Oleh: Nisrina Rohmi Astuti – Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 41
Bagiku, Sumatera Barat selalu istimewa. Suasananya sanggup memanggil rindu untuk kembali ke sana lagi. Aku berkunjung ke Sumatera Barat pada 27 Desember hingga 31 Desember 2024.
Aku ke sana menggunakan pesawat Super Air Jet, dan kami menginap di salah satu penginapan di Kota Padang. Aku berkunjung ke Padang untuk menghadiri malam bainai dan baralek gadang, salah satu prosesi pernikahan dalam tradisi di Kota Padang.

Pada 30 Desember 2024, kami pergi ke Bukittinggi untuk berwisata. Saat dalam perjalanan, kami merasa lapar dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Akhirnya, kami berhenti di sebuah rumah makan yang menjual nasi kapau. Menu makanan ini adalah andalanku di Sumatera Barat, juga favorit banyak orang.
Nasi kapau terbuat dari nasi putih, gulai, dan lauk-pauk khas Kapau, Sumatera Barat. Harga nasi kapau sekitar Rp19.000. Rumah makan ini mulai buka pukul 09.00 setiap hari. Adapun bahan-bahan nasi kapau antara lain kacang panjang, lobak siggalang, rebung, cabai merah giling, nangka muda, kaldu bubuk sapi, daun kunyit, serai, daun salam, dan daun jeruk.

Nasi kapau memiliki cita rasa khas karena menggunakan berbagai sayuran seperti kol, nangka, dan kacang panjang. Komposisi yang pas menjadikannya hidangan makan siang—atau makan kelewat siang—yang tak mudah dilupakan.
Aku turun dari kendaraan roda empat berwarna merah yang disewa oleh keluarga besan Uwa-ku. Singkat cerita, cukup dramatis kisah perkenalan keluarga Bapak dengan keluarga besan Uwa-ku. Sensasi kedekatan emosionalnya tak kalah fantastis dengan rasa nasi kapau di salah satu sudut kota ini. Indera pengecapku pun telah melanglang menyusuri kenangan rasa yang mulai berloncatan.

Kenangan nikmat itu begitu kental dalam memoriku. Nasi Kapau sendiri merupakan nama sebuah kampung kecil di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, Bukittinggi.
Lokasinya berjarak sekitar 4 kilometer dari ibu kota kecamatan dan sekitar 74 kilometer dari ibu kota provinsi. Cita rasa khasnya berasal dari resep warisan turun-temurun yang masih dipertahankan di Bukittinggi.

Menikmatinya di siang hari akan semakin luar biasa sensasinya, terlebih diiringi alunan musik akustik dari sekelompok pemain musik tradisional. Pengalaman yang cukup mengesankan. Namun, pengunjung harus sabar mengantre untuk mendapatkan meja kosong.




