Puisi Esai Gen Z Karya Raden Aurel Aditya Kusumawaningyun – Duta Baca Jawa Barat 2024
(Peristiwa tidak terpuji terjadi kesekian kalinya di Selajambe pojok Kuningan. Seorang anak remaja di iming-imingi segala sesuatu dan kebutuhan sekolah dengan syarat menjadi anak angkat, dicabuli lalu disetubuhi sebanyak 4 kali oleh oknum Kuwu, Desa di Kecamatan Rancah Kab. Ciamis. Peristiwa tersebut terjadi akhir Mei sampai Awal Juli 2025, dan dilaporkan 24 Juli 2025 M)

oOo
Desa Selajambe hijau yang menipu damai
Dipangkuan bumi, pojok Kuningan menyimpan luka.
Seragam putih abu-abu, seharusnya bekal untuk berkelana,
membawa mimpiku, melampaui batas desa, jauh di kota sana.
Keluarga yang tak punya, namun hati penuh asa membara,
ingin kubuktikan, bukan hanya beban, tapi aku adalah harapan.
Harapan itu, kujunjung tinggi di dada, untuk masa depan,
Merajut kemungkinan kecil, melampaui cengkaraman kemiskinan.
Lalu datanglah ia, dengan senyum ramah, jubah yang terpandang,
seorang kepala desa, dari seberang Ciamis, berjanji terang.
“Jadi anak angkatku.,” katanya, suaranya seperti madu,
“Segala kebutuhanmu, sekolahmu, akan kupenuhi, itu janjiku.”
Siapa yang tak termakan bujuk rayu, saat asa terasa begitu dekat?
Saat beban hidup seolah terangkat, masa depan menjemput.
Aku percaya, oh, betapa naifnya hati haus kasih,
langkahku terbuai, masuk ke dalam sarang laba-laba yang perih.
Tubuhku, yang masih belia, belum mengenal bahaya,
dijual oleh asa, diserahkan tanpa curiga, pada janji aku Terpedaya.
Tapi madu itu ternyata racun, janji itu jarum yang tersembunyi.
Ketika aku dipanggil ke kantor polisi, bukan karena barang yang hilang,
bukan karena tuduhan yang ku kira, tapi kebenaran yang kejam.
Jantungku bergemuruh, tangan gemetar, dingin menjalari tubuh,
saat kata-kata itu, dari lisanku sendiri, begitu rapuh.
“Awalnya.” bisikku “ia datang dengan janji,
Membuai diriku, agar mau menjadi anak angkatnya.
Namun, kasih yang kutahu, perlahan berubah jadi derita,
Sentuhanya tak lagi ayah, melainkan paksa.
Mulanya hanya cabul, meraba tanpa izin jiwa,
Lalu berlanjut, memaksaku dalam persetubuhan keji.”
Setiap kata itu adalah pecahan kaca, merobek tenggorokan,
memaksa luka-luka busuk keluar, menuntut kebebasan.
Empat kali, ya, empat kali tubuh ini diperlakukan bukan manusia,
bukan anak yang diasuh, tapi objek nafsu, tanpa belas rasa.
Di mana janji itu? Di mana jubah kehormatan yang ia kenakan?
Semua runtuh, menjadi debu di bawah sepatu kekuasaan.
Senyum kepala desa, yang dulu membuai, kini menjelma topeng nista,
menyembunyikan kebejatan, merenggut martabat sekaligus asa.
Posisi dan kekuasaan, seringkali menjadi alat penipuan,
membuat yang lemah semakin tak berdaya dalam genggaman.
bukan hanya tentang satu gadis di Selajambe, Kuningan,
Tapi tentang kerapuhan sistem, tentang celah di mana kejahatan bergentayangan.

Berapa banyak lagi suara terbungkam, cerita terkubur?
Karena takut, karena malu, karena ancaman terus mendurja.
Masyarakat seringkali menghakimi, daripada melindungi,
membiarkan korban terasing dalam nestapa, terpenjara dalam trauma.
Dan pelaku lenggang masih melanglangbuana
Namun, di balik kegelapan, ada secercah keberanian,
gadis penuh asa telah bersuara, di tengah ketakutan dan tekanan.
suaraku adalah lonceng alarm, bagi kita semua untuk terjaga,
bahwa di balik senyum dan janji, ada bahaya yang menganga.
Hukum harus berdiri tegak, tak pandang jabatan atau nama,
keadilan harus disuarakan, demi korban, demi masa depan bangsa.
Kita harus membangun ruang aman, bagi setiap anak, setiap remaja,
tempat di mana mereka bisa tumbuh, tanpa rasa takut atau cemas.
Literasi bukan hanya tentang membaca buku dan angka,
tapi juga membaca tanda bahaya, membaca niat busuk di balik kata.
Mengajarkan anak-anak untuk berani berkata “tidak”,
untuk mencari pertolongan, untuk percaya pada instingnya yang peka.
Ini bukan sekadar berita, bukan hanya angka dalam statistik,
Tapi jeritan jiwa, yang menuntut keadilan, menolak kemunafikan.
Kita harus mendengarkan, dengan hati terbuka, dengan empati yang nyata.
Melindungi yang lemah, adalah tugas setiap insan manusia.
Maka, di bawah langit Kuningan, biarlah kisah ini menjadi pengingat,
bahwa cahaya kebenaran harus selalu menyala,
mengusir kegelapan, demi keadilan, demi masa depan.
*) Kadugede, Kuningan 27 Juli 2025

Catatan Kaki:
Baca artikel kuninganmass, “Di iming-imingi jadi anak angkat, Remaja kuningan di setubuhi 4 kali oleh oknum Kuwu ciamis“ selengkapnya di:
Diiming-imingi Jadi Anak Angkat, Remaja Kuningan Disetubuhi Empat Kali oleh Oknum Kuwu dari Ciamis
oOo


TENTANG PENULIS: Raden Aurel Aditya Kusumawaningyun.CPS. Pemuda kelahiran Kuningan, 30 Mei 2005 ini aktif menjadi Pegiat Literasi. Menyukai dunia membaca sejak sekolah hingga akhirnya membawanya terjun ke dunia literasi sampai pada titik menjadi Terbaik 3 Duta Baca Provinsi Jawa Barat. Dan mulai Agustus 2025 akan melakukan Safari Literasi Di Provinsi Jawa Barat. Untuk korespondensi bisa menghubungi surel: radityaradhen.30@gmail.com dan No WA 08990933320.


PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen Baru ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Bagaimana kalau lingkungan, politik, atau kritik sosial ke penguasa? Boleh saja asalkan ada fakta dan sertakan link beritanya. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Baru. Ada honorarium Rp 300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



