“Penyakit asmamu semakin parah, Sora. Sebaiknya untuk sementara waktu kamu harus pindah ke rumah bibi di desa, ” ucap Ibu.
Perjalanan menuju desa begitu indah. Berbeda jauh dengan suasana perkotaan yang penuh dengan polusi dan suara klakson yang mengusik. Dari balik celah pandang mobil yang dikendarai ibuku, hamparan hijau yang begitu luas menyambut penglihatanku, dipenuhi dengan beberapa kuntum bunga-bunga dandelion dan chamomile yang melambai tertiup angin sepoi-sepoi. Kicauan burung terdengar saling sambut-menyambut dari kejauhan, seolah mengalunkan selamat datang kepadaku.
Kuhirup perlahan udara yang segar nan sejuk ini. Sungguh nikmat rasanya. Helaian rambutku yang tertiup mengikuti arah angin terasa lembut menyapu wajah. Mobil jeep yang kukendarai perlahan menyusuri jalan menanjak, terjadi sedikit guncangan berulang kali-menandakan permukaan jalannya berbatu. Mobil Jeep melambat. Wah, ternyata rumah yang ibuku maksud adalah sebuah bangunan sederhana yang dibangun di atas bukit kecil.
Bibi mulai membantu menurunkan barang-barangku dari atas mobil, dan memperlihatkan padaku ruang kamar yang akan kutempati
“Kamarnya ada di lantai 2, sudah Bibi bersihkan, kok. Ruangannya sangat luas, dan ada jendela yang besar untuk mendukung sirkulasi udara.”
Kuhempaskan tubuhku yang letih oleh perjalanan panjang di atas lantai. Aku meregangkan sejenak otot-ototku yang kaku setelah duduk tegak hampir lima jam.
Tak terasa matahari perlahan turun, hari telah senja. Usai menata rapi isi kamarku, aku membuka tirai jendela untuk mendapatkan sirkulasi yang lebih baik.
“Huh, apa itu?”
Dari kejauhan, samar-samar terlihat sebuah bangunan, bukan hanya sekedar bangunan yang tergeletak begitu saja di permukaan tanah….
Infrastruktur yang terlihat sudah usang namun tetap berdiri kokoh tak jauh dari puncak bukit, menjulang tinggi yang kuperkirakan mencapai tiga puluh lima meter dengan tujuh tingkat, dapat dilihat dari jumlah jendela yang ada.
oOo

Srak srak srak srak
Langkah kakiku terdengar berisik karena berlari di tengah-tengah rerumputan yang begitu lebat. Istana itu bagai memiliki magnet yang menarikku dengan rasa penasaran. Aku takkan tidur dengan tenang sebelum mengetahui isi istana misterius itu!
Kulangkahkan kakiku, sedikit demi sedikit menapaki tangga-tangga kecil yang begitu banyak, sepertinya penuntun menuju pintu utama. Lima menit yang sungguh melelahkan, akhirnya aku tiba pada anak tangga terakhir. Kini dihadapanku nampak pagar besi yang lembab dan dipenuhi karat.
Siiinggg…
Kuraih pagar besi tersebut dengan hati-hati
Aku mulai menyusuri jalan masuk. Langkahku terhenti ketika aku mendengar ada langkah kaki yang mengikutiku.
BUKKKKKK!!!!!!
“WAAW!”
Seseorang menabrakku hingga terjungkal ke dalam. Tanganku berusaha membantu tubuhku untuk bangkit. Namun ubin keramik istana ini sangat licin, dipenuhi oleh lumut hijau.
Seorang anak perempuan sebayaku, dengan rambut blonde dan mata biru yang indah, berdiri tepat di hadapanku.
“MAAF, KUKIRA TIDAK ADA YANG TINGGAL DISINI. SEKALI LAGI AKU MINTA MAAF TELAH MENGGANGGUMU.”
Dengan panik, aku segera menjauh dan berniat untuk berbalik pulang, namun….
“Tidak pernah ada yang ingin berbicara denganku…,” ucap anak itu lirih, terdengar kesedihan yang mendalam dibalik nadanya
Aku membatalkan langkahku, membalikkan badan. Gadis yang rambutnya dikepang dua menyambutku dengan senyum hangat
“Aku benar-benar bahagia ketika mengetahui akhirnya desa ini dikunjungi oleh anak yang sebaya denganku juga. Selama berabad-abad menghuni di sini, aku benar-benar kesepian….”
Aku tertegun.
