Belajar Membatik di Kampung Batik Kauman Kota Solo

Oleh Natasha Harris

Aku ini Gen Z. Lagi traveling ke kampung halaman mamahku. Kota Solo dan batik adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sebagai pusat kota batik ikonik, Solo menawarkan pengalaman istimewa untuk mengenal lebih dalam seni warisan budaya ini.

Sejak awal perjalanan, aku sebagai Gen Z sudah bertekad untuk mencoba langsung pengalaman belajar membatik, dan kesempatan itu akhirnya terwujud di Batik Gunawan Setiawan. Salah satu tempat terbaik di Kota Solo untuk merasakan proses pembuatan batik tulis secara tradisional.

Aku dikenalkan oleh om-ku yang asli solo pada Batik Gunawan Setiawan, yang terletak di Kampung Batik Kauman, Jalan Cakra No. 21. Pada tanggal 13 Januari, sekitar pukul 11.00 pagi, tanpa banyak berpikir, aku langsung memutuskan untuk mencobanya.

Di Batik Gunawan Setiawan, aku berkesempatan belajar membuat batik tulis dengan biaya 55k. Batik tulis adalah jenis batik yang dibuat secara manual menggunakan tangan dengan bantuan alat canting untuk mengaplikasikan malam ke kain. Pola dilukiskan secara manual pada kain, sehingga pembuatan batik ini membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Karena prosesnya manual, motif yang dihasilkan pun tidak pernah bisa sama persis antara satu kain dengan kain lainnya.

Aku sendiri memutuskan untuk menggunakan pola yang disediakan di tempat itu. Setelah memilih pola, tantangan dimulai saat melukis pola menggunakan canting, alat tradisional berbentuk seperti pena kecil yang digunakan untuk mengaplikasikan malam cair ke kain. Malam sendiri adalah tinta batik yang terbuat dari campuran parafin, getah pinus, dan lemak hewan. Malam di sini berfungsi untuk menahan warna pada kain saat proses pewarnaan.

Selama proses membatik, aku bertemu dengan Ka Octa, seorang solo traveler asal Jakarta yang kebetulan juga sedang berkunjung ke Solo. Kami berkenalan dan langsung akrab lalu dengan senang belajar membatik bersama.

Oh ya, menggunakan canting ternyata sangatlah susah lho, sungguh membutuhkan kestabilan tangan. Beberapa garis yang aku buat tidak rapi karena tangan aku cenderung bergetar. Kemudian jika ada garis malam yang kurang tebal, budhe-budhe di lokasi akan membantuku dalam menambalkan kembali garis malam melalui bagian belakang kain.

Setelah pola dilukis dengan malam, tahap berikutnya adalah pewarnaan. Cat air tersedia 4 warna untuk mewarnai bagian kain yang tidak tertutup malam. Ini adalah bagian yang paling menyenangkan dan mudah. Setelah pewarnaan selesai, kain dibiarkan kering lalu direbus dalam air panas untuk melelehkan malam (nglarod), lalu dibilas dengan air dingin untuk membersihkan sisa malam yang kemudian dijemur hingga kering.

Pengalaman belajar membatik ini benar-benar membuka mataku tentang betapa rumit dan indahnya proses pembuatan batik tulis. Setiap garis dicanting dengan penuh dengan ketelatenan, yang akhirnya menciptakan karya seni yang tak ternilai. Menghabiskan waktu di Batik Gunawan Setiawan bukan hanya memperkaya perjalananku kali ini, tetapi juga semakin mendalamkan rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia. (*)

*) Natasha Harris, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Korea, UPI Bandung

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==