Pada Jumat, 11 September 2026, kasus dugaan korupsi dan pemerasan dalam penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto kembali menjadi sorotan. KPK mengungkapkan keterlibatan sejumlah pihak, termasuk oknum kampus dan seorang guru SMA Tasikmalaya yang diduga menjadi pengepul calon mahasiswa. Kasus ini mencoreng nilai kejujuran dan keadilan dalam dunia pendidikan.


I.
Di bawah naungan nama besar sang pahlawan berjasa,
terhampar luas lautan ilmu yang sangat megah.
Di sana tempat puluhan ribu benih-benih emas ditanam,
tentang masa depan, cita-cita, dan mimpi-mimpi yang cerah.
Para pemuda-pemudi datang membawa gelas kosong yang ingin diisi,
antrean sangat panjang dengan segudang harapan.
Namun, di balik tembok akademis yang tampak suci,
ada suara bisikan kotor yang dikubur dan dijaga.
Jalur mandiri yang seharusnya menjadi ajang kompetisi adil,
kini berubah menjadi ladang bisnis bagi para tikus berdasi.

II.
Di Kota Satria, cerita kelam ini bermula,
saat integritas harga diri luntur lebur oleh godaan angka.
Sang pemimpin yang dulu berwibawa,
kini ia menundukkan kepala dengan keringat dingin di wajahnya,
terbalut rompi oranye saat melangkah,
hilang sudah harga dirinya.
Tikus itu tak sendiri, ia bersama kawan-kawannya,
kehilangan kehormatan yang selama ini dijaga dengan lurus.
Ruang-ruang dingin itu kini berubah menjadi arang-arang yang membara,
dokumen dan barang bukti elektronik disita tanpa sisa.
Gedung tinggi bercahaya yang dulunya dibanggakan,
kini menjadi saksi bisu transaksi kejahatan.

III.
Namun, luka yang paling tak terduga dalam kisah ini
bukan sekadar tikus besar yang lupa pada sumpah jabatan.
Ada seekor tikus kecil menyelinap dari Kota Tasikmalaya,
sosok yang seharusnya menjadi lilin di tengah kegelapan,
malah berperan sebagai tikus yang merusak kebun pertanian.
Ia sembunyi dan berpindah-pindah dari para orang tua yang gelisah,
menumpuk lembaran-lembaran alat tukar demi janji manis,
menjanjikan selembar kertas kelulusan dengan cara yang nista.
IV.
Ratusan juta rupiah mengalir deras dari kantong seseorang yang memiliki harapan.
Malangnya, keadaan buah hati kesayangan tidak sesuai dengan harapan.
Uang senilai ratusan juta diserahkan tanpa rasa ragu,
namun janji manis itu mendadak lebur menjadi debu.
Sang buah hati tetap gagal menembus nama di pengumuman resmi,
dan uang yang telah diserahkan tak bisa kembali begitu saja.
Dana itu dipakai untuk membangun proyek-proyek,
demi menutupi jejak kotoran kejahatan yang perlahan mengakar.
Akar korupsi ini merayap jauh ke sebuah daerah,
bahkan ruangan Sekda Banyumas pun tak luput dari penggeledahan.
V.
Di mana lagi tempat kejujuran yang harus kita titipkan,
jika di meja sekolah dan bangku kuliah uang yang menentukan?
Seorang guru yang mestinya menjadi teladan penerang jalan,
kini justru melangkah dalam kegelapan perdagangan impian.
Dunia pendidikan kita kembali merana dalam cengkeraman,
ketika marwah akademis hancur lebur oleh keserakahan.
Langkah-langkah kecil anak bangsa kini tertatih dalam ragu,
menyaksikan keadilan yang dapat dibeli dengan lembaran kertas.
VI.
Di luar sana masih banyak mata yang menunggu keadilan,
anak-anak yang belajar dengan keringat dan kesungguhan.
Mereka percaya bahwa ilmu bukanlah barang dagangan,
dan bangku pendidikan bukan milik mereka yang punya kekuasaan.
Sementara orang tua menabung sedikit demi sedikit,
demi melihat anaknya mengenakan almamater kebanggaan.
Tak pernah mereka bayangkan harapan yang dirawat bertahun-tahun
harus berhadapan dengan angka-angka yang menentukan jalan.
Semoga dari kisah yang pahit ini tumbuh keberanian
untuk membersihkan ruang-ruang yang telah ternoda.
Sebab pendidikan seharusnya membuka pintu masa depan,
bukan menjadi pintu yang hanya terbuka bagi mereka yang mampu membayar.
CATATAN KAKI
I. Kasus korupsi dan pemerasan ini terjadi di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, terkait proses penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri.
II. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Rektor Unsoed Akhmad Sodiq bersama lima orang tersangka lainnya, termasuk Wakil Rektor III Norman Arie Prayogo serta pihak swasta.
III. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengonfirmasi penggeledahan rumah seorang oknum guru SMA di Tasikmalaya yang berperan sebagai koordinator pengepul calon mahasiswa baru Unsoed.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:



