Bincang-bincang bersama Duta Baca Indonesia di Bangka Belitung

Abu Hapas, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Belitung dalam sambutannya mengatakan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan proses interpretasi dan analisis untuk menggali pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain itu membaca sangat penting dalam menciptakan generasi cerdas yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Sedangkan Nelwaty Sikumbang, Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berharap kolaborasi seperti ini bisa semakin erat terjalin. Sebab menurutnya membangun literasi tidak hanya membangun gedung tapi SDM.

Nelwaty juga menyampaikan bahwa buku dapat memancing ide dan gagasan baru sehingga masyarakat dapat terus berinovasi. Program Duta Baca Berdaya dengan Buku mengajak penulis-penulis baru mendokumentasikan segala potensi kewilayahan dalam bentuk buku agar dapat menjadi pengetahuan bersama.

Gerakan Indonesia Membaca di Bangka Belitung menghadirkan narasumber Rusmin Sopian, Ketua Pengurus Daerah Gerakan Pembudayaan Minat Baca Bangka Selatan, Suparman Akai, penerima Nugra Jasa Dharma Pustaloka tahun 2011, dan Rico Ariputra, tim Penggerak Literasi Pangkalpinang. Serta dimoderatori oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong.

Rusmin mengungkapkan bahwa di Bangka Selatan banyak bermunculan penulis. Bahkan lebih produktif dari kota/kabupaten lain di Bangka Belitung. Ia juga menyampaikan jika ingin mengangkat daerah, angkatlah dengan literasi. Rusmin mengajak para peserta untuk banyak membaca dan menulis.

Rico Ariputra menyampaikan bahwa Kedepan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pangkalpinang akan berusaha memfasilitasi para penulis Bangka Belitung, khususnya Pangkalpinang agar karyanya bisa diterbitkan dengan CSR. Rico juga mengajak agar para peserta tidak sungkan untuk datang ke perpustakaan daerah Pangkalpinang. Memaksimalkan fasilitas yang ada. Sekarang perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tapi sudah bertransformasi menjadi inklusi sosial, tambahnya.

Sementara itu Suparman Akai menyampaikan bahwa untuk mendirikan komunitas literasi harus dimulai dari diri sendiri, lalu harus mendapatkan dukungan dari orang terdekat, kemudian dari masyarakat. Setelah itu kita berupaya menyesuaikan kepada masayarakat, membaca tradisi budaya sekitar kita. Suparman menganalogikan hal itu dengan para Wali Songo yang memasukkan Islam melalui budaya dan tradisi. Hal-hal lainnya adalah berkolaborasi misalnya dengan posyandu, lembag kepemudaan.

Acara tersebut dihadiri oleh 200 peserta secara onsite dan juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube PAPPBB Perpusnas RI. Agenda ini merupakan kali ke-19 penyelenggaraan Bincang-bincang Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional RI di tahun 2024.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==