Di Antara Buku dan Mimpi: Catatan di Museum Literasi Gol A Gong

Oleh Adam Choili Tegar Nugraha – Relawan Rumah Dunia

Sehabis merayakan ulang tahun Ayahku, aku langsung pergi ke Rumah Dunia. Motorku diengkol dan gas langsung kutekan untuk berangkat.

Setibanya di Rumah Dunia, aku langsung melihat relawan sudah berkumpul. Di sana ada Bang Roja, Bang Naufal, Bang Alfin, Kak Gina, dan Mas Gong di depan teras rumahnya. Kami akhirnya berbincang sebentar tentang kegiatan di Rumah Dunia sebelum memulai acara malam ini.

Setelah berbincang, Mas Gong mengajak kami masuk ke museum literasinya. Kami langsung masuk, dan aku melihat banyak pita kaset tersusun rapi di dekat pintu masuk. Mas Gong menjelaskan bahwa kita perlu musik untuk mencari inspirasi. Setelah itu, ada tangan palsu pemberian ayahnya yang menemani proses perjalanan Mas Gong dalam mengirimkan naskah ke Jakarta.

Di ruangan berikutnya, aku melihat banyak foto perjalanan yang dilakukan oleh Mas Gong dan relawan Rumah Dunia. Setelah melakukan perjalanan ke berbagai kota, relawan dilatih menulis sepulang dari perjalanan, yaitu menulis catatan perjalanan, dan karyanya dipajang di bawah foto-foto mereka. “Kita perlu pergi keluar untuk menemukan inspirasi,” kata Mas Gong.

Selanjutnya, kami memasuki ruangan yang juga dipenuhi buku. Namun, ada satu meja yang menarik perhatian. Di meja itu terkumpul semua karya relawan Rumah Dunia. Ada berbagai buku yang telah mereka buat, seperti cerpen, puisi, novel, dan lain-lain. Aku berpikir, apakah suatu saat jika aku memiliki buku, karyaku akan ikut terpajang di sini.

Mas Gong mengajak kami berkeliling lagi, seperti melihat buku karya istrinya. Bahkan, anak-anaknya juga dilatih menulis buku. Selanjutnya, kami pergi ke ruangan koleksi buku. Banyak buku tersimpan, dan di setiap rak terjejer nama-nama penulis terkenal. Mas Gong berkata bahwa ruangan itu adalah tempat koleksi buku-bukunya sejak muda.

Setelah selesai melihat-lihat, kami diizinkan untuk berfoto sebelum masuk ke inti acara malam ini. Kami pun berkumpul kembali untuk ditanya perasaan setelah keluar dari museum literasi.

“Oke, Adam, silakan dimulai dari kamu. Ceritakan perasaanmu ketika pertama kali masuk dan melihat museum ini,” kata Mas Gong.

Aku sempat berpikir dan merasa takjub ketika melihat karya dari orang-orang hebat. Aku pun menjawab, “Saya merasakan keterlambatan dan merasa sangat kurang ketika memasuki museum literasi ini,” ucapku setelah melihat dan mengagumi semua yang ada di dalamnya.

Mas Gong kemudian bercerita bahwa saat SMA, ia pernah berdoa kepada Allah. Kira-kira seperti ini ucapnya, “Ya Allah, sukseskanlah hamba menjadi penulis, maka akan kubukakan jalan bagi anak-anak yang ingin belajar menulis.” Ucapan itu membuatku semakin penasaran, bagaimana rasanya melalui semua proses hingga berada di titik sekarang.

Ia juga mengatakan bahwa diperlukan 6K, yaitu Komitmen, Kapasitas, Kompetensi, Konektivitas, Konsisten, dan Kontinuitas. Mendengar itu, aku pun berpikir dalam hati, apakah aku bisa menerapkannya. Setelah itu, kami satu per satu ditanya tentang perasaan pertama kali masuk ke Museum Literasi.

Menariknya, diskusi malam ini bukan berupa orasi, melainkan kami diajak berkeliling perpustakaan literasi milik Mas Gong. Bahkan, setiap relawan yang hadir ditanya satu per satu. Orasi pun dibatalkan, dan kami semua yang hadir malam itu diberikan tugas sebagai gantinya, yaitu membuat esai tentang pengalaman malam ini.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==