Tulisan kali ini akan menjelaskan pendapat atau tanggapan dari Yadi Ahyadi, S. Ag, salah satu budayawan Banten atau pemerhati sejarah yang kerap disapa Abah Yadi, terkait perlombaan 17 Agustus, seperti lomba makan kerupuk, panjaat pinang dan tarik tambang. Dari mana sesungguhnya sejarah awal perlombaan-perlombaan tersebut, sehingga perlombaan ini sering dimainkan dan kita kenal sekarang.

Abah Yadi mengatakan, lomba balap karung dan makan kerupuk biasa dilakukan di masyarakat di tingkat kampung-kampung. “Kalau balap karung, mungkin karena dulu ada permainannya. Lomba balap karung itu jadi orang masuk karung lalu diikat setengah dada pake karung goni, kemudian lompat, lari sekuat mungkin. Karena lomba balap karung itu semi militer dari permainan tradisional yang biasa dilakukan oleh orang-orang di masa kolonial. Dan itu biasa dimainkan oleh anak-anak,” kata Abah Yadi kepada wartawan, Rabu (17/8/2022).

Ia melanjutkan, untuk lomba makan kerupuk, kecapatan makan kerupuk dan segala macamnya ini mungkin hanya eforia masyarakat untuk bersenang-senang, untuk mendapatkan hiburan.

“Karena kerupuk itu hampir setiap kampung punya. Bukan kerupuk dapat beli. Tapi dibuat sendiri. Dulu, yang biasa untuk lomba itu selalu dibuat sendiri yang bahan bakunya dari singkong dan kerasnya minta ampun. Kalau kerupuk yang sekarang kan enggak keras dan enak dimakan. Dulu kerupuk dangder (singkong-red). Jadi lumayan cukup keras. Kalau ditanya apakah itu lomba dari warisan kolonial? Tidak banyak dokumen yang menceritakan tentang balap karung dan lomba makan kerupuk,” papar Abah Yadi yang aktif di Bantenologi UIN Banten ini.

Tim Ahli di LAPIK 94 (Lembaga Pelestarian Kebudayaan) ini menjelaskan, untuk panjat pinang merupakan warisan kolonial. Jadi bagaimana caranya pejabat pribumi dan pejabat kolonial ingin bersenang-senang memberikan upah dan hadiah kepada masyarakat pribumi. Siapa yang ingin mendapatkan makanan atau yang lain, sehingga dibuatlah semacam lomba dengan memanjat buah pinang yang lumayan tinggi sekitar 3-4 meter.
“Sebenarnya sangat berbahaya di panjat pinang itu. Banyak juga yang jatuh dan hadiahnya ga seberapa, tapi karena untuk kebutuhan masyarakat yang tidak mampu, mereka rela berkorban untuk mendapatkan sesuatu dalam panjat pinang,” jelas pria kelahiran Serang, 04 Juni 1977 ini.

Sedangkan untuk lomba tarik tambang, Abah Yadi menambahkan, lomba ini masuk kategori olahraga tradisional. Tarik tambang dulu biasanya ada di masyarakat nelayan, karena untuk menarik jaring ikan perlu dengan kekuatan tenaga ekstra. “Sehingga kemudian dilombakan. Dan tarik tambang itu menjadi salah satu lomba yang sekarang sudah ke tingkat nasional, di berbagai negara juga sudah melakukan perlombaan tarik tambang. Mungkin ini juga berawal dari kolonial untuk mendapatkan orang-orang kuat sehingga dibuatlah perlombaan tarik tambang. Dulu tambang yang digunakan tambang kapal. Kalau sekarang kan tambang nilon yang ukuran nomor satu. Ketika ditarik mulur. Kalau dulu pakai tambang kapal, walaupun ditarik sekuat apapun, itu enggak mulur tambangnya,” jelasnya.

Saat ditanya apakah Abah Yadi pernah mengikuti lomba pada acara 17 Agustusan? Ia mengaku pernah ikut ketika SD dulu. Di tingkat kecamatan, Abah Yadi pernah mengikuti perlombaannya cerdas cermat dan Senam Kesehatan Jasmani (SKJ).

Lantas apa yang harus dilakukan oleh anak muda terkait Indonesia Merdeka? Menurut Abah Yadi, Kemerdekaan adalah mengisi bagaimana caranya perjuangan orang-orang terdahulu jangan sampai dilupakan. Karena mereka berjuang bukan hanya dengan pikiran, tenaga, dan harta saja, tapi juga dengan nyawa.

“Kalau hari ini hampir semuanya berjuang hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya. Tidak berjuang untuk lingkungan, bangsa dan tanah air. Jadi hampir sebagian orang yang mengaku berjuang, tapi berjuang hanya untuk lingkungannya sendiri, berjuang untuk pribadi dan kelompoknya. Mudah-mudahan pada peringatan HUT ke-77 RI ini, masyarakat khususnya generasi muda bisa berjuang betul-betul untuk bangsa dan negara. Dan mengabaikan kepentingan pribadi,” papar Abah Yadi yang pernah menjadi Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Banten 2015-2018 ini.


Hari ini, lanjut Abah Yadi untuk membangkitkan dan menanamkan nilai-nilai Patriotisme terkait dengan perlombaan, harusnya lomba kreatifitas di generasi milenial, bukan hanya sekadar lomba atau eforia biasa. Biarkan itu ada di tingkat masyarakat saja. “Tapi di tingkat pemerintahan, birokrat atau di kalangan akademis, harusnya mulai bikin misalnya membuat film dokumenter terkait dengan Patriotisme, tokoh-tokoh perjuangan atau mengangkat tempat-tempat dulu yang pernah dijadikan sebagai tempat atau pusat perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Sebagai pembelajaran untuk masyarakat kita supaya mengenal perjuangan orang-orang terdahulu, sehingga kita tahu para pejuang dulu betul-betul memperjuangkan kemerdekaan dengan susah payah. Dengan mengorbankan seluruh jiwa raga dan harta, termasuk juga keluarga,” pungkasnya. *



