Mengantar Si Sulung Kerja di Beijing

Butiran salju sudah tidak turun ketika kutinggalkan hotel. Kedua kakiku masih menginjak sisa tumpukan salju yang lembut di trotoar. Tujuanku Wuzixueyuanlu Station. Aku berjanji ingin mengantar di Sulung bekerja. Aku ingin tahu kantornya.

Aku turun di exit A. Betapa kaget ketika melihat warga Beijing berjalan tergesa-gesa tapi tidak saling menyerobot. Semua sudah otomatisasi. Hal ini sudah terjadi di Jabodetabek.

Aku membeli tiket di mesin otomatis. Tapi ada seorang perempuan mengenakan rompi bertuliskan “volunteer” menyuruhku membeli tiket di loket. Rupanya dia kuatir aku salah karena cukup lama berdiri di depan mesin, meneliti nama-nama station yang rumit.

Natasha mengirimkan pesan, aku harus beli tiket ke Chaoyangmen, line 6. Dari sini sekitar 10 station.

Si sulung tiba dengan jaket parasut warna krem. Dia langsung berteriak, “Papah, kok, nggak pake jaket? Dingin tahu!”

Tadi lewat jendela hotel, aku lihat langit cerah dan berwarna biru. Itu sebab aku hanya memakai jaket army look. Aku coba menenangkan si sulung, bahwa ayahnya sudah terbiasa kedinginan di luar rumah.

Kami masuk ke Metro. Penuh sesak. Hal ini yang biasa terjadi dari para pencari rupiah di Jabodetabek. Aku memilih bekerja di RCTI dan ngekos di Kebon Jeruk agar terhindar dari tradisi pagi di KRL atau MRT yang berjubel.

Sekitar 40 menit, kereta berhenti di Chaoyangmen. Si Sulung berjalan di sebelahku. Aku raih bahunya. Kedua air mataku mulai memberontak.

“Teteh happy kerja di Beijing?”

“Happy…’

Kami berjalan beriringan sekitar 300 meter. Udara seperti muncul dari mesin pendingin. Aku mencoba memberikan wejangan tanpa mendikte. Kalau ibunya ada di sini, pasti bendungan di kedua matanya jebol. Saat menulis status ini saja kedua mataku basah.

“Pah, pake jaketku, ya.”

“Papah balik lagi ke hotel. Ambil jaket,” jawabku. Ketika kami sampai di Kunming 10 Januari lalu, di hotel sudah ada paket 3 jaket musim dingin dikirim Teteh dari Beijing.

“Tuh, kantor Teteh, Pah….’

Aku menatap gedung yang ditunjuk Teteh. Dia bekerja di lantai 8. Ada rasa bangga sekaligus membuat tubuhku bergetar.

“Kita sarapan dulu, Pah. Halal.”

Aku diajaknya sarapan di kedai-kedai yang berjejer di sebelah gedung kantornya .

Kami makan bakpao isi telur-sayur, bubur nasi-kacang ijo, dan susu kedelai. Semuanya 20 Yuan (sekitar Rp 60 ribu).

“Pah, pakai uang Papah, ya…”

Aku keluarkan 100 Yuan. Beberapa saat kami sarapan berdua di negeri tirai bambu, yang selalu dipandang  sebagai negeri tak beragama, jorok, semena-mena. Aku sudah mengunjungi Kunming, Chongqing, dan kini Beijing. Penilaian miring itu terbantahkan. Aku saksikan semuanya baik-baik saja. Sebagai kota modern, aku merasakan warganya sangat dimanusiakan.

“Pah, Teteh kerja dulu, ya,” tiba-tiba izin pamit itu mengagetkanku. Dia mencium punggung tanganku.

Aku memeluknya. Aku teringat masa kanak-kanak ketika di Teteh dan si Aa yang masih betah di Abu Dhabi, menjalankan tradisi ini sebelum berangkat ke sekolah.

“Nanti malam kan Teteh tidur di hotel. Udah booking dua kamar. Papah sama Odi, Teteh sama Azka.’

Ya, nanti malam kami berkumpul di hotel. Selasa pagi, 20 Januari , pukul 08:00, kami akan melanjutkan Literacy Journey ke Urumqy, Xinjiang, dan menyeberang ke Kazakhtan.

19 Januari 2026
Gol A Gong
Traveler, Author

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==