Tim teri nasi ini dibumbui ketumbar, kunyit, serai, daun jeruk, oregano, parsley, lada putih, garam, dan keju parmesan. Bukan gaya-gayaan, tapi dasar aku suka eksperimen saat memasak.
Di Meja Makan: Gemblong Cocol Teri Nasi

Dunia Kata, Dunia Imajinasi
Berbagi Rasa

Tim teri nasi ini dibumbui ketumbar, kunyit, serai, daun jeruk, oregano, parsley, lada putih, garam, dan keju parmesan. Bukan gaya-gayaan, tapi dasar aku suka eksperimen saat memasak.

Saya ceritakan kepada Pak Sapardi, bagaimana ajaibnya puisi “Aku Ingin Mencintaimu” pada kehidupan cinta saya dengan Tias Tatanka. Saya melamar Tias Tatanka dengan menyanyikan lagu “Aku Ingin Mencintaimu” di telepon kantor, Bedeng 2000 Palmerah Utara, Jakarta.

Makan pagi dengan bermandikan cahaya Ilahi Rabbi yang hangat sampai mulai terasa panas. Kami bertahan duduk makan sambil membincangkan anak-anak yang sudah menyebar di kota lain. Percakapan dalam grup WhatsApp keluarga, kuliah dan pekerjaan anak-anak adalah bahan seru.

Setiap pagi, kami pandangi kursi-kursi yang lain. Berharap mereka ada tentu tidak adil. Paling juga si sulung Nabila dua minggu sekali weekend, duduk menemani makan sambil menceritakan mimpinya domisili di luar negeri.

Reaksi hubby pertama kali mendengar keputusanku membatalkan operasi adalah bertanya: kenapa? Aku jelaskan alasanku, dan beliau dapat memahami. Aku mengesampingkan sisi emosional untuk memutuskan hal ini, dan telah merencanakan sederet langkah selanjutnya. Insyaallah ini keputusan yang tepat.

Baiklah, udang goreng tepung masuk kulkas. Padahal butuh kerja keras menyiangi udang sebelum diolah, kan. Aku sebetulnya paling tidak suka melakukannya karena butuh waktu lama. Tapi demi anak dan suami, kulakukan juga. Untunglah ketika mereka tidak juga memakan hasilnya aku tidak ngambek

Aku tercenung mengingat daging sapi yang masih dalam kondisi beku. Kebayang agak lama mengolahnya, meski daging sudah matang. Demi permintaan hubby, aku olah daging beku dalam panci presto sementara aku masak nasgor.

Ya, hubby suka kornet sejak dulu. Dia gembira ketika melihat kornet terhidang di atas nasgor. Dia bertanya, “Kapan beli kornet?” Sudah cukup lama, memang, aku tidak masak kornet.

Saat mulai menyuap, terasa ada yang kurang. Aku pengin rasa pedas. Hubby bilang, gerus aja cabe rawit yang tinggal petik. Tapi aku pilih sambal terasi instan, biar segera makan. Untungnya hubby sabar menahan diri melihatku lahap makan nasgor dengan sedikit sambal

Saya ambil HP. Saya langsung mencari tahu di Google. Ada situs hellodoc.com. Di sana dijlaskan tentang gejala penyakit jantung. Saya kabari istriku. Saya minum air putih hangat. Sekitar pukul 15.30 kami ke dokter Suryadi di Apotek Ratu Farma, Kota Serang.

Apa pun yang ada dan dihadapi harus disyukuri. Sedikit, seuprit, seremeh apa pun. Jangan lupa menimbun rasa syukur, supaya saat berdoa nggak malu-malu karena stok syukur sudah banyak.

Jadilah tempo hari hubby makan siang sambil lihatin aku kepedasan makan tumis terong. Beliau nggak berani makan karena pedas banget. Awalnya aku bilang nggak terlalu pedas, tapi ketika sudah makan, ternyata levelnya tinggi buatku. Sampai terbatuk-batuk aku tuh. Kuingat lagi, wajarlah, cabe rawit tujuh ikut diblender.

Bosan sarapan di dalam rumah, kali ini hubby meminta sarapan di bawah pohon jeruk. Udara pagi yang masih segar, terasa nikmat.

Aku tuh hobi banget bikin ini-itu. eksperimen aja. Siapa tahu hasilnya cocok. Nah, kali ini korban percobaanku ubi ungu. Ayo, ubi ungu jadi apa, yo?

Setiap lebaran, saya harus membagi waktu halal bihalal antara keluarga besar di Serang, Solo, dan Purwakarta. Kali ini setelah di Serang, sambil mengantar Natasha kembali kuliah ke Bandung, Jordy menyetir, kami meluncur ke Purwakarta.

Apa kue favoritmu saat lebaran? Pasti nastar, ya? Kalau saya Khong Guan dan kue gipang? Apa itu kue gipang?

Sebagai penyeimbang asupan supaya tidak oleng, sayur tetap aku konsumsi. Maka jangan heran ada sayur sop dalam piringku bersama gemblong dan rabeg.