi menjemput sunyi. Aku rindu.

Di lantai atas rumah, anakku mengambil tali jemuran.
Aku tidak mendengar jeritannya.
Jeritan hatinya. Tali jemuran jadi malaikat Izroil.
Mencekik leher anakku yang masih muda.
Masa depannya masih panjang.

Tali jemuran mengambil hidupnya.
Tubuhnya tergantung di antara atap dan bumi.
Dua waktu, dua jarak membuatku terpaku ke bumi.
Di sana, waktu berhenti berdetak,
jam dinding terjatuh setelah menuliskan
waktu beduka, Senin, 14 Juli 2025,
sebagai hari kematian yang terlalu dini.

Ia hanyalah bocah sekolah,
menyimpan cita-cita dalam buku tulis,
tetapi teman-temannyamenghujat:
“Kau pengkhianat, tukang lapor!”

Anakku bermaksud baik. Vape itu berbahaya.
Anakku melaporkan teman-temannya kepada guru.
Vape. Gara-gara vape. Sejak itu, tiada hari tanpa hinaan
kepada anakku. Teman-temannya berubah jadi serigala.
Sekolah jadi neraka. Setiap bisikan menjelma belati.
Setiap mata memandangnya seperti hendak membunuhnya.

Aku bisa merasakan, jika sebagai ibunya,
berdiri di ambang pintu kamar
melihatnya tenggelam dalam diam.
Vape mebuatnya gelisah.
Luka hati akibat teman-teman merundungnya.

Tapi sebagai ibu, aku gagal membaca isi hatinya.
Kupikir ia hanya lelah, padahal ia sedang
berperang melawan bayangan sendiri.
Aku biarkan negara datang dengan jas
Dan dasi rapi, membawa konseling,
pendampingan, rujukan psikiater.

Mereka berbicara dengan bahasa prosedur,
seakan jiwa anakku bisa dijahit dengan formulir
dan tanda tangan. Padahal hanya vape.
Dan anakku mencoba jadi teman yang baik.

Tetapi aku tahu, luka di dadanya
telah menembus terlalu dalam.
Ia tak menunggu surat rujukan,
tak menunggu obat dari rumah sakit.

Pedih hatiku. Ia memilih tali jemuran
sebagai pintu terakhir menuju kebebasan.

Kini, aku seorang ibu yang kalah perang.
Aku memeluk udara yang kosong,
mencium baju terakhirnya yang masih bau keringat,
dan mendengar dalam mimpi
ia berkata lirih:
“Ibu, maaf. Aku lelah menjadi sasaran tawa.”

Setiap malam aku duduk di bawah lampu redup,
dan di dalam kepalaku,
sekolah berubah menjadi panggung sirkus.

Anak-anak penerus bangsa berseragam merah putih
berubah jadi badut dengan tawa kejam,
sementara gurunya duduk di kursi penonton,
tepuk tangan dengan mata terpejam.
Di sudut, anakku berdiri sendirian,
topengnya retak,
dan tali jemuran sudah menunggu di balik tirai.

Wahai dunia,
apakah kalian dengar jeritan itu?
Atau suara itu terlalu lirih
hingga kalah oleh deru berita selebritas,
oleh bising iklan di televisi?

Satu anak mati bunuh diri bukan sekadar kabar kriminal,
ia adalah tanda:
bahwa kita telah gagal menjaga masa depan,
gagal membiarkan anak-anak tumbuh tanpa ketakutan.
Aku seorang ibu.
Dan aku bersaksi:
bullying bukan sekadar ejekan kecil,
ia adalah racun yang menyusup ke tulang,
ia adalah tali jemuran yang perlahan dikencangkan
oleh tangan-tangan yang merasa tak bersalah.

Ya, Allah…
Kini aku hanya bisa berdoa,
semoga Tuhan menjadikan surga
sebagai sekolah terakhir anakku,
sekolah tanpa bully, tanpa tuduhan,
tempat setiap tawa adalah pelukan,
dan setiap mata adalah kasih.

Dan aku akan terus menulis doa di balik tali jemuran,
agar tak ada lagi ibu lain
yang harus menemukan anaknya tergantung
di rumah yang seharusnya jadi pelukan.

*) Bandung, Juli 2025

Link:

Baca artikel detiknews, “Siswa Garut Diduga Tewas Bunuh Diri Usai Di-bully, Pemkab Buka Suara” selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-8017280/siswa-garut-diduga-tewas-bunuh-diri-usai-di-bully-pemkab-buka-suara.

https://nasional.kompas.com/read/2025/07/22/11071101/siswa-sma-di-garut-meninggal-diduga-dibully-puan-soroti-lemahnya-sistem

TENTANG PENULIS: Natasha Harris adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea di UPI Bandung. Senang traveling naik kereta. Setelah Singapura dan Korea, rencananya Desember 2025 hingga Februari 2026 traveling ke Indocina, Asia Tengah, dan Eropa Timur.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==