Puisi Minggu: Rubik Batin Karya Erika Az Zahra Nurcahyani

Kumpulan puisi ini adalah perjalanan menelusuri sisi-sisi jiwa yang retak—antara luka, kehilangan,
dan pencarian makna. Seperti rubik yang tak pernah selesai disusun, batin manusia terus berputar
mencari keseimbangan di tengah sunyi, sambil belajar menerima bahwa tak semua warna harus
sejalan untuk membentuk keutuhan.

Erika Az Zahra Nurcahyani

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
LUKA YANG TUMBUH

tidak sembuh,
ia mengakar di tulang belakang
layaknya doa yang gagal menemukan Tuhan.

setiap pagi, ku menggosok tubuh
dengan kenangan yang belum kering—
bekasnya harum seperti dupa
yang dibakar tanpa maksud.

aku duduk di sudut kasur
yang pernah kau pakai untuk diam,
dan sejak itu,
semua benda jadi perpanjangan kepergian:
gelas jadi lubang,
bantal jadi ilang,
pintu jadi mulut yang menolak bicara.

“kau kuat,” katanya,
padahal aku cuma tahu
cara mengubah tangis jadi kabut,
dan kabut jadi puisi
yang tak pernah selesai karena tintanya
darah dari malam yang gugur.

bahkan mereka pun tak sadar,
aku menyimpan altar kecil
di balik mulutku—
tempat aku sembahyang
kepada trauma yang berulang nama.

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
BELUM BOLEH PULANG

aku menunggu,
di peron-peron sepi tanpa kereta.
mengetuk nadi sendiri,
tapi penjaganya bilang:
“maaf, belum waktunya hilang.”

maka aku hidup lagi.
dengan tubuh yang sama,
tapi lebih sunyi.
dengan jiwa yang retak,
dan makin pandai bersembunyi.

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
BARANGKALI MEMANG BEGITU CARANYA

barangkali memang tidak diciptakan untuk dikenang.
tak akan terukir di puisi-puisi milik orang lain,
tidak pula dibisikkan dalam doa oleh mulut yang dulu mencium kening.

barangkali memang dilahirkan bukan untuk mengisi ruang,
melainkan menjadi ruang yang dilewati tanpa sadar
—seperti lorong gelap yang tak pernah dipasang lampu.

kini mulai paham,
tidak semua kehilangan harus diumumkan.
ada duka yang tak sempat dikemas dalam karangan bunga
atau kabar yang ditulis terburu-buru di grup keluarga.

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
TAK BISA DITINGGAL DAN DITINGGALI

hei,
kau ini kota apa penjara wisata?
aku tersesat di dadamu sejak usia sembilan,
waktu itu aku hanya ingin peluk,
tapi kau kasih sirine,
sejak itu aku tahu,
kau lebih suka teriak daripada ditinggali.

perutmu pasar malam yang mati lampu,
tapi tetap muter lagu dangdut,
terlalu keras untuk tenang,
terlalu murung untuk joget.

tulang rusukmu deretan rumah susun penuh surat tak dibaca,
penghuni terakhirnya
pernah doakan aku lekas pulang,
tapi lupa kasih alamat.

hei,
kau ini sumur apa sarkasme?
aku cemplungkan doa,
yang naik malah suara orang ketawa
dari dasar yang tak punya dasar.

kau tahu?
aku pernah coba jual dirimu
dengan harga mimpi dan satu nyawa,
tapi yang kutawari bilang:
“ini bukan rumah untuk dijual,
tunggu sampai gempa datang.”

oOo


Erika Az Zahra Nurcahyani
TIADA PENGHAPUS

Tuhan duduk di meja sunyi,
tinta koreksinya habis,
manusia masih menyalin dosa—
katanya: itu bagian dari kurikulum.

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
SURAT RESIGN

Yth.
Manajemen Semesta
(yang katanya penuh hikmah dan rencana),
Dengan ini saya, manusia bumi,
mengajukan pengunduran diri
dari jabatan sebagai makhluk berakal
yang kerap tersesat dalam pikirannya sendiri.

Saya sudah mencoba:
menjadi baik menurut buku,
menjadi kuat menurut dunia,
menjadi waras menurut statistik.

Tapi nyatanya:
yang jujur disisihkan,
yang peduli dibakar,
yang gelisah dijadikan konten motivasi.

Saya capek.

oOo

Erika Az Zahra Nurcahyani
CATATAN KAKI

Di tubuh puisiku yang pincang,
ada catatan kaki yang terus bertunas
setiap kali aku mengganti luka dengan koma.

Isinya bukan tafsir,
tapi alamat-alamat palsu
dari perasaan yang pernah kusurat tapi tak pernah kukirim.

Ia tinggal di kaki halaman,
bersila di antara debu-debu yang tak sempat kugumamkan:
“Barangkali hidup hanyalah pengantar isi,
tapi yang paling jujur justru sembunyi di pinggir kertasnya.”

oOo

TENTANG PENULIS: Erika Az Zahra Nurcahyani – seorang perantau yang menjahit langkah dengan kata. Mahasiswa . Bahasa dan Sastra Indonesia yang percaya bahwa setiap perjalanan adalah cerita yang menunggu dituliskan.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==