Suara berisik dari arah dalam kamar terdengar. Karin sedang memindahkan barang lamanya ke dalam kardus. Barang-barang itu terlihat sangat kotor dan berdebu.
Beberapa buku novel dan buku komik yang ia baca dulu sewaktu ia SD, di masukan ke dalam kardus, namun dia menemukan sebuah amplop kertas yang terselip dalam buku hariannya dulu.
Ia mengambil amplop kertas itu. “Eh, ini apa?”
Di amplop itu ada sebuah tulisan. ‘Hai diriku si siswi SMP!’.
Karin akhirnya ingat, itu adalah surat yang dia buat ketika masih SD.
Ia ingat, alasan dulu ia membuat surat itu karena merasa ingin seperti kakaknya yang sudah SMP, ia dulu sangat penasaran bagaimana menjadi siswi SMP.
Ia dengan hati-hati, membuka amplop itu dan mengambil secarik kertas yang ada di dalamnya. Karin melihat isi dari surat itu, tulisan dari surat itu sedikit berantakan namun masih bisa untuk dibaca.
“Hai Karin SMP!!! Gimana rasanya jadi kamu? SMP serem gak sih? disana banyak orang gede ya?”
Karin tertawa dan merasa geli dengan isi surat yang dibuatnya dulu.
“Eh tapi btw. kamu udah gak grogikan kalo ngomong di depan kelas? kamu punya banyak teman kan? Hehe, Pasti banyak orang yang Suka main sama kamu kan? orang-orang suka kamu karena kamu murid yang ceria! Pasti aku dan kamu yang sekarang beda, yakan?!”
Senyum Karin langsung menghilang setelah membaca kalimat-kalimat itu. Dirinya yang dulu mengharapkan ia menjadi siswi yang ceria, banyak teman, dan tidak grogi jika berbicara di depan kelas.

Dan yang dia harapkan dulu tidak terjadi.
Dia masih sama seperti dirinya yang dulu.
Di malam hari setelah makan malam, Karin berjalan ke ruang tamu, lalu duduk di salah satu Sofa.
Di sebelah nya ada kakak laki-lakinya yang sedang bermain game di handphonenya.
“uhm… Kak,” Panggil Karin kepada kakaknya.
“Hm?…,” Rakha tetap fokus pada gamenya.
Karin tampak ragu sejenak sebelum menyerahkan surat yang dibuat dulu kepada kakaknya. “Aku nemu surat itu tadi.”
Rakha menerima surat itu. Ia mulai membaca surat itu lalu tertawa. ”Haha.. kamu dulu nulis ini pas masih SD? ‘SMP serem gak sih?’ Hahaha!” ucap Rakha ketika membaca isi surat itu.
Karin cemberut melihat tingkah laku kakaknya. “Ih…apaan sih?! Kak, yang mau aku omongin tuh bukan itu,” ucap Karin dengan nada sedikit kesal.
“Ya terus apa?” tanya Rakha dengan tawa kecil.
Karin menunduk, tanganya mencengkeram erat ujung bajunya. “Yang aku harapkan di surat itu gak jadi kenyataan… Aku jadi ngerasa gagal…” kata Karin dengan suara lirih, namun masih bisa didengar oleh Rakha.
Rakha menatap adiknya. Ia mematikan handphonenya lalu berbalik menghadap kepada adiknya. “Hei Dik, dengerin ya. Kamu ngga gagal, kamu cuma tumbuh dengan ekspektasi yang berbeda dengan yang kamu harapkan dulu.”
Karin terdiam, menatap mata Rakha. Ia berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Rakha. “Tumbuh? Apa maksudnya?”
Rakha menghela nafas, ia mengangkat tangannya lalu mengacak-acak rambut Karin. “Dulu kamu takut sama SMP kan? Kamu dulu bilang kalau SMP itu seram. Tapi coba lihat kamu yang sekarang, kamu tetap bisa bertahan jadi siswi SMP biasa dan gak mikir kalau SMP itu menyeramkan.”

Rakha menurunkan tanganya dari kepala adiknya. “Kamu tau gak? Dulu aku juga waktu SMP punya keinginan kalo udah jadi SMA, aku pengin jadi siswa populer yang disukai banyak orang, terutama.. populer di kalangan cewe-cewe, hehe…” ucap Rakha dengan tawa.
“Tapi kenyataanya, aku sekarang yang sudah jadi siswa SMA malah cuman main Game di pojokan doang.”
Rakha tersenyum, ia menatap adiknya dengan tatapan lembut. “Jadi… jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jangan mikir kalau kamu itu gagal. Walaupun harapan yang kamu inginkan tak tersampaikan. Biasanya kita bakalan tumbuh tanpa kita sadari.”
Karin menghela nafas lega. Tapi sebelum dia bisa lebih lama merenung, suara Rakha terdengar, “Jadi…” ia tersenyum jahil. “Kapan kamu traktir aku karena udah dengerin curhatanmu?”
Karin tertawa kecil mendengar ucapan dari kakaknya.”Gak ada traktir-traktiran,” ujarnya dengan nada bercanda.
Rakha cemberut, mengalihkan pandangannya lalu melanjutkan gamenya lagi. “Ish, kamu gak asik.”
Karin hanya tertawa kecil melihat kakaknya yang cemberut.
Sekarang Karin merasa lega. walaupun yang dulu ia harapkan tidak terjadi, setidaknya dia tetap tumbuh menjadi dirinya yang sekarang.
oOo


TENTANG PENULIS: Siti Lasmini, adalah seorang penulis muda yang lahir pada tanggal 11 November 2011 di Banjarnegara. Saat ini, Siti Lasmini masih duduk di bangku SMP. Ia berasal dari SMP negeri 2 satu atap pagedongan. Ia memiliki cita-cita menjadi seorang penulis sukses yang berhasil menerbitkan banyak buku.

CERPEN ANAK: Mulai Juni 2025 ada kategoi baru, yaitu Cerpen Anak. Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Silakan dikirim. Edisi perdana 7 Juni 2025. Jangan sampai ketinggalan.



