Buku Seaside: Terlena Akan Perbuatan dan Perkataan Manis Akan Membunuhmu

Susi Lusiana-Peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 40

Buku ini kutemukan di saat kebingungan melanda, di antara jejeran rak buku di perpustakaan daerahku. Dari ratusan, bahkan ribuan buku yang tersedia, aku bertanya-tanya mana yang seharusnya kubaca lebih dahulu. Aku berkeliling ke sana kemari hingga akhirnya berhenti di rak buku bagian sastra.

Dengan seksama, kubaca sinopsis dari buku-buku yang kupilih, mengamati sampulnya, dan akhirnya memutuskan mengambil sebuah buku berjudul Seaside. Sampulnya memperlihatkan seorang wanita dengan latar pantai—begitu menarik untuk dihabiskan.

Kisah Manis yang Berujung Mencekam

Saat menelusuri halaman demi halaman buku itu, aku menyimpulkan dari bab awal bahwa setiap individu selalu menginginkan perlakuan serta perkataan manis dari orang lain dalam berinteraksi. Namun, tak jarang, semua itu justru melukai—bahkan bisa membunuh secara perlahan. Inilah yang menjadi inti dari kisah Seaside—perjalanan seorang wanita dalam menyingkap jebakan yang menimpa ayahnya dan dirinya sendiri.

Seaside terdengar seperti judul yang menarik, seolah menawarkan kisah yang seru dengan latar pantai yang indah. Namun, seperti kata pepatah: don’t judge a book by its cover. Kenyataannya, keindahan pantai dalam buku ini jauh dari kata menenangkan. Justru, ia hadir sebagai sesuatu yang mencekam dan membuat mual untuk dibayangkan.

Dalam kisah ini, Seaside bukanlah pantai yang menawan, melainkan nama seorang wanita gila—seseorang yang gemar menumpahkan darah demi membalas dendam atas orang-orang yang menjebak ayahnya ke dalam penjara. Ayahnya dikenal sebagai sosok pemberani yang berusaha membongkar kejahatan para pejabat negara.

Namun, baginya, hukum di negeri ini tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Karena itulah, dia mengambil keadilan ke tangannya sendiri. Ia tak bekerja sendirian, melainkan bersama beberapa orang jenius yang lihai memutarbalikkan fakta mengenai hilangnya nyawa orang-orang itu. Semua bermula dari pertemuan-pertemuan rahasia, latihan bela diri, peran sebagai wanita penggoda, teknik membunuh, hingga pembakaran mayat di bangunan seng.

Ketika Cinta Menjadi Kelemahan

Salah satu ahli yang melatihnya berhasil membuatnya jatuh cinta. Seaside terbuai dalam asmara oleh perlakuan dan perkataan manis laki-laki itu. Meski awalnya ia menolak untuk menggunakan perasaan, pada akhirnya ia kalah oleh egonya sendiri. Sayangnya, laki-laki itu—Alri—adalah seorang mastermind yang lihai menaklukkan lawan bicara.

Awalnya, Alri tidak berniat membunuh Seaside. Namun, semuanya berubah ketika wanita itu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Akhirnya, ia menemui akhir tragis—digantung di kampung halamannya sendiri, Lampung.

Pelajaran Hidup dari Seaside

Kisah Seaside memberi pelajaran hidup bahwa tidak semua dendam harus dibalas dengan kekejaman. Meski kebaikan terkadang sulit dilakukan, membunuh dan menghilangkan nyawa manusia dengan kejam juga bukan jalan yang benar.

Lagi pula, cinta memang sering kali memabukkan, hingga kita lupa membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam perlakuan kita terhadap orang lain. Cinta dan kasih sayang itu indah, tetapi jangan sampai kita terlalu larut hingga berakhir tragis di tangan orang yang kita kasihi.

Sayang dan cinta itu boleh, tapi jangan sampai membutakan hati hingga kita melakukan segala cara untuk menyingkirkan siapa pun yang dianggap pengganggu—seperti yang dilakukan Seaside terhadap orang tua Alri. Ia tak menyadari bahwa orang yang dibunuhnya adalah orang tua kekasihnya sendiri. Akhirnya, Alri pun membalas kekejaman itu dengan cara yang sama mengerikannya.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==