“Namaku Ayaka,” Ia menjulurkan tangannya, begitu antusias mengajakku berkenalan. Wajahnya nampak berseri
“Sora….” Kuraih tangannya.
Tanganku digenggam oleh Ayaka, ia melompat-lompat dengan girang. Kakinya yang beralaskan sandal balet khas wanita Eropa kuno menapak ringan permukaan padang rumput hijau.
Langit telah gelap gulita. Seberkas pantulan cahaya bulan terlihat jelas, menandakan keberadaan permukaan air. Ayaka menarikku menuju salah satu perahu yang berayun pelan oleh riak-riak kecil di dalam danau.
“Tempat tinggalku sungguh indah bukan? Ini juga didukung oleh kondisi pedesaan yang kini hanya dihuni oleh beberapa ‘orang’ tertentu. Oh ya, paman yang sedang mendayung ini sangat baik! Namanya paman Akio. Aku sering duduk diatas perahu seperti ini, menikmati angin sejuk dan kunang-kunang yang menerangi malam! Hey, aku juga membawa roti! Ayo kita makan bersama-sama!”
Ayaka begitu sibuk bercengkerama denganku sembari kami duduk bersila menikmati roti selai di atas perahu kayu. Kami dikelilingi oleh cahaya-cahaya kecil yang terbang bolak-balik mengitari danau.
Perahu tidak lagi didayung, hanya dibiarkan mengapung dengan tenang, mengikuti laju riak-riak kecil dan arus lembut danau.
oOo
Hari-hari berjalan begitu cepat sejak pertemuanku dengan Ayaka. Ia anak yang benar-benar ceria. Setiap pukul tiga, kami pasti akan bertemu dan menghabiskan waktu bersama, saling bertukar gelak tawa hingga cahaya matahari perlahan memudar.
Berulang kali ia mengajakku mengelilingi istana tua yang selalu tak nampak terkikis waktu lagi setelah aku masuk didalamnya. Begitu megah dan indah.
Aku kemudian menyadari, banyak sekali hal-hal supranatural di dunia ini yang tak dapat dijelaskan dengan logika manusia. Anak tangga yang berbentuk spiral selalu berganti posisi. Dari sebuah gudang kosong yang pintunya dipenuhi lukisan-yang selalu berganti posisi setiap jam, terkadang terdengar dentingan piano yang memainkan nada Moonlight Sonata. Meskipun begitu aku tak terlalu menggubrisnya, hal-hal mistis tersebut sungguh indah bagiku
oOo
Hari ini, bibi memintaku untuk menjaga rumah.
Aku melakukan kembali hobiku yang telah lama aku tinggalkan sejak menetap di sini. Kubuka lembaran buku gambarku dan memulai guratan-guratan tipis dari pensilku
“Hei, kau menggambarku ya?” Suara Ayaka benar-benar mengejutkanku. Secara tiba-tiba, ia telah menampakkan wajahnya yang tersenyum menyapaku
“HWAAA!!!!! Bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku??!!!”
“Hehehe….. Ayo jalan-jalan, cuaca hari ini sangat bagus loh!” Ayaka tak menjawab pertanyaanku
Entah bagaimana, dalam satu kedipan mata, aku sudah duduk bersama Ayaka pada puncak istananya…..
Sayangnya, lima hari kemudian, ibuku mengirim kabar bahwa aku harus segera kembali ke kota karena harus melanjutkan sekolah
“Asmamu sudah mulai membaik kan, Sora? Kamu boleh mulai mengemasi barang-barangmu. Minggu depan, ibu akan menjemputmu” ucap bibiku pagi itu.
“Tidak! Bagaimana dengan Ayaka? Aku harus menemuinya sebelum aku pergi!” gumamku
Segera kukenakan sepatuku dan langsung berlari tergesa-gesa menuju istana Ayaka
“Ayaka… Ayaka!!!” teriakku sembari berlari-larian di halaman istananya
Namun aneh, sudah berkali-kali aku berteriak, Ayaka tak kunjung menghampiriku.
Sudah dua jam aku menunggu kehadiran Ayaka di halaman istananya. Akhirnya aku menyerah dan melangkah pergi, karena cahaya matahari hampir sirna.
Dadaku terasa sangat berat. Asmaku kambuh. Batuk berkepanjangan bukanlah hal baik, terutama aku akan kembali ke kota dalam waktu dekat. Napasku sesak, seolah tiada oksigen.
Udara malam yang dingin menerpa kulitku, sungguh menyiksa pernapasanku.
