Saya mulai melakoni diri sebagai traveler sejak SMA kelas 1 (1980). Setiap weekend di Kota Serang Banten, saya pasti berburu kuliner. Ketika di rumah hanya mengenal sarapan nasi goreng, opor ayam, telor dadar, sayur lodeh, sayur asam, di luar rumah saya mulai mengenal nasi uduk, nasi rabeg, nasi sumsum, kupat tahu, dan nasi rames. Itu baru di Banten. Bagaimana dengan kota-kota lainnya.

Mulailah saya menyandang ransel, merasakan kuliner di kota-kota dari Sabang hingga Merauke atau beberapa negara. Saya menikmatinya saat sarapan, makan siang, atau makan malam.

Mulailah saya mengenal nasi uduk khas Betawi, nasi gentong di Cirebon, nasi begono di Pekalongan. nasi gudeg di Yogya, nasi liwet asli Solo, ketoprak, nasi pecel, nasi rawon, papeda, sagu, soto ayam Lamongan, mie Aceh, nasi jagung Madura, teh tarik, teh telur, kopi joss, tempe mendoan dan teh poci di Banyumas, nasi Padang, burger, sandwich, salad, nasi biryani, nasi kebuli, nasi lemak, kopi luwak, coto Makassar, nasi tim, tomyam, tongseng, kopi pangku, nasi hik di angkringan… Entahlah, apalagi.

Mengutip Guy Ramsay Fieri, pemilik restoran Amerika, penulis, dan presenter televisi pemenang Emmy Award, juga produser dan aktor, yang dikenal dengan Diners, Drive-in and Dives (2006) , The War with Kakek (2020) dan Alex Vs. Amerika (2022), bahwa:

“Memasak adalah semua tentang manusia. Makanan mungkin satu-satunya hal universal yang benar-benar memiliki kekuatan untuk menyatukan semua orang. Tidak peduli budaya apa, di mana pun di seluruh dunia, orang makan bersama.”

Jadi, kuliner di kotamu apa? Siapa tahu saya mampir ke kotamu.
Gol A Gong




