Saat itu rumah kami belum selesai seluruhnya. Kamar mandi baru satu, teras belum diatapi, dan lantai masih semen kecuali kamar mandi yang lantainya sudah berkeramik.
Sejarah Rumah Dunia 8: Pindah ke Teras Samping yang Lebih Luas

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Saat itu rumah kami belum selesai seluruhnya. Kamar mandi baru satu, teras belum diatapi, dan lantai masih semen kecuali kamar mandi yang lantainya sudah berkeramik.

Sebuah kondisi yang berbeda dengan saat anak komplek yang datang. Tak ada lemparan batu, dan aku pun tidak bercerita soal itu ke anak-anak. Agak miris melihat dua kondisi ini.

Tetapi yang terjadi ya tetap ada dikotomi anak komplek dan anak kampung. Aku sebenarnya tidak terima dan memilih berpihak ke anak kampung. Tentu tidak kutunjukkan terang-terangan, tapi saat anak kampung datang, aku berusaha menunjukkan lebih banyak informasi dan pengetahuan dari sebuah buku.

Anak-anak Komplek mulai datang ke Rumah Dunia. Aku berharap banyak, agar mereka bisa jadi tandem anak-anak kampung.

Mendengar suara-suara sedikit ribut, suamiku bertanya. Dengan gembira aku beritahu anak-anak itu datang lagi. Rupanya karena kepo, suamiku ikut menemui mereka.

Aku sendiri heran melihat respon mereka, ada ketakutan sikapku salah. Ketika kukatakan hal ini ke suami, beliau menjawab, “Justru itu karena kita telah meng-orang-kan anak-anak itu.”

Anak-anak itu tidak begitu tertarik membaca tumpukan buku itu. Mereka lebih suka bermain bersama Bella dan mengobrol denganku. “Berarti Mamah yang harus membacakan ceritanya,” kata suamiku ketika kusampaikan kejadian itu.

Anak-anak itu awalnya malu-malu, tetap di balik pagar. Tetapi seorang berani mengawali mengambil kue, dan langsung diikuti anak lainnya. Aku sediakan juga minum dari air mineral gelas.