Puisi Esai Gen Z: Sebongkah Gambut yang Dipaksa Jadi Abu Karya Khalidah Abdullah

Karhutla belum selesai. Dampaknya masih merajalela dan tak ada yang tahu pasti kapan asap akan benar-benar hilang dan orang-orang yang terdampak bisa mendapat hak menghirup udara bersih kembali. Ribuan bayi terkena ISPA, ibu hamil, dan anak-anak kecil seakan melihat neraka ketika membuka pintu. Bukannya disambut dengan angin segar pagi, melainkan asap tebal nan beracun.

Ini adalah masa-masa yang sulit untuk mereka yang terdampak. Kita sering kali tak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan, berdonasi, serta mendukung para relawan yang turun di lapangan. Oknum-oknum yang dicurigai memiliki kepentingan dan menjadi dalang di balik tragedi berulang atau musiman ini tidak banyak berkomentar. Suasana serba asumsi dan konspirasi, tetapi peningkatan perbaikan dan pemadaman lahan terbakar benar-benar lambat. Semoga dengan sedikit “suara” dari puisi esai ini bisa mengetuk hati siapa pun yang bisa menjadi solusi atas karhutla—yang sayangnya—musiman ini.

Sumber Berita: https://mediaindonesia.com/nusantara/933214/karhutla-kalsel-capai-21-ribu-hektare-ekosistem-gambut-rusak-parah?

1. Rahim Rawa yang Dikhianati

Aku lahir dari pembusukan yang sabar dan sepi,
dari daun-daun gugur,
ranting patah,
dan akar purba yang enggan sirna ditelan waktu.

Selama ribuan tahun aku menyulam diriku sendiri dalam diam.

Di bawah teduh belantara, aku menjelma rahim bagi segala air,
memeluk jutaan ton karbon dalam dada yang pekat,
membuai harimau dan tapir dalam gelap yang basah dan murni.

Aku tidak pernah meminta untuk dibangunkan, apalagi ditaklukkan.

Aku hanya spons raksasa yang setia menjaga keseimbangan napas bumi, menahan banjir saat langit menangis, dan menyimpan sejuk saat matahari memanggang.

Hingga datanglah orang-orang berjas rapi dari gedung-gedung tinggi di Jakarta,
membawa peta konsesi bergaris merah, stempel kekuasaan, dan janji-janji kemakmuran yang tak pernah kumengerti bahasanya.

Mereka menatapku bukan sebagai sumber kehidupan, melainkan sebagai angka-angka yang belum dicairkan.

2. Parit-Parit Berdarah

Mereka mengirim pasukan monster besi kuning raksasa yang mengaum membelah sunyi.

Mencakar punggungku tanpa ampun, membelah urat nadiku,
membuat luka memanjang berpuluh-puluh kilometer yang mereka sebut sebagai kanal.

Darahku—air rawa yang hitam, pekat, dan menyimpan riwayat zaman—disedot paksa, dialirkan tergesa-gesa ke laut agar tubuhku mengering, retak, dan kaku.

Mereka berbisik pongah,
aku terlalu lembek dan tak berguna untuk menopang pundi-pundi emas mereka.

Maka, di atas tubuhku yang kerontang dan mulai kehabisan napas,
ditanamlah secara paksa ribuan benih serakah berdaun tajam yang berbaris rapi seperti prajurit kematian.

Akar-akar asing itu mencekikku,
mengisap sisa-sisa kelembapanku hingga tetes terakhir.

Aku meronta dalam haus yang panjang, menjerit dalam duka, tetapi suaraku diredam deru mesin pabrik pengolah minyak yang tak pernah tidur.

3. Bara di Perut Bumi

Suatu siang di puncak kemarau yang ganas, sebatang obor dilempar dengan sengaja.

Itu bukan sekadar kecerobohan petani kecil, melainkan siasat murah korporasi untuk membersihkan lahan tanpa perlu membayar mahal.

Api menjilat rumput dan ranting di permukaanku dengan rakus dan cepat.

Tahukah kalian di mana letak neraka sesungguhnya?

Di bawah telapak kaki kalian yang angkuh.

Karena airku telah dirampas, aku menyembunyikan bara di perutku yang paling dalam, di rongga-rongga gambut yang kini hampa.

Aku terbakar tanpa suara,
menjalar diam-diam di bawah tanah seperti iblis kelaparan,
menggerogoti akar demi akar,
memanggang cacing dan serangga,
menyimpan dendam berbulan-bulan lamanya.

