Jika ke luar negeri, yang dekat saja, Singapura dan Malaysia. Antara pemerintah (Dinas Pariwisata) dan masyarakatnya sudah kolaboratif (pentahelix) berjalan maksimal. Setiap sudut dipoles. Industri kreatifnya berfungsi. Sense of art terasa sekali. Saya betah jalan kaki keliling kota, karena kotanya biat bener didandani. Saya tidak merasa diintimidasi justru terhibur.

Sekarang saya mau bicara kampungku, ya. Kota Serang, Banten, Juga Cilegon, Pandeglang, dan Lebak. Saya suka heran, kenapa ya warga di Kota Serang tidak memiliki keinginan untuk mempercantik lingkungannya? Taman Sari, Gang Rendah, Kaujon, Cimuncang, Pegantungan, itu bisa jadi wisata kota tua. Tapi yang terjadi kumuh. Tidak teratur. Semua membangun tempat usaha seenak udel dan instansi terkait membiarkan. Kalau kita ke Pasar Rawu – pasar induk terbesar di Banten, sungguh tidak layak.

Cilegon juga. Kalau kita jalan-jalan menyusuri Jalan Lingkar Selatan, masya Allah, bukit-bukit dikeruk. Kota penuh debu. Pembangunan infra struktur okelah, tapi lingkungan harus dijaga juga. Kalau hujan, banjir merajalela. Dua puluh lima tahun ke depan, kalau lingkungan tetap dirusak, bencana nasional akan terjadi di Cilegon.

Apalagi kalau bicara soal sampah. Dulu kota ini bau sampah, karena sampah dari Kota Tangerang Selatan dibuang di Kota Serang, tentu transaksional. Silakan berjalan-jalan menyusuri Banten, sampah di pinggir jalan, di sungai, sungguh tidak sedap dipandang mata.

Di Kota Serang, kampung saya itu, potensi jadi kota cantik sebetulnya ada. Wahyu Nurjamil (Kadis Perindag Kota Serang) sedang berusaha mempercantik Pasar Lama yang kumuh. City tour yang tidak pernah dibidik mulai disentuh Wahyu. Kulinernya mulai dipompa. Tapi, sanggupkah dia ketika dinas yang terkait adem-ayem saja?

Pelaku kreatif seperti Fekraf (Forum Ekonomi Kreatif) yang digawangi Andi Suhud harus jadi teman Wahyu. Pejabat seperti Wahyu yang peduli pada industri kreatif, belum pernah ada. Dari provinsi juga, arahnya ke promosi terus, seremonial terus, tanpa mempercantik infrastrukturnya.

Kita tunggu saja nanti karya Wahyu Nurjamil, apakah Pasar Lama berhasil disulap jadi wisata kuliner yang mashur.
Gol A Gong



