Catatan Usai Menonton Laut Bercerita

Oleh: Jordy Alghiffari

Minggu, 1 November 2026, teman kontrakanku yang bernama Reyfaldo dan Kharis baru pulang dari nongkrong, dan mereka mengajak aku, Dominggos, serta Jeremia untuk nonton film Laut Bercerita yang sedang tayang di bioskop. Sore harinya, pukul 17.45 WIB, aku, Kharis, dan Jere pergi ke Pakuwon Mall Yogyakarta. Kami bertiga pergi menggunakan Go-Car dengan tarif Rp60.000. Sedangkan Rey dan Dominggos menyusul sehabis pulang gereja.

Sesampainya di Pakuwon Mall Yogyakarta, kami bertiga menyusul Rey dan Dominggos yang sudah lebih dulu tiba. Selama lima tahun saya tinggal dan menetap di Yogyakarta, saya baru tahu ada mal seluas ini, layaknya mal di Jakarta maupun di Tangerang, Banten. Kami bertiga keliling mal untuk mencari mereka berdua.

Setelah menemukan mereka berdua, kami berlima memasuki bioskop CGV dan memesan lima tiket dengan harga Rp65.000 per orangnya. Setelah itu, kami menunggu di ruangan. Di belakang kami ada beberapa televisi (TV) yang menayangkan beberapa film yang akan datang. Kami berbincang mengenai konsep/pengalaman terbaru yang CGV hadirkan, yaitu SCREENX.

SCREENX adalah layar bioskop yang menggunakan layar 270° (derajat) panoramic viewing. Kami berlima berbincang mengenai aspek rasio yang digunakan kira-kira berapa. Umumnya, film pendek yang tersebar luas di internet menggunakan aspek rasio 16:9, dan memang aspek rasio film layar lebar adalah 2,39:1 (Cinemascope/anamorphic) atau 1,85:1 (flat).

Sedangkan SCREENX kira-kira menggunakan aspek rasio berapa? Itulah contoh perbincangan kami berlima sebagai filmmaker. Selang tak berapa lama, akhirnya kami berlima memasuki bioskop Studio 2 di jam 19.15.

Dan inilah hasil review saya setelah menonton film Laut Bercerita.

Film Laut Bercerita diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Leila S. Chudori. Sebelumnya, saya sudah membaca novelnya terlebih dahulu. Novel dan filmnya menceritakan sebuah kasus perjuangan, penculikan, dan penghilangan para aktivis mahasiswa pada akhir era Orde Baru di Indonesia sekitar tahun 1990-an.

Menurut saya, setelah nonton film Laut Bercerita ini, dari segi cerita ada perbedaan yang signifikan dari film-film Indonesia lainnya. Dan alur cerita di film juga memiliki perbedaan yang signifikan dengan novel aslinya yang menggunakan kilas balik di antara rentang waktu 1990-an.

Film ini menggunakan alur linear yang memudahkan penonton awam yang belum membaca karya asli Leila S. Chudori. Penonton akan diperlihatkan ke awal masa pergerakan Winatra di Seyegan, Yogyakarta, pada tahun 1991. Peristiwa kemudian berlanjut ke Blangguan, Ciputat, Tebet, hingga ke Rusun Klender di tahun 1998.

Memang ada perubahan minor terkait tempat dan narasi, tetapi sama sekali tak mengubah cerita aslinya yang menggunakan dua perspektif.

Dan dari segi cinematography, pada film ini memiliki shot/pengambilan gambar yang menawan dengan tambahan pencahayaan temaram (low light/remang-remang) yang berhasil membangun rasa cemas, paranoid, dan mencekam. Adegan pengepungan di Blangguan (Jawa Timur) menjadi salah satu momen paling menegangkan.

Untuk segi akting beberapa para aktor di film ini, karakter utama, yaitu Reza Rahadian, tampil sangat kuat sebagai Biru Laut dengan pembawaan yang cerdas dan penuh emosi. Dan aktor Christine Hakim memberikan penampilan emosional yang dalam sebagai seorang ibu yang memendam luka, duka, serta harapan. Serta karakter Arswendi Bening Swara cemerlang memerankan figur ayah yang terjebak dalam fase penyangkalan (denial).

Jadi, kesimpulan dalam review ini adalah film ini berfungsi ganda sebagai karya sinema sekaligus pengingat kolektif (merawat ingatan) atas tragedi pelanggaran HAM dan penculikan aktivis 1998 di Indonesia, ditutup secara emosional dengan rekaman arsip masa Reformasi 1998.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==