Saya sangat bangga. Semoga mereka panjang umurnya, sehat, dan tidak diganggu oleh mafia judi. Para pemain juga tampak sekali tidak sekadar mengandalkan otot (mereka kecil secara phisik jika dibandingkan pemain-pemain Arab). Tapi mereka berpikir saat bermain, sehingga startegi pelatih dijalankan dengan baik. Tidak ada lagi pemain yang mengemis minta dimainkan apalagi menyerah, tapi mereka bertarung menunjukkan kualitasnya.

Saya melihat, potong generasi ini bagus. Pemain kita yang berbakat, biasanya hilang karena ekosistem sepakbola penuh manipulasi. Evan Dimas cidera dan hilang, karena kerasnya liga kita. Liga kita kualitasnya dirusak judi. Kalau ketemu Ketum PSSI yang – mohon maaf – tidak punya wawasasan, ya klop sudah.

Sekarang mereka (pemain muda) yang berbakat dilindungi, juga diberi partner pemain keturunan oleh Erick Thoir an STY. Benchmark yang jitu. jadi klop. Erick yang punya wasawan global tentang sepakbola memainkan perannya sebagai Ketum PSSI dengan baik.

Di era dulu, diduga suka ada yang nitipin pemain kehilangan konon kabarnya kebakaran jenggot. Pengaturan skor di liga itu kentara sekali. Ini harus duberantas PSSI, agar semakin banyak unas-tunas seperti Marselino, Witan, dan Ridho muncul.

Indra Syafri termasuk pelatih bagus. IS sekarang dapat partner Sin Tae-yong. Nah, anak-anak muda Indonesia yang punya mimpi jadi pemain bola punya ukuran yang jelas sekarang.
Selamat Marcelino dengan 2 gol, Witan 1 gol, dan Komang 1 gol. Kita berdoa sama-sama ya agar timnas kita menang melawan Korea Selatan atau Jepang.


