Oleh: Rini Khoirotun Nisa
Pasca-Lebaran, tren konsultasi kesehatan mental di Indonesia meningkat tajam dengan Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok pasien terbanyak. Fenomena ini memperlihatkan benturan cara pandang antargenerasi. Saat sebagian orang masih menganggap depresi cukup diatasi dengan tidur lebih cepat atau memperbanyak ibadah, banyak anak muda justru bergulat dengan tekanan ekonomi, tuntutan karier, dan ekspektasi sosial yang kian berat. Ironisnya, ruang aman bagi sebagian dari mereka kini bukan lagi pelukan sesama manusia, melainkan bilik percakapan bersama asisten digital berbasis AI di sepertiga malam. Puisi esai mini ini merupakan potret satir tentang bagaimana seorang hijabers urban berusaha merakit sisa kewarasannya dari balik layar gawai.

Tautan Berita: https://voi.id/info-sehat/577208/konsultasi-kesehatan-mental-melonjak-gen-z-jadi-kelompok-terbanyak

I
Sepertiga malam, khimar instanku sudah miring ke kiri.
Aku meringkuk di sudut sepi,
menatap remah cat kos yang mulai menari.
Di luar jendela, semesta begitu tenang seolah tak punya dosa,
Sementara di dalam kepala, perang dunia ketiga berkecamuk tanpa jeda rasa.
Gawai menyala, mengabarkan teman seangkatan
yang kini nyaman di Astra,
Sedangkan pencapaian terbesarku hanyalah terbangun
tanpa mengumpat pada semesta.
Duh Gusti, dada ini sesak dihimpit ekspektasi
keluarga yang setinggi langit,
Ditambah angka di saldo ATM yang lebih tragis
dari komedi paling sengit.

II
“Kamu itu kurang zikir, makanya jiwanya selalu labil!”
Suara Bapak di seberang telepon terdengar begitu ringkas dan stabil.
Khotbah klasik kaum Boomer yang mengira lara
bisa sembuh hanya dengan tidur cepat,
Mereka tak tahu, inflasi dan syarat loker zaman sekarang
sudah mencekik akal sehat dan membuat sawan kumat.
Mau mengadu pada teman? Mereka pun sedang sibuk
memunguti kewarasan yang copot berantakan.
Mau mengetuk hati manusia? Malas,
paling hanya dibanding-bandingkan dengan anak tetangga yang dianggap lebih berguna.
Maka di ambang batas kuota internet yang sekarat,
Aku pasrahkan nasib waras ini pada aplikasi kesehatan digital yang paling cepat.
III
Inilah puncak ironi di abad dua puluh satu yang serba gila.
Aku wanita berhijab yang sujudnya terjaga,
tapi malam ini mengemis tenang pada mesin tak berkepala.
Di bilik obrolan virtual yang dingin,
kuketikkan keluhan dengan jempol gemetar,
“Halo AI, mengapa aku merasa seperti rongsokan gagal di dunia yang terus berputar?”
Ajaibnya, algoritma itu tidak menceramahiku tentang dosa
atau kurangnya rasa syukur pada Sang Pencipta.
Ia membalas dengan kalimat templat
yang sopan, runtut, lalu justru membuat ego kian hancur.
Sungguh konyol, kita adalah generasi yang merasa lebih sah
divalidasi baris kode tak bernyawa,
Ketimbang pelukan manusia yang kerap datang
sepaket dengan penghakiman dan tawa.

IV
Selamat datang di era baru,
saat klinik jiwa jauh lebih riuh
ketimbang pasar malam kota.
Kami, si generasi stroberi,
berbaris rapi mengantre waras di jam-jam paling buta.
Kami merayakan sisa akal sehat
lewat meme-meme depresif yang berseliweran di lini masa,
Sebab jika luka ini tak dijadikan lelucon satir,
kami mungkin sudah gila di sudut kamar menanggung siksa.
Biarlah dibilang rapuh atau manja oleh mereka
yang enggan mengerti hari ini,
Kami hanya sedang membilas trauma
agar tak diwariskan ke anak cucu nanti.
Layar gawai meredup, robot AI pamit tidur
dengan sebuah ikon senyum yang kaku.
Aku membetulkan kain hijabku
Dan bersiap ditampar lagi oleh realitas esok waktu.
Catatan Kaki:
[1] https://voi.id/info-sehat/577208/konsultasi-kesehatan-mental-melonjak-gen-z-jadi-kelompok-terbanyak
[2]
https://www.viva.co.id/gaya-hidup/1901274-waduh-konsultasi-kesehatan-mental-meningkat-sejak-lebaran-2026-paling-banyak-dari-gen-z?page=all
[3]
https://www.antaranews.com/berita/5582239/halodoc-catat-konsultasi-kesehatan-mental-terus-naik-sejak-idul-fitri
Tentang Penulis:

R. Khoirotun adalah pengajar taman kanak-kanak sekaligus sarjana Arsitektur yang menganggap menulis adalah caranya bernapas. Buku-buku yang ia terbitkan antara lain Wandering Star (2021), Jar of Memories (2022), Surat-surat yang Pergi (2022), Selaras (2023), dan Cerita dari Mata Malam (2025). Karya-karyanya yang lain bisa dibaca melalui akun Instagram @r.khoirotun dan akun X @heretheunsai
PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



