Oleh: Maria Laras Wati Candra Sari
Di antara banyaknya destinasi wisata terkenal di Jogja, wisata edukasi sering kali terlupakan. Padahal, beberapa di antaranya menawarkan pengalaman unik tanpa biaya masuk.
Sebagai orang asli Jogja, saya juga suka mengunjungi wisata-wisata daerah, apalagi kalau ‘gratis’. Ya, gratis! Salah satunya adalah jenis wisata edukasi, seperti Museum. Kali ini saya akan membagikan pengalaman bersama dua keponakan dan kakak saya ketika mengunjungi Museum TNI AD Dharma Wiratama.
Museum TNI AD Dharma Wiratama bertempat di Jl. Jenderal Sudirman no. 47 Yogyakarta, tepatnya berada di perempatan yang sama dengan toko buku Gramedia. Lama perjalanan yang ditempuh dari rumah saya yang berada di Jl. Wonosari km.9 menghabiskan 20 menit jika berkendara dengan sepeda motor. Lokasinya cukup strategis serta mudah untuk ditemukan karena jalan yang dilewati adalah jalur searah dan pintu masuk berada di sebelah utara jalan.

Parkirannya sangat luas, dan dihiasi oleh beberapa tank dan meriam lawas yang memiliki nilai sejarah. Tidak ada tiket untuk memasuki area gedung, namun kita harus mengisi daftar kunjungan tamu di pos penjaga yang tak jauh dari pintu gerbang, tentu saja gratis.
Museum TNI AD Dharma Wiratama dibangun pada tahun 1956 oleh DISJARAHAD atau Dinas Sejarah Angkatan Darat, yang awalnya dikenal dengan sebutan SMAD. Museum itu sendiri awalnya berada di tanah Komplek Ndalem Brotokusuman 24, kemudian dipindahkan ke Jl. Bintaran Wetan No.3 (Bekas kediaman Jenderal Sudirman), dan pada akhirnya dipindahkan ke Jalan Jenderal Sudirman yang sampai sekarang masih berdiri dengan gagahnya.
Kesan yang kentara ketika memasuki gedung Museum adalah bangunannya yang unik, dibuat dengan apik oleh para seniman. Ada sebuah dinding yang berlubang dengan patung-patung prajurit yang melewatinya, menandakan jejak perjalanan TNI AD pada zamannya kala itu.


Lorong-lorong dibuat searah, dan pada tiap lorong diisi dengan cerita sejarah. Dipojokan lorong terdapat tumpukan-tumpukan karung yang diisi dengan tanah, menggambarkan sebagai tempat persembunyian dan benteng bagi prajurit perang.
Barang-barang peninggalan seperti alat perang dari jaman gerilya seperti bambu runcing dipampang bersamaan dengan senapan laras panjang lengkap dengan selongsong pelurunya. Dilanjutkan dengan ruangan yang menyisakan sejarah seperti peristiwa-peristiwa heroik yang terjadi bersama dengan pahlawan yang berperang dalam peristiwa tersebut.

Pada tiap peristiwa, terdapat diorama mini. Diorama tersebut melengkapi cerita yang membuat kita merasakan perjuangan para pahlawan yang berjuang mengusir penjajah dari tanah air. Sambutan yang menjadi ciri khas adalah suara dari pemutaran narasi yang berasal dari speaker dalam ruangan, membuat ceritanya nampak semakin nyata.

Semakin masuk kedalam, ada sebuah mini bioskop yang memutarkan sejarah yang khas dengan layar hitam putihnya. Suara gaduh dari rudal dan meriam yang didengarkan membuat suasana mencekam seperti dalam perang.
Pada proyektor yang diputarkan terdapat pula sensor gerak yang membuat siapa saja yang masuk pada area pantulan memasuki layar dengan background battle field. Keponakan saya yang antusias sangat suka bermain di tempat ini. Mereka juga bermain game virtual yang sama-sama menggunakan sensor gerak terletak di sebelah kanan ruang bioskop.

Disebelah kiri ruang bioskop, terdapat etalase penyimpanan peralatan medis milik Dr. Irsan dan Dr. Mustopo pada tahun 1946-1948. Peralatan tersebut masih sangat lengkap, tersimpan rapi dan menyisakan kengerian kala itu. Ketika melihat alat medis tersebut, membuat saya berfikir, apakah kala itu sudah ada obat bius? Jika tidak, menilik dari peralatan yang ada, pasti orang yang diobati atau dioperasi akan merasakan sakit yang luar biasa.
Lanjut dari ruang bioskop, ada sebuah lorong panjang dengan berbagai kisah pilu. Gambaran korban yang bergelimpangan di arena perang terbingkai jelas dalam sejarah. Dampak peperangan yang dibahas di dalamnya beserta bangunan yang remuk terpotret di sebelah kiri lorong. Sedangkan di sebelah kanan lorong terdapat senapan-senapan laras panjang yang berjejer beserta dengan helm perang.
Gambar potret hitam putih menjadi saksi dari kekejaman masa perang yang sangat lama dan perjuangan dari pahlawan-pahlawan Indonesia. Jejak-jejak yang mengerikan saat terjadinya peristiwa G30S/PKI 1965 juga menorehkan cerita pilu.

Bagaimana tidak? Meski Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, para pemuda menjadi terpecah belah dan melakukan pemberontakan akibat ketidakpuasannya terhadap kepemimpinan Jenderal Soekarno yang dibilang ‘lembek’. Peristiwa tersebut membuat pengikut Jenderal Soekarno, yakni para petinggi ditangkap dan dibunuh.
Setelah perjalanan ruang sejarah TNI AD berakhir dengan gugurnya para pahlawan dan merdekanya bangsa Indonesia, ada sebuah ruangan peninggalan berupa bendera-bendera partai saat itu. Kemudian atribut perang seperti seragam pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dengan warna dan gaya yang beragam. Disebelahnya terdapat ruangan yang dilengkapi dengan meja serta kursi sebagai tempat rapat, dan satu podium tua.
Peran TNI AD Setelah Sejarah
Setelah ruangan sejarah berakhir, ada salah satu ruangan yang menceritakan bagaimana peran sejarah yang memilukan, penuh perjuangan dan peperangