Kalau kamu karyawan di sebuah perusahaan atau ASN di pemerintahan, boleh-boleh saja menuntut hak itu. Tapi kalau kamu ormas atau komunitas atau – mohon maaf – kelompok preman yang tidak jelas, saran saya jangan lakukan itu. Sama saja kamu merendahkan harga diri kamu sebagai suami atau ayah. Jangan meniru Harvey Moeis yang tidak ada harganya di mata kita. Dia itu keset, sampah! Kalau kita sebagai rakyat, tetap harus berpikir positif, bagaimana caranya mendapatkan THR yang halal. Jangan mengemis, apalagi meminta belas kasihan.

Harus saya akui, kadang hati ini nyeri, ya. Ketika kita jungkir balik memikirkan, bagaimana caranya bisa mendapatkan THR yang halal dan bermartabat, tiba-tiba menyeruak pasangan suami-istri – Harvey Moeis dan Sandra Dewi dengan nilai korupsi fantastis – Rp. 271 trilyun! Ah, jangan terpengaruh! Tapi, solusinya, bagaimana? Bekerja saja, agar kita tetap bermartabat. Kerja apa? Di era disruptif ini, semua punya peluang menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri, bahkan bisa mengajak teman-temannya bergabung. Oke. Tapi apa? Paling relevan sekarang adalah merangsek ke industri kreatif. Ah, butuh modal!

Dengar, ya! Ada 17 subsektor ekonomi kreatif menunggu kamu. Mulai dari permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi. Pilih satu!

Ayo, berpikirlah! Jangan mengemis, apalagi menyerah! Jika kamu punya HP, fungsikan dengan maksimal. Hanya perlu modal beli kuota pulsa. Pergi ke pasar induk. Arahkan kamera HP kamu ke barang-barang tradisional. Kerjasama dengan para penjual di pasar itu untuk urusan packing dan pengiriman. Bagi hasil. Bikin akun di IG, FB, dan TikTok.

Kalau perlu lengkapi dengan YouTube dan website. Unggah barang-barang tradisional yang sudah kamu foto itu di akun medsosmu. Beri caption yang menarik. Lebih bagus lagi jika ada bahasa asing; Inggris dan Mandarin.

Kamu nanti pasti akan kaget jika ternyata hasilnya menggiurkan. Bayangkan oleh kamu, menurut data Kominfo, ada sekitar 500 juta unit HP beredar sedangkan jumlah penduduk Indonesia 270 juta jiwa. Jika 0,5% saja yang mampir ke akun medsos kamu, pasti akan ada yang tertarik membeli.

Itu peluang pasar yang sangat potensial. Atau jika 1 persennya saja bisa kamu raih, itu 5 juta konsumen. Ah, terlalu banyak. Cukup sehari 1000 konsumen yang mampir ke akun kamu, itu sangat menjanjikan.

Jadi THR harus disiasati dengan bekerja. Sekali lagi, jangan mengemis apalagi korupsi seperti Harvey Moeis. Jangka pendek menjelang lebaran, tentu menjualkan kue-kue lebaran lewat akun medsosmu sangat efektif. Itu juga solusi yang bagus dan produktif. Proses menjualnya tetap dengan digitalisasi. Atau bergabung dengan komunitas kreatif, yang selalu berpikir kreatif dan produktif. Di Banten ada Fekraf (Forum ekonomi Kreatif) yang digawangi Andi Suhud Trisnahadi. Biasanya di cafe Umakite, mereka berkumpul menggodok ide kreatif.

Kawan-kawan muda di Banten yang tergabung di Fekraf ini, di sisa 7 hari puasa 1445H dalam merespon momok tahunan THR ini tidak dengan cara membuat proposal seperti oknum-oknum ormas atau LSM. Tapi dengan cara kreatif dan produktif, yaitu “Banten Creative Festival” di alun-alun Kota Serang, 31 Maret – 7 April 2024.

Saya sendiri, bagaimana? Sejak 2008, saya sudah tidak lagi mendapatkan THR. Sebelumnya selalu mendapatkan THR 1 bulan gaji ketika bekerja di RCTI (1996-2008). Saya pernah memasang iklan di FB Rp. 1 juta untuk Kelas Menulis Online, kembalinya Rp. 20 juta dari peserta yang mendaftar. Dicoba, ya.

Saya jadi teringat Bapak dan emak yang selalu mendapatkan THR. Mereka membagi-bagikan amplop THR kepada anak dan cucu-cucu mereka. Sekarang teman-teman saya yang PNS tentu mendapatkan THR, yang akan cair seminggu sebelum lebaran. Menurut Menkeu pemerintah akan menggelontorkan dana sebanyak Rp 48,7 triliun untuk membayar THR bagi para ASN, maupun anggota TNI dan Polri.

Solusi saya, bagaimana? Tentu tiada hari tanpa bekerja keras. Saya memanfaatkan akun medsos untuk personal branding. Saya menawarkan program pelatihan menulis. Dan tentu menabung. Setiap lebaran, saya dan istri juga bagi-bagi THR kepada saudara yang belum beruntung, keponakan, cucu-cucu, pembantu, dan lingkungan terdekat di Rumah Dunia.

Sejak Rumah Dunia berdiri pada 1998, saya dan istri serta para sahabat sudah memulainya dengan “Kado Lebaran Rumah Dunia”. Setiap tahun. Antara 1998-2008, saya sisihkan THR dari RCTI untuk Kado Lebaran. Beberapa kawan juga ikut menyumbang beberapa amplop. Hingga kini, tradisi bagi-bagi THR tetap dipertahankan di Rumah Dunia. Biasanya kegiatannya aneka lomba literasi seperti menggambar, mewarnai, menulis, dan fashion show. Sekarang eranya Abdul Salam sebagai Presiden Rumah Dunia 2020-2025.
Ayo, berpikirlah! Jangan mengemis, apalagi menyerah.
Gol A Gong
Cakrawala, 29 Maret 2024




Korupsi di hukumnya berat seperti Negara Jepang, tegas menangani Korupsi.