Ketika saya membaca status Triyanto Triwikromo tentang novl terbarunya yang berjudul Pertempuran Lain Dropadi dengancover seperti jilatan api yadnya . Droadi terlahir dari api yang suci. Tapi setelah bukunya saya terima, saya teliti seperti ada kepala seekor burung garuda atau rajawali. Entahlah.

Yang jelas, saya terlempar ke masa kecil ketika senang menontn wayang golek. Kisah Pandawa versu Kurawa seolah jadi perwakilan hitam dan putih. Yudistira yang kalh judi sehingga kehilangan segalanya, termasuk Dropadi. Saya sempat mengingat-ingat, ketika Kurawa yang jahat menelanjanginya di Hastinapura, tapi kemudian para dewa (Kresna) menyelamatkannya. Kain yang dikenakan Dropadi tidak pernah habis, panjang, dan terus saja tidak ada batasnya.

Saya baru membuka-buka dan membaca sekilas saja. Wow! Tebalnya 632 halaman! Dan yang menarik di buku, Triyanto Triwikromo mauk ke dalam tokoh Dewi Saraswati. Sewaktu bujangan, setiap saya mendengar ada perempuan bernama “Saraswati”, saya selau teringat ewi Saraswati alias Dewi Ilmu Pegnetahuan. Sewaktu saya menulis novel Balada Si Roy, tokoh perempuannya tadinya akan saya beri nama “Dewi Saraswati”, tapi kemudian berubah jai Dewi Venus.
Tahun 1992, saya ke New Delhi. Saya cari-cari informasi entang kota kecil bernama Kurusetra, tempat Kurawa dan Pandawa berperang. Ternyata tidak jauh. Saya langsung ke sana! Takjub. Kota kecil yang sebetulnya hanya ada di buku itu ada di depanku!
Baiklah. Terima kasih, Kepustakaan Populer Gramedia yang sudah memberi hadiah buku “eda” ini. Terima kasih, Triyanto Triwikromo. Peluncuran bukunya di Berlin pati sukses. Ditunggu karya-karya selanjutnya. *