Helikopter-helikopter kalian meraung menumpahkan bom air dari langit. Para pemadam berjibaku dengan selang dan peluh,
tetapi api di rahimku menertawakan usaha yang sia-sia itu.

Bara ini tidak akan mati hanya dengan siraman; ia menunggu langit tumpah seutuhnya.

4. Kutukan Jerebu

Dari tubuhku yang dipaksa menjadi abu dan arang,
kulahirkan anak haram yang pendendam bernama Jerebu.

Kulepaskan ia ke udara lepas,
membiarkannya memeluk Kalimantan dan kota-kota lain dalam pekat yang mencekik.

Ia menyusup masuk ke celah-celah jendela rumah sakit,
merenggut napas anak-anak yang tertidur gelisah,
memaksa sekolah-sekolah ditutup tanpa batas waktu,
dan mengubah langit siang menjadi senja berdarah yang menyeramkan.

Udara yang kalian hirup kini berbau kematian dan keputusasaan.

Anakku bahkan tumbuh sayap, terbang melintasi selat,
menjadi tamu tak diundang yang menodai kemegahan gedung-gedung kaca di negara tetangga.

Maafkan aku, anak-anak manusia.

Kalian yang memeras habis air mataku demi lembaran uang, kini harus rela menghirup napas terakhirku yang penuh racun.

5. Kuburan Berwarna Arang

Ketika musim hujan akhirnya tiba dan berbaik hati memadamkan amarahku,
lihatlah apa yang tersisa dari rahim kehidupan ini.

Hanya hamparan hitam yang sunyi,
tunggul-tunggul pohon yang berdiri seperti nisan penderitaan,
dan tanah yang telah kehilangan nyawanya sama sekali.

Kalian mungkin akan datang kembali,
merapikan abuku dengan traktor,
menanam bibit-bibit baru di atas kuburanku,
dan kelak merayakan panen di atas duka cita jutaan makhluk yang hangus menjadi debu.

6. Karbon yang Menagih Janji

Namun, ingatlah,
setiap tetes minyak yang mengalir dari tanah ini adalah ekstrak dari keangkuhan kalian.

Tubuhku mungkin telah rata dan dipaksa produktif.

Tapi karbon yang kulepaskan ke langit saat aku terbakar dalam sepi akan terus melayang,
membungkus bumi,
menahan panas,
dan perlahan merebus dunia kalian dari atas.

Saat laut menelan pesisir kota-kota kalian yang gemerlap,
ingatlah pada rawa gambut di Sumatra yang dulu kalian keringkan.

Aku mungkin telah mati, tapi kutukanku akan hidup abadi di udara yang kalian hirup.

Referensi

  1. https://mongabay.co.id/2014/03/02/kebakaran-besar-musnahkan-lahan-gambut-dumai-bengkalis/
  2. https://regional.kompas.com/read/2024/07/25/114000078/kebakaran-lahan-gambut-di-meranti-meluas-pemadaman-temui-kendala-asap

Biodata dan Bionarasi Penulis

Nama: Khalidah Abdullah
Media sosial: @khalidahabdulla (Instagram, X, Threads, TikTok)

Seorang penulis muda pemilik blog www.khalidaoway.blogspot.com yang gemar menuangkan keresahan, harapan, dan realitas kehidupan ke dalam puisi bernuansa melankolis. Sebagai pemerhati dan pejuang keharmonisan serta keadilan di tiap langkah dan circle yang ia tempati, ia kerap tak tahan dan iba terhadap isu sosial, salah satunya karhutla Kalimantan. Meski belum bisa menjadi pihak otoriter yang mengubah sistem, ia berharap pesan dalam puisinya ini disampaikan dan dipahami dengan baik demi masa depan negara yang lebih baik.

PUISI ESAI GEN Z: Puisi Esai Gen z ini puisi esai mini 500 kata khusus untuk Gen Z dan Gen Alpha. Disarankan tema-temanya yang relate seperti bully, mental health, patah hati, broken home, sex bebas, dan narkoba. Tuliskan 500 kata. Sertakan bionarasi maksimal 5 kalimat, 2 foto penulis dan 2 ilustrasi AI yang mendukung puisi esainya. Kirimkan ke gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Puisi Esai Gen Z. Ada honorarium Rp300 ribu dari Denny JA Foundation bagi yang puisi esainya tayang. Jangan lupa sertakan nomor rekening bank. Jika ingin membaca Puisi Esai Gen Z yang sudah tayang klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==