Oleh: Gelar Riksa Abdillah
Buku yang saya baca ini cukup saya tunggu tanggal terbitnya. Sehingga, tidak lama setelah gajian, saya pun langsung menyisihkan uang untuk membawanya pulang. Naar De Republiek Indonesia (NDRI) adalah karya Tan Malaka yang mungkin tidak sepopuler Madilog, tetapi amat krusial keberadaannya.
Tan Malaka sendiri, di antara founding father Indonesia mungkin masuk ke dalam kategori mythical. Sepak terjangnya layak menjadi suatu serial thriller. Ia selalu ada dalam pelarian, bekerja dari bawah tanah, bergerak di jalan revolusioner, dan bagian dari partai komunis internasional sebagai perwakilan Asia Tenggara dan Timur.

Dalam berbagai situasi semacam itu, ia terus produktif melahirkan karya-karya yang tidak hanya abadi, bahkan menjadi acuan pergerakan founding father yang lain pada masanya. Salah satunya adalah naskah NDRI ini.
NDRI sebetulnya telah beberapa kali dicetak ulang, namun edisi ini terasa spesial karena dua hal: Pertama, karena buku ini diterbitkan ulang setelah seratus tahun; Kedua, buku ini diberikan catatan kritis oleh Zen RS. Pemimpin redaksi media Narasi tersebut melakukan penelusuran ulang terhadap naskah ini, mengakurkan terjemahan dan edisi aslinya yang ditulis dalam bahasa Belanda, serta memberikan konteks sejarah, geopolitik, dan ekonomi dunia pada saat itu.
Jujur saja, NDRI yang saya baca pada saat saya kuliah, dengan edisi kritis ini terasa kental perbedaannya. Catatan kritis dari Zen RS memberikan suatu nuansa yang sama sekali berbeda pada beberapa bagian. Sesuatu yang luput dan tidak terperhatikan ketika saya membaca terbitan sebelumnya.

Sebagai contoh, ada bagian di mana Tan Malaka memprediksi akan terjadinya perang antara Jepang dan Amerika Serikat. Ketika dulu saya membaca bagian ini, saya tidak melihat ada sesuatu yang aneh. Namun, ketika saya membaca catatan kritisnya, saya jadi menyadari betapa tajamnya pisau analisis Tan Malaka. Ia menulis naskah ini pada medio 1920-an, artinya mungkin lebih dari satu dekade sebelum perangnya meletus. Arus informasi masih sangat terbatas pada saat itu, namun Tan Malaka berhasil membaca situasi zaman dan kondisi politik yang tengah berlangsung.
Hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak punya cara berpikir yang luas dan tidak memahami bagaimana membaca realitas dalam beberapa langkah ke depan. Zen RS membuat catatan kritis ini tidak hanya menjadi suatu pelengkap, tetapi menjadi suatu penjelasan yang memang sangat dibutuhkan. Dengan catatan kritis tersebut, pembaca bisa melihat sesuatu yang lebih dalam dan membawa pembaca ke dalam sudut pandang Tan Malaka pada masa tersebut.
Melihat NDRI Sebagai Kepingan Pemikiran
Buku ini menjelaskan bagaimana Tan Malaka membaca gejolak pergerakan politik secara global dan mengaitkannya kepada kondisi Indonesia. Tentunya, tidak lepas dari cara pandang dirinya yang merupakan bagian dari Partai Komunis.
NDRI bisa dibilang sebagai suatu cetak biru tentang republik dari Tan Malaka. Ia tidak hanya menuliskan suatu gagasan yang mengawang-awang. Ia sudah memiliki program kerja nyata, mulai dari sistem ekonomi, sistem politik, sistem pendidikan, hingga kemiliteran. Jika semua itu dibaca dalam konteks Indonesia saat ini, kita bahkan masih bisa melihat relevansi ide-ide tersebut.

Hanya saja, ada beberapa bagian yang menurut saya terlalu ekstrem. Hal ini mungkin juga karena saya bukanlah orang yang terlalu revolusioner. Tan Malaka berkali-kali menekankan bahwa cita-cita republik baru bisa terwujud jika rakyat ada di bawah naungan partai komunis. Alasan yang ia berikan sebetulnya berdasar dan konkret, seperti kaum buruh adalah umumnya kaum Indonesia, dan bagaimana kolonialisme akan sulit dihentikan jika tidak ada gerak revolusioner yang disiplin dan terkoordinir. Hanya saja, melihat itu sebagai satu-satunya jalan terasa sangat kaku.
Namun mungkin memang begitulah Tan Malaka, suatu karakter yang membuatnya abadi sekaligus menjadi martir atas ideologinya sendiri. Hal yang menarik lainnya adalah, NDRI ini tidak bisa dibaca hanya sebagai satu entitas sendiri. Zen RS menggaris bawahi terkait pentingnya membaca karya-karya Tan Malaka yang lain sebagai suatu kesinambungan. Aksi Massa, Gerpolek, Madilog, dan Dari Penjara ke Penjara perlu dibaca secara simultan untuk memahami semesta Tan Malaka.
Apa yang ditulis dalam NDRI memiliki nyawa yang sama dengan karya-karyanya yang lain. Semangat revolusioner, keberpihakan pada kaum buruh dan tani, serta keengganan berkompromi dengan kolonialisme dan borjuasi yang menghisap darah rakyat kecil.
Hari ini, Tan Malaka memiliki kepopuleran di antara kaum muda. Saya kira, jika NDRI edisi kritis ini dibaca dengan seksama, kita bisa melihat pentingnya kerja-kerja revolusioner yang kolektif terutama di saat semacam ini–perang dan trust issue publik kepada pemerintah. Tentunya dengan menyesuaikan media pergerakan dan arah zaman.

Judul buku: Naar De Republiek Indonesia (Edisi Kritis 100 Tahun)
Penulis: Tan Malaka
Penerjemah: Ongko D.
Penyusun Edisi Kritis: Zen RS.
Penerbit: LOCI
Tahun terbit: 2025
Jumlah halaman: 123
Genre: Non-Fiksi

RAK BUKU adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku


