Fiksi Mini: Ruang Tamu Karya Fitra Salami 

Di ruang tamu sebuah rumah yang terlihat lengang, duduklah sepasang suami isteri sepuh, Ratna dan Darma. Mereka duduk di kursi rotan yang mulai berderit dimakan usia. Menikmati senja yang mulai turun, serta kicauan burung-burung yang kembali ke sarangnya. Di atas meja rotan, sepasang cangkir porselen mengepulkan aroma teh melati kegemaran mereka. 

“Aku bersyukur, Darma,” ujar Ratna tersenyum seraya menyandarkan tubuh lemahnya. “Setelah semua yang kita lalui, kita bisa terus bersama bahkan hingga serenta ini.” 

Darma menatap foto pernikahan mereka yang terpajang manis di dinding ruang tamu. “Aku selalu merasa waktu kita terlalu singkat. Rasanya baru kemarin aku melamarmu.” Ia sedikit menghela napas. Entah apa yang disayangkan, dia terlihat menyesali sesuatu.

Ratna meraih tangannya, menggenggam erat seolah menyalurkan kekuatan, keyakinan dan perasaan cinta yang tak pernah padam. “Jangan salahkan dirimu Darma,” ucap Ratna seolah tahu hal apa yang menggangu pikiran suaminya.

Darma memejamkan matanya. Tubuh rentanya ia sandarkan pada kursi rotan yang selalu berderit tiap kali ia bergerak. 

“Kamu sudah berjuang untuk keluarga kita. Aku tahu kamu sangat menyayangi kami. Ingin selalu ada di dekat kami. Tapi pekerjaan mengharuskanmu pergi.”

Darma mengangguk-anggukan kepala, mengiyakan setiap perkataan isterinya. 

“Kerja kerasmu itulah bentuk sayang yang paling nyata bagiku dan Sari,” sambung Ratna mencoba meyakinkan Darma bahwa tak ada yang perlu disesali dan tak harus menyalahkan siapapun.

Sejenak hening menyergap.

Ratna menatapnya lama, lalu berbisik pelan, “Tapi aku bahagia sekarang. Kita bisa bersama sepanjang hari,” Ratna menarik napas dalam. Matanya berkaca-kaca. Teramat bahagianya sampai dia ingin menangis detik ini juga. “Aku sudah lama menunggumu, Dar. Lama sekali.” 

“Ya. Maafkan aku, baru bisa menemuimu lagi,” Darma menatap Ratna dalam. “Aku tak bisa meninggalkan Sari. Aku harus memastikan bahwa dia bisa hidup dengan baik, layak, dan bahagia,” tegas Darma. 

“Aku mengerti,” timpal Ratna. “Dan kamu sudah berhasil sekarang,” Matanya beralih keluar jendela, memperhatikan sepasang kekasih yang asik bercengkrama di kolam ikan depan rumah.

Darma mengikuti arah pandang Ratna. Sedetik kemudian mereka saling pandang, melempar senyum bahagia. 

“Masuk yuk, udah mau gelap ini,” ajak Awan.

“Iya, Mas, Sari juga belum siapin apa-apa buat acara tujuh harian Bapak sekaligus seratus hariannya ibu besok.”

Tangan Awan terangkat merangkul pundak Sari. Mengelus pelan menyalurkan kekuatan. 

Mereka berjalan memasuki rumah. Sari, menyalakan lampu ruang tamu, lalu menutup jendela. Ia merasa tengkuknya ditiup lembut. Aroma teh melati menyeruak menyapa penciumannya. Dia teringat ayah dan ibunya. Mereka sering duduk berdua di ruang tamu ini. Menikmati senja ditemani teh melati kegemaran mereka. 

Mataram, 15 September 2025

oOo

TENTANG PENULIS: Hi, saya Fitra. Berasal dari pulau Sumbawa. Memiliki hobi membaca dan mendengarkan musik. Banyak membaca membuat saya tertarik untuk menulis, sebab itu saya sedang belajar menulis. Tapi, hobi mendengarkan musik tak membuat saya tertarik menjadi penyanyi. 

FIKSI MINI hadir setiap minggu mulai Juni 2025. Terbit hari Senin. Kita tahu, fiksi mini sedang trend. Silakan mengirimkan fiksi mini karyamu. Satu lokasi, satu waktu, ada plot twist saat endingnya. Antara 250-500 kata. Silakan kirim fiksi minimu ke gongtravelling@gmail.com, subjek: fiksimini. Sertakan bionarasimu 5 kalimat, foto dirimu, dan ilustrasi yang mendukung. Ada uang ganti pulsa alakadarnya Rp. 100.000,- dari SIP Publishing. Selamat menulis. Jika ingin melihat fiksi mini yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==