Oleh: Sahrul Muhamad Azmi
Pada hari Senin, 10 November 2025 tahun kemarin, aku melanjutkan studi tur bersama teman-teman dan para guru SMA Almunawaroh, sekolahku yang berada di Cilegon. Perjalanan ini merupakan lanjutan dari tulisan traveling pertamaku yang berjudul Mengenali Sejarah serta Benda-Benda Peninggalan Kesultanan Banten. Pada lanjutan perjalanan ini, kami ditemani oleh seorang pemandu yang bekerja di Museum Kepurbakalaan Banten Lama, yaitu Bapak Mulangkara. Beliau sudah bekerja menjadi pemandu di museum tersebut sejak tahun 90-an hingga 2025.
Keberangkatan kami berawal dari Museum Banten Lama. Seusai menunaikan salat Zuhur, aku dan kawan-kawan langsung menaiki angkot yang sudah disewa untuk meluncur ke Keraton Kaibon, sedangkan guruku, Pak Ibnu, memilih menggunakan motor Vario merahnya. Pada hari biasa, daerah Banten Lama dan sekitarnya begitu lengang, tidak sepadat saat Lebaran.
Angkot yang kami tumpangi tidak lagi melewati persawahan dan pepohonan, melainkan rumah-rumah warga yang terlihat usang serta polusi jalanan yang membuat hidungku terasa gatal. Namun, semua pemandangan itu seolah sirna ketika rombongan angkot sekolah kami melewati Sungai Cibanten. Saat menatap sungai itu, aku teringat Kesultanan Banten yang dahulu menjadi pusat perdagangan internasional.
Akhirnya, rombongan kami sampai di Keraton Kaibon. Rasa kantuk dan capek kami paksakan hilang agar waktu tur ini tidak terbuang sia-sia serta dapat menghilangkan rasa bosan karena hanya belajar di kelas. Kesabaranku selama empat jam perjalanan pun terbayar saat menjumpai keraton yang katanya amat megah ini. Keraton tersebut terletak di Kampung Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Keraton Kaibon sangat berbeda dengan Keraton Surosowan yang berada di kompleks Masjid Agung Banten Lama. Bangunannya masih berdiri dan dikelilingi sungai kecil yang menjadi kanal pertahanan dari serangan musuh atau penjajah. Ketika menghampiri keraton itu, aku melihat sebuah plang informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menjelaskan sejarah awal berdirinya Keraton Kaibon pada tahun 1809–1815. Nama Kaibon diambil dari kata kaibuan karena keraton tersebut ditinggali oleh ibunda sultan, yaitu Ratu Aisyah, ibunda Sultan Syafiuddin. Kepindahan keraton ini merupakan bagian dari pertahanan kedaulatan Kesultanan Banten setelah Keraton Surosowan dihancurkan oleh Gubernur Jenderal Daendels.
Saat duduk dan mendengarkan arahan pemandu, aku memperhatikan lingkungan keraton. Aku merasa tenang melihat kanal sungai di pinggir pagar pembatas wilayah keraton. “Keraton Kaibon ini memiliki benteng berupa kanal sungai,” ujar Pak Mulangkara melalui pengeras suara, sementara kami mendengarkannya dengan saksama. Lingkungan keraton masih terasa segar karena banyak pohon rindang yang menaungi dari panas matahari.

