Oleh: Adam Choili
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten mengadakan kegiatan Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Lokal yang diikuti oleh peserta dari seluruh wilayah Provinsi Banten, mulai dari kalangan guru, mahasiswa, siswa SMA, hingga masyarakat umum. Acara ini dilaksanakan di Perpustakaan Provinsi Banten pada Senin (21/9/2026).
Acara dimulai pukul 08.00 WIB hingga 16.00 WIB dengan menghadirkan dua pemateri, yaitu Prof. Dr. Asep Muhyidin, M.Pd., dosen Untirta, dan Muhammad Ansyari Tantawi Nasution, Kepala Bidang Perpusnas Press.
Kegiatan langsung dimulai dengan kehadiran Asep Muhyidin yang menyemangati seluruh peserta bimtek. Ia mengatakan bahwa tulisan yang dibuat peserta nantinya akan disebarkan sekaligus memperkenalkan berbagai macam budaya, mulai dari kuliner, adat tradisional, seni, dan lain sebagainya.
Tidak hanya memberikan semangat, Asep juga membagikan pengalamannya dalam menulis esai populer, seperti jumlah kata dalam setiap struktur penulisan, mulai dari pendahuluan, isi, hingga penutup.
Asep Muhyidin juga menerangkan pentingnya observasi, wawancara, dan dokumentasi karena metode yang dianjurkan adalah kualitatif.
Asep Muhyidin pun menutup penyampaian materinya dengan sebuah ungkapan:
“Verba volant, scripta manent. Suara akan hilang, namun tulisan akan abadi.”
Setelah Asep meninggalkan ruangan, peserta kembali menerima materi dari Kepala Bidang Perpusnas Press, Muhammad Ansyari Tantawi Nasution.
Ansyari menyampaikan tentang gaya penulisan yang digunakan oleh Perpusnas serta aturan penulisan yang diterapkan. Dalam penulisan, Perpusnas menggunakan kaidah EYD dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Salah satu yang dibahas adalah penggunaan kutipan. Menurut Ansyari, kutipan sebaiknya diparafrase terlebih dahulu. Kutipan langsung tetap dapat digunakan, tetapi disarankan tidak melebihi empat baris karena dapat menghabiskan ruang untuk pengembangan ide tulisan. Namun, hal tersebut berbeda apabila kutipan langsung merupakan bagian utama atau isi penting dari tulisan.
Ia juga menyampaikan pentingnya membuat tulisan sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada AI.
“AI boleh digunakan sebagai bahan diskusi. Jangan kita meminta semuanya dikerjakan oleh AI, mulai dari ide, isi, hingga gaya tulisan,” ujar Ansyari.
Ansyari juga menyampaikan bahwa tujuan para peserta mengikuti kegiatan ini adalah belajar sehingga menghasilkan tulisan yang masih kurang baik bukanlah sebuah masalah. Hal yang terpenting, tulisan tersebut merupakan hasil karya peserta sendiri.

Tidak hanya itu, ia juga mengajarkan peserta menggunakan benteng 3T untuk melindungi diri dari plagiarisme.
Teliti sumbernya, cari sumber secara lengkap, mulai dari judul, penulis, dan informasi lainnya.
Terapkan parafrase, baca sumber asli dan pahami maknanya terlebih dahulu.
Takutkan situasi, cantumkan sumber yang dapat dipercaya walaupun informasi tersebut sudah diparafrase.
Dalam sesi akhir, Ansyari menyampaikan sebuah pesan sederhana yang mungkin akan diingat oleh peserta sekaligus menutup kegiatan Bimtek Kepenulisan hari kedua.
“Seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan wajib menulis sebagai tanggung jawab moral,” ujar Ansyari.


