Oleh: Naufal Nabilludin
Ketika pertama kali membaca buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, saya merasa seperti membuka pintu menuju dunia baru. Dunia yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Novel Dunia Sophie adalah perjalanan filsafat yang dibuat ringan dan penuh rasa ingin tahu. Saat itu, saya membacanya ketika kelas 2 SMA.
Salah satu bagian yang paling membekas dan masih saya ingat sampai sekarang (Mahasiswa Semester 7) adalah ketika Sophie belajar tentang Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan konsepnya tentang “dialektika.” Saat itu, butuh beberapa kali pengulangan untuk saya memahami Dialektika Hegel yang terdengar rumit dan membingungkan.
Tapi ketika menjadi mahasiswa, konsep itu saya pakai untuk berdiskusi dan mencari jawaban yang mendekati kebenaran.

Dalam buku Dunia Sophie, Hegel diperkenalkan melalui sebuah analogi yang cukup membumi: “Dunia ini ibarat sungai yang terus mengalir. Tidak ada satu pun yang statis, segala sesuatu selalu berubah.” Bagi Hegel, realitas itu dinamis, dan sejarah manusia adalah kisah tentang perubahan yang terjadi melalui konflik dan sintesis.
Dialektika Hegel
Ia mengembangkan konsep yang disebut dialektika, sebuah proses berpikir di mana ide-ide saling bertabrakan, berkonflik, dan akhirnya melahirkan sesuatu yang baru.
Mari kita sederhanakan. Dialektika Hegel bisa dirangkum menjadi tiga tahap:
- Tesis: Ini adalah gagasan awal, pandangan pertama terhadap sesuatu.
- Antitesis: Sebuah ide yang menentang atau berkonflik dengan tesis.
- Sintesis: Hasil dari konflik tersebut – sebuah pandangan baru yang menggabungkan dan melampaui tesis serta antitesis.
Jika konsep ini terasa abstrak, mari kita ambil contoh sehari-hari, seperti di Dunia Sophie. Bayangkan Sophie sedang belajar tentang perbedaan antara idealisme (segala sesuatu berasal dari pikiran atau gagasan) dan materialisme (segala sesuatu berasal dari dunia fisik). Idealisme adalah tesis, sementara materialisme adalah antitesis. Keduanya tampak saling bertentangan, tetapi dari perdebatan ini muncul sintesis: gagasan bahwa pikiran dan dunia fisik saling memengaruhi, membentuk realitas bersama.
Kalau masih bingung, saya contohkan yang lebih ringan. Misalnya, perdebatan media sosial dalam proses berpikir anak-anak.
Tesis: Media Sosial Menghambat Proses Berpikir Anak
Ada pandangan yang mengatakan bahwa media sosial menghambat kemampuan berpikir anak. Dengan banjirnya informasi yang datang dalam bentuk potongan singkat, seperti video 15 detik di TikTok, anak-anak cenderung kehilangan kemampuan untuk mendalami informasi.
Antitesis: Media Sosial Meningkatkan Kreativitas dan Kemampuan Berpikir Anak
Sebaliknya, ada pandangan yang bertentangan: media sosial tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membuka pintu bagi anak-anak untuk belajar cara berpikir kreatif. Anak-anak sekarang bisa mengakses ide-ide baru, mengikuti kursus gratis, atau bahkan membuat konten mereka sendiri.
Sintesis: Media Sosial adalah Alat yang Harus Dikelola dengan Bijak
Dari konflik antara tesis dan antitesis ini, kita bisa melihat bahwa media sosial bukanlah penyebab tunggal hambatan berpikir anak, tetapi lebih pada cara penggunaannya. Jika dibiarkan tanpa panduan, media sosial memang dapat menumpulkan kemampuan berpikir mendalam. Namun, jika digunakan secara bijak seperti, membatasi waktu layar, mengajarkan literasi digital, dan mendorong anak untuk mencari informasi dari berbagai sumber, media sosial bisa menjadi alat yang memperkaya proses berpikir.
Hegel percaya bahwa segala sesuatu, dari cara kita berpikir hingga sejarah peradaban berkembang melalui proses seperti ini. Dia memandang sejarah bukan sebagai kumpulan peristiwa acak, melainkan sebagai perjalanan panjang menuju sesuatu yang lebih besar. Setiap konflik, setiap kontradiksi dalam sejarah, pada akhirnya menghasilkan kemajuan.
Hegel mengajarkan bahwa konflik bukanlah sesuatu yang harus kita hindari. Sebaliknya, konflik adalah bagian alami dari perkembangan. Dalam konflik, kita tumbuh. Dalam kontradiksi, kita menemukan kebenaran baru.


