Dunia memang terlalu dekat. Bahkan terlalu sangat sempit. Bukan karena komunikasi yang mendekatkannya. Lebih dari sekedar perkembangan zaman yang berteknologi tinggi semata.
Siapa sangka penulis yang tinggal di Toboali Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akhirnya bisa berkenalan dengan sastrawan yang kini mengemban amanah sebagai Duta Baca Indonesia. Sebuah proses yang diluar nalar.
Pembaca bisa bayangkan, bagaimana rasanya ketemu dengan penulis tersohor. Idola para pembaca. Nano nano rasanya.
Tahun 2012 adalah awal penulis mengenal secara dekat sastrawan pelahir ratusan buku ini.
Setelah itu, penulis bisa berkunjung ke kawasan Rumah Dunia yang dilahirkannya di Serang Banten.
Banyak pengetahuan, ilmu dan petuah yang penulis dapatkan dari ayah empat ( 4) orang anak ini, berkaitan dengan dunia literasi.
Berkawan dengan Gola Gong, bukan hanya bisa melahirkan buku semata. Lebih komprehensif. Lebih meluas.
Setidaknya lewat perkenalan dengan Duta Baca Indonesia ini, beberapa buku bisa diluncurkan di ruang publik yang lebih luas.
Setidaknya dalam catatan penulis, dua (2) buku penulis diluncurkan di acara Hari Buku Sedunia yang digelar di Komunitas Rumah Dunia. Tahun 2016 dan 2017.
Gola Gong terus menebar literasi hingga ke pelosok negeri yang maha luas ini. Sebuah negeri yang memiliki pesona alam yang sangat luarbiasa.
Tidak terkecuali di Toboali Bangka Selatan, tempat penulis berkehidupan. Bukan hanya sekedar bernarasi tapi beraksi nyata.

Membedah buku karya siswi SMPN 2 Tukak Sadai di tahun 2018 menjadi catatan penting bagi dunia literasi di Toboali Bangka Selatan.
Membaca puisi di warung kopi menjadi warisan penting bagi perkembangan dunia literasi daerah.
Membaca puisi berjudul Toboali di acara dua (2) tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Bangka Selatan Justiar Noer – Riza Herdavit menjadi bagian dari tonggak penting kebermajuan dunia literasi di daerah ini.
Terlalu banyak kata yang hendak dirangkai dalam sebuah kalimat dan paragraf. Tanpa terasa kopi di gelas mulai menyusut. Seiring matahari mulai di atas kepala.
Penulis harus mengakhiri tulisan sederhana ini.
Hanya satu kalimat yang tertulis.
Selamat tambah usia Kang Gola Gong. Semoga dipanjangkan usia sehingga terus menebar literasi di Nusantara ini. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas hingga Pulau Rote.
Penulis rindu dengan ucapan pertama kali bertemu. Sebuah ajakan yang sangat istimewa.
“Bukumu sudah berapa? Ayo nulis buku,”?
Ngomong-ngomong, sudah berapa sih usia Heri Hendrayana Harris? Eh…Kang Gola Gong?
Ada pembaca yang tahu?
Toboali, kamis 15 Agustus 2024