Bagaimana mungkin Ayaka tidak mencemaskanku?
“Aku benar-benar kecewa denganmu, Ayaka…,” gumamku dalam kesengsaraan
Malam itu aku terjaga sepanjang malam, berjuang mencari selayang udara untuk mengisi paru-paruku.
Bias cahaya lembut dari matahari pagi menyambut mataku yang masih menyipit. Aku tidak mendapat tidur yang cukup, namun aku tetap bangun dengan perasaan bahagia karena asmaku tak separah kemarin malam. Mungkin hanya dikarenakan faktor udara, pikirku.
Aku menghabiskan hari terakhirku di desa kecil ini dengan mengitarinya sendirian. Aku berjalan lambat, benar-benar lesu tanpa kehadiran Ayaka yang pembicaraanya selalu mengundang gelak tawa.
Langkahku tak terhenti hingga aku berpapasan dengan seorang wanita paruh baya dengan penampilan anggun, gaunnya terlihat usang dan wajahnya sangat asing. Ia sedang berdiri menghadap sebuah kanvas besar, tangannya menggenggam kuas yang melukis istana Ayaka-yang terlihat tidak bernyawa lagi di hadapannya. Sekilas pandangan aku mengabaikannya, namun ada sosok gadis yang tidak asing di dalam lukisannya.
“Lukisan yang sangat indah,” pujiku. “Gadis yang berpakaian gaun putih terlihat tidak asing bagiku…. Apakah ibu mengenalnya?”
“Ia adalah teman masa kecilku. Dahulu, dia adalah seorang putri yang tinggal di istana yang megah. Namun, ia ditelantarkan oleh keluarganya. Ia hanya dibiarkan terkurung di dalam kamarnya. Satu-satunya hiburan baginya adalah lagu-lagu klasik yang ia mainkan di piano besar warisan kakeknya. Saat ia menginjak usia dewasa, ia akhirnya menikah dengan seorang pria yang baik hati, dan sejak saat itu aku tak pernah berjumpa dengannya lagi….”
oOo

“Beres!” ucapku setelah selesai mengemasi seluruh pakaian dan barang-barang lainnya. Untuk memastikan tidak ada barang lain yang tertinggal, aku memeriksa setiap sudut dan membuka laci demi laci yang ada.
Semua laci kosong, hingga pada laci kelima yang kubuka…
Sebuah diari usang yang dipenuhi debu, terjatuh tepat di atas kakiku.
Kuusap debu tebal yang melekat pada sampul buku diari dengan hati-hati, dan perlahan terlihat sebuah kalimat yang tertulis pada sampul buku tua ini.
“Diari Ayaka, 1876.”
“Hari yang panjang, seperti biasanya. Dikurung dalam ruangan tanpa pemandangan ini, sungguh membosankan. Tak ada warna yang kulihat. Aku benci hidup dalam istana. Aku ingin tinggal di tempat yang sederhana, namun nyaman dan indah. Meski begitu, aku memiliki seorang sahabat. Pelayan istana seringkali mengusirnya, namun aku senang melihat lukisan yang ia buat. Ia adalah…satu-satunya orang yang mengenalkanku pada warna.”
Apakah Ayaka nyata, atau hanya sebatas arwah yang termakan waktu?
oOo
“Hai, Sora. Ayo kembali ke kota!” Sambut ibuku yang datang untuk menjemputku.
Setelah menyimpan seluruh barang bawaanku ke dalam kabin mobil, aku memandangi pemandangan desa yang asri ini sejenak, sebelum aku kembali kedalam kepadatan kota. Aku termangu, masih tak menyangka bahwa Ayaka mungkin hanya sekedar imajinasiku.
Ibuku mulai menyetir mobil, menyusuri jalan kecil keluar dari desa. Kutatap sketsa wajah Ayaka di buku gambarku
“Sora… Sampai jumpaaa!!!”
Suara itu akhirnya kembali terdengar ketika mobilku melewati halaman istana yang kembali bernyawa dan berseri. Samar, dari salah satu jendela istana, kulihat Ayaka tersenyum hangat, melambaikan tangannya ke arahku, mengucapkan selamat tinggal
“Mungkin aku takkan melihatmu lagi, Ayaka…”
oOo
TENTANG PENULIS: Nama saya Cathleen, usia saya empat belas tahun dan masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Harapan saya, setiap rangkaian kata yang saya susun bisa menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Nomor rekening: 089530823751 (Shopeepay)