Ketika aku dan teman-teman diperbolehkan masuk oleh Pak Mulangkara, perhatianku tertuju pada gerbang pertama keraton. Menurut Pak Mulangkara, gerbang itu dinamakan Candi Bentar yang bergaya Jawa-Bali. Perancangnya adalah Raden Sepat yang berasal dari Kesultanan Demak. Beliau juga yang merancang pembangunan Masjid Agung Banten Lama. Gerbang bergaya Jawa-Bali ini berjumlah tiga, tidak hanya satu.
Sambil bercanda, kami memasuki bangunan bekas masjid keraton yang terletak setelah gerbang Candi Bentar. Bangunan masjid ini hanya menyisakan mihrab berukuran beberapa sentimeter. Untuk memasukinya, kami harus menaiki tangga karena bangunannya ditinggikan. Selain mihrab, masih ada jendela-jendela berukuran sekitar dua meter. Pondasi bangunan terbuat dari batu dan dindingnya dari bata yang direkatkan dengan kapur karena pada zaman dahulu belum ada semen. Namun, masjid itu sudah tidak beratap dan tidak lagi digunakan.
Bersama guru dan pemandu, aku melanjutkan perjalanan ke dalam keraton, terutama menuju singgasana Ratu Aisyah. Walaupun bangunannya hanya menyisakan dinding, setiap sudutnya seolah menyimpan kenangan dan perjuangan bangsa. Teman-temanku berhamburan bermain di sekitar keraton, sementara aku sibuk mencatat dan mendengarkan penjelasan Pak Mulangkara.
Untuk memasuki ruangan utama Keraton Kaibon, kami melewati dua gerbang tinggi bernama Paduraksa yang bergaya Belanda. Gerbang tersebut dibangun oleh arsitek Belanda, Lucas Hendrik Cardeel. Menurut penjelasan Pak Mulangkara, pada masa Kesultanan Banten terdapat tiga arsitek, yaitu Can Ban Coot dari Tiongkok, Lucas Hendrik Cardeel dari Belanda, dan Raden Sepat dari Jawa. Mereka berperan dalam pembangunan Masjid Agung Banten Lama, Keraton Surosowan, dan Keraton Kaibon. Gerbang Paduraksa memiliki tinggi sekitar lima meter dan lebar tiga meter, serta beratap genteng. Di sisi gerbang terdapat pintu-pintu kecil yang dahulu digunakan untuk akses menuju masjid keraton, khususnya bagi para prajurit atau selir.

Aku bersama Pak Mul, Pak Ibnu, dan Nadila terus mengikuti penjelasan pemandu. Sejak tadi aku sibuk mencatat hingga hampir lupa pada teman-teman yang masih berkeliling. “Biarkan saja mereka yang sibuk bermain, nanti juga menyesal sendiri,” ujar Pak Mul. Ucapan itu membuatku berpikir bahwa jika menyepelekan sesuatu, pasti akan menyesal di kemudian hari.
Saat memasuki sebuah ruangan yang di bawahnya terdapat air, aku sempat terkejut. Ternyata ruangan itu adalah kamar Ratu Aisyah dan putranya. Kedua kamar tersebut dahulu sudah dilengkapi sistem pendingin alami dengan air di bagian bawah lantai yang menggunakan balok kayu dan papan tripleks. Pada masa itu, wilayah Banten Lama sudah terasa panas. Aku sempat bertanya, “Pak, apakah di bawah kamar ini ada ikan?” tanyaku. Pak Mul menjawab bahwa jika ada ikan, tentu akan menimbulkan bau anyir.
Di seberang kamar terdapat dapur keraton yang jaraknya tidak jauh dari singgasana Ratu Aisyah. Kami menuruni anak tangga dengan perlahan, sementara yang lain sibuk berfoto. Banyak bagian bangunan Keraton Kaibon telah dipindahkan, mulai dari lantai hingga pintu. Namun, ruangan singgasana dibiarkan tanpa atap. Dari Keraton Surosowan hingga Keraton Kaibon, aku melihat banyak bangunan yang tidak lagi utuh. Menurut penjelasan Pak Mul, Belanda berusaha melemahkan Banten dengan menghilangkan dokumen-dokumen penting dan menghancurkan pusat kekuasaannya.
Sudah lebih dari dua jam aku menelusuri Keraton Kaibon. Aku dan teman-teman mulai merasa lelah dan mengantuk. Sebelum melanjutkan perjalanan, guruku memberi tahu bahwa aku akan diwawancarai. Dalam hati aku bergumam seperti seorang selebritas saja harus diwawancarai. Rasa kantukku pun hilang seketika saat wawancara dimulai.
Dari perjalanan studi tur ini, aku mendapatkan pelajaran berharga bahwa di balik kejayaan selalu ada perjuangan dan pengorbanan. Sejarah mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang jujur dan setia pada nilai-nilai kebenaran.
Tentang Penulis:

Sahrul Muhamad Azmi nama yang ajrab sering dipanggil Azmi ini lahir di Kota Bandung, dia awal kenal dunia menulis karena pernah ikut Ekstrakulikuler Kelas Menulis di Mts Al Khairiyah Karang Tengah, serta pernah menulis Puisi Anak di Golagongkreatif.com serta kalian bisa membaca karya puisinya di Buku Kekasih Senja kumpulan tulisan puisi dirinya serta teman-temannya, kini tinggal di Cilegon Merak Banten.

TRAVELING tayang 2 minggu sekali setiap Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


