Slogan ini dimaksudkan untuk menarik perhatian seluruh dunia terhadap peristiwa Genosida yang dilancarkan Israel dan agar masyarakat dunia turut serta memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di Gaza, Palestina dengan setidaknya menyebarkan berita betapa ganas dan keji zionisme Israel.

Rick menyebut slogan “All Eyes on Rafah” setelah Perdana Menteri Israel, Netanyahu, memerintahkan evakuasi Rafah karena Perdana Menteri Israel menganggap Rafah adalah tempat kuatnya tentara Hamas. padahal saat itu hanya Rafah yang menjadi “sisa” pengungsian teraman bagi warga Gaza, Palestina. Dari genosida ini, sedikitnya 50 lebih korban meninggal dunia, termasuk warga sipil bahkan anak-anak, serta ratusan orang mengalami luka-luka. Para pemimpin dunia harus mengambil langkah-langkah efektif untuk menghentikan genosida brutal ini dan mengakui Palestina sebagai negara merdeka.
Mari kita mengenal sedikit tentang etika berperang yang diajarkan Nabi Muhammad SAW pada masa perang Qainuqa. Perang ini terjadi karena adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Piagam Madinah yang telah disepakati dengan Umat Muslim.

Dalam kitab Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri disebutkan bahwa, pada masa awal Rasulullah membangun masyarakat baru di Madinah, beliau mempersatukan seluruh lapisan masyarakat, tidak ada yang merasakan adanya super power antara satu golongan dengan golongan yang lain. Misalnya menyatukan kembali persaudaraan suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya selalu bertengkar karena masing-masing suku merasa paling kuat diantara suku lainnya.
Beliau juga membangun tatanan sosial masyarakat dengan membuat perjanjian yang dikenal dengan “Piagam Madinah”. Piagam ini bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu fanatisme Jahiliyah dan Kabilah, serta tidak memberikan peluang bagi tradisi Jahiliyah. Perjanjian ini berlaku bagi siapa saja, baik umat Islam yang berasal dari Mekkah maupun Madinah, serta siapa pun yang mengikutinya, sekalipun orang tersebut bukan Islam.

Perjanjian ini dilaksanakan dengan baik oleh umat Islam. Namun yang dilakukan orang-orang Yahudi berbeda, dan sudah menjadi sifat mereka untuk melanggar perjanjian. Mereka suka membuat kerusuhan di Madinah, khususnya terhadap umat Islam. Mereka juga tidak senang dengan perdamaian antara suku Aus dan Khazraj.
Setelah kaum Yahudi Bani Qainuqa mengetahui kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar yang memperkokoh persatuan umat Islam, rasa kebencian mereka semakin besar, mereka semakin berani menunjukkan permusuhan dan melanggar perjanjian yang telah disepakati. mengolok-olok mereka dan bahkan berani melecehkan wanita Muslim di tengah pasar.

Dalam Sirah Nabawiyah disebutkan sebuah riwayat dari Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Setelah Rasulullah SAW memperoleh kemenangan atas Quraisy pada perang Badar dan kembali ke Madinah, beliau mengumpulkan mereka di pasar Bani Qainuqa. Beliau bersabda, “Wahai semua orang-orang Yahudi, masuklah Islam mumpung kalian belum mengalami seperti yang dialami Quraisy”.
Mereka menjawab, “Hai Muhammad, janganlah engkau terpedaya oleh dirimu sendiri, karena engkau telah berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu cara berperang. Andaikan saja engkau berperang dengan kami, tentu engkau akan tau bahwa kamilah orangnya. Engkau tentu belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti kami”. Jawaban ini sudah jelas untuk memprovokasi Umat Islam untuk berperang. Namun, Rasulullah serta orang-orang Muslim mampu menahan amarah. Mereka masih menunggu apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya.

Puncak kemarahan umat Islam adalah ketika orang-orang Yahudi melecehkan seorang perempuan Muslim di pasar. Awalnya mereka hanya mencoba membuka cadar wanita tersebut. Karena upaya tersebut gagal, salah satu dari mereka mengikat ujung pakaian wanita tersebut dan ketika wanita tersebut ingin segera meninggalkan tempat tersebut karena merasa terganggu, maka aurat wanita tersebut pun terbongkar. Mereka tertawa bangga ketika melihatnya, seorang pria muslim yang melihat kejadian itu langsung membunuh salah satu orang Yahudi. Orang-orang Yahudi lainnya mengikat pria itu dan membunuhnya.
Kabar ini sampai ke telinga Nabi dan langsung mendeklarasikan genderang perang. Awalnya pasukan Islam mengepung benteng Bani Qunainuqa selama kurang lebih 15 hari. Pada akhirnya kaum Yahudi Bani Qainuqa tidak bisa berbuat apa-apa, dan ketika Rasulullah ingin menyerang mereka, muncullah sosok munafik bernama Abdullah bin Ubay yang meminta agar umat tersebut tidak dirugikan dengan alasan takut akan terjadi bencana atau bencana. Perseteruan berkepanjangan akan muncul di masa depan.

Akhirnya Nabi menyetujui syarat agar kaum Yahudi Bani Qainuqa meninggalkan Madinah sejauh mungkin. Karena ini perang, maka dari perang tersebut kaum muslimin mendapat rampasan perang.
Dari kisah di atas kita bisa melihat betapa kontradiktifnya etika perang Israel dengan perang Bani Qainuqa. Israel membabi buta menyerang Gaza, Palestina. Menyerang tanpa pandang bulu siapa yang mereka serang, tidak peduli apakah itu tentara atau warga sipil atau bahkan perempuan dan anak-anak. Hilanglah etika mereka dalam berperang, padahal seorang prajurit harusnya mengetahui aturan perang. Mereka seperti lupa bahwa Palestina lah yang menolong mereka ketika di perang dunia kedua mereka kalah bahkan diasingkan dan tidak ada negara yang menolong mereka kecuali Palestina.

Penulis berpendapat bahwa cara terbaik untuk melawan genosida ini adalah dengan memboikot produk-produk Israel atau produk-produk yang berafiliasi dengan mereka, karena dengan begitu mereka tidak lagi mendapatkan uang untuk membeli amunisi senjata. Selain itu, para pemimpin dunia harus mengambil sikap tegas terhadap konflik ini dan mendidik masyarakatnya untuk tidak lagi menggunakan produk Israel dan berhenti memasarkan produk tersebut atau yang berafiliasi dengannya yang dapat memberikan efek jera terhadap Israel.
) *Abu Yazid Bustami, Mahasiswa Semester enam prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Sekolah Tinggi Ilmu al-Qur’an (STIQ) Baitul Qur’an Depok.



😍😍