Porter atau kuli angkut sudah mentradisi. Saya mngalami keterkejutan ketika di Singapura pada 2012. Barang bawaan saya cukup banyak. Ada 2 dua berisi buku, 2 ransel besar dan ransel kecil. Saya bersama istri waktu itu, mengadakan tur Gempa Literasi di 7 negara Asia. Tidak ada porter. Di Bandara Soekarno-Hatta masih ada waktu itu. Kamu bisa bayangkan betapa repotnya kami waktu itu. Tapi teratasi.

Keterkejutan lainnya adalah, tiba-tiba tidak ada porter di bandara Soekarno-Hatta. Itu diberlakukan sejak 1 September 2017, porter atau petugas resmi yang menawarkan jasa untuk mengangkat barang atau bagasi penumpang di Bandara Soetta akan ditiadakan. Ini bikin repot.

Sebetulnya jika pun barang bawaan saya hanya 1 koper, itu lebih kepada bagi-bagi rezeki. Hal itu bisa saya lakukan jika mendarat di bandara di daerah. Porer sudah langsung menyerbu. Tentu itu tontonan yang istimewa, buat saya. Kadang saya suka heran, jika melihat ada penumpang dengan lebih dari 3 koper, mengurusi sendirian bagasinya. Padahal di sekelilingnya bebeberapa porter memerhatikannya.


Kembali ke Budiman, yang bekerja sebagai Concierge Service di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Ini adalah layanan bantuan dari Angkasa Pura untuk orang-orang yang akan melakukan perjalanan. Dia baru 2 bulan bekerja. Angkasa Pura 2 memberinya gaji cukup tiap bulan. Tapi ketika saya tanya, apakah gajinya sesuai UMR? Dia dengan sangat diplomatis menjawab, bahwa itu urusan pribadi.
Gol A Gong


