Oleh: Khairu Roja – Relawan Rumah Dunia
Pukul 04.30 pagi, suara ponsel yang berisik memecah keheningan kamar. Dengan mata yang masih berat, saya mencoba mendengarkan dengan saksama. Ternyata, suara itu berasal dari alarm yang sengaja saya siapkan untuk membangunkan tidurku lebih awal.
Di hari Minggu 3 Mei 2026 ini, udara pagi masih terasa dingin ketika saya bangun. Di luar, suasana masih sepi, hanya terdengar suara kendaraan sesekali melintas. Hari itu, kami para relawan sudah memiliki agenda sejak pagi, yaitu pusling (pustaka keliling).


Saat gerbang Rumah Dunia terbuka, Bang Rudi datang dari rumahnya. Tanpa banyak bicara, ia langsung membangunkan para relawan yang masih tidur. Kehadirannya menjadi penanda bahwa kegiatan hari itu segera dimulai.
Sebelum keberangkatan, kami packing-packing barang bawaan, seperti meja, air minum, buku tambahan, dan yang lainnya.
Setelah pukul 06.00, saya, Kiki, Adam, dan Bang Naufal bergegas menuju lokasi KP3B.


Kegiatan pusling hari ini berlangsung dengan penuh semangat karena menjadi pengalaman pertama bagi para relawan. Setibanya di kawasan KP3B, kami langsung mencari tempat untuk berteduh di bawah pohon-pohon besar. Banner-banner yang sudah tidak terpakai mulai kami buka satu per satu, menjadi langkah awal dari aktivitas pagi yang penuh kebersamaan dan semangat gotong royong.
Kemudian kami duduk santai sambil menunggu orang-orang yang ingin membaca buku. Adam bernyanyi sambil bermain gitar, Bang Naufal membaca buku sambil menikmati suasana sekitar, saya membaca dengan santai, dan Kiki juga ikut membaca sambil menikmati suasana pagi yang dipenuhi orang-orang berolahraga.

Di sana, saya melihat banyak pedagang berjejer dengan beragam jenis, mulai dari penjual nasi bakar, minyak wangi, dan lain-lain.
Saat saya dan Adam sedang berdiri di depan mobil pusling, tiba-tiba ada teteh-teteh bertanya kepada kami, “Ini komunitas yang sedang mengadakan kegiatan pusling, ya?”
“Iya, Teh, kami lagi pusling,” jawab Adam dengan senyum tipisnya.
Lalu ia bertanya kembali, “Nama komunitasnya apa? Kira-kira boleh kolab tidak? Tapi kami belum bisa memasang stand buku di sini. Soalnya tempat sudah penuh.”
Lalu Adam melirik ke arahku. “Rumah Dunia, Teh. Ya sudah, kolaborasinya berarti Minggu depan saja, ya.”
Sejak dari situ, si teteh meminta Instagram komunitas kami, dan ia ingin menjadi bagian dari komunitas kami, tetapi melalui kelas menulis Rumah Dunia Angkatan 43.

Menariknya, perjalanan ke KP3B ini memberikan banyak kisah yang saya pelajari, mulai dari berbagi bacaan, mendapatkan hal baru, dan lain-lain.
Saya senang sekali bisa mengikuti kegiatan pusling ini meski tidak digaji, karena ini merupakan bentuk pengabdian relawan terhadap Rumah Dunia.
Semoga pusling ini bisa menjadi kegiatan rutin bagi para relawan, karena yang biasanya tidur pagi tanpa kegiatan, kini harus rela ke parkiran demi menghidupi isi pikiran.



