Puisi Esai Gen Z: Kepala yang Perlahan Kosong Karya Aditya Perdana Saputra

Temuan paling menarik dari studi terbaru mengenai fenomena brain rot bukanlah sekadar fakta bahwa scrolling media sosial berdampak buruk bagi kesehatan mental, melainkan urutan bagaimana kerusakan tersebut terjadi. Studi ini menemukan hubungan linier antara brain rot, kelelahan mental (burnout), dan depresi.

Istilah brain rot sendiri merupakan bahasa gaul internet yang menggambarkan perasaan seperti zombi atau mati rasa saat seseorang terjebak terlalu lama di depan ponsel. Berdasarkan laporan PsyPost, penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Universitas Karabük, Turki, mendefinisikan brain rot sebagai fenomena konsumsi pasif video pendek yang tak ada habisnya hingga menciptakan jenis kelelahan kognitif tertentu.

Tautan Berita:

  1. https://mediaindonesia.com/humaniora/918750/studi-baru-tunjukkan-brain-rot-picu-depresi-secara-mengejutkan
  2. https://ketik.com/opini/industri-brain-rot-dan-matinya-nalar-kritis-gen-z

Kepala yang Perlahan Kosong

I. Anak yang Jempolnya Lebih Rajin dari Matanya

Dulu ia bisa duduk sejam penuh membaca satu bab buku,
sekarang tiga detik saja rasanya terlalu lama
untuk satu video yang tak ia ingat isinya
begitu jarinya menggeser ke atas.

Ia tertawa pada lelucon
yang sudah lupa lucunya di mana,
mengangguk pada informasi yang menguap
sebelum sempat menetap di kepala.

Guru memanggil namanya di kelas,
dan ia butuh waktu lama sekali
hanya untuk kembali ke ruangan itu sendiri.

II. Sebelas Jam yang Tak Ia Sadari

Malam itu bukan malam yang direncanakan jadi berbeda.

Ponselnya menampilkan laporan mingguan,
angka yang membuatnya diam lama di depan cermin:
sebelas jam sehari,
lebih lama dari waktu tidurnya,
lebih lama dari waktu ia bicara
dengan siapa pun di rumah.

Ia tak ingat kapan terakhir kali
merasa benar-benar penuh
setelah melakukan sesuatu.

Yang ia ingat hanya rasa kosong
yang datang setiap kali layar mati sendiri
karena baterai habis.

III. Yang Bilang Itu Cuma Malas

“Anak sekarang gampang capek,”
kata orang-orang yang tak pernah menghitung
berapa ribu potongan dunia
yang masuk ke kepala dalam sehari.

“Kurang piknik itu,”
kata yang lain,
sambil tertawa kecil,
seolah kelelahan berpikir bisa selesai
dengan segelas es teh dan tempat baru.

Tak ada yang bertanya
sejak kapan ia berhenti
menyelesaikan satu pikiran penuh
tanpa tergoda membuka layar lagi.

Yang ada hanya penilaian yang datang cepat,
secepat video-video
yang membentuknya diam-diam.

IV. Yang Tersimpan di Balik Mata yang Kosong

Ia duduk di kelas,
di rumah,
di meja makan,
tapi separuh dirinya selalu ada di tempat lain,
di lini masa yang tak pernah benar-benar berhenti.

Ia ingin bilang,
“Aku capek, tapi bukan capek biasa,”
namun kalimat itu terasa terlalu rumit
untuk diketik jadi satu pesan singkat.

Sejak beberapa bulan itu,
ia menyimpan sesuatu
yang tak pernah diajarkan
di jam pelajaran mana pun:

bahwa kepala bisa terasa penuh
dan kosong sekaligus,
dan tak satu pun dari itu
terasa seperti dirinya sendiri.

V. Akhirnya

Suatu sore,
ibunya duduk di sampingnya,
tak membawa nasihat,
hanya bertanya,
“Kamu baik-baik saja, kan?”

Tapi bertanya
sambil matanya masih di layar sendiri,
lalu buru-buru berdiri
karena ada pesan penting
yang harus segera dibalas.

Ia mengangguk,
seperti biasa,
karena mengangguk lebih cepat
daripada menjelaskan sesuatu
yang bahkan ia sendiri
tak sepenuhnya paham
dari mana datangnya.

Ruang keluarga itu kembali sunyi,
diisi cahaya biru dari empat layar berbeda,
empat orang yang duduk berdekatan,
tapi tak satu pun benar-benar hadir
untuk yang lain.

Dan ia mulai bertanya,
diam-diam,
tanpa berani menjawab sendiri:

jika kelelahan ini tak terlihat di luar,
apakah artinya harus ditunggu
sampai benar-benar rusak
baru boleh dianggap sebagai luka?

Tentang Penulis

Aditya Perdana Saputra adalah guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang mengabdi di Lampung Barat, Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Pendidikan Indonesia pada 2023 dan Pendidikan Profesi Guru Prajabatan dari Universitas Pendidikan Indonesia pada 2024 di bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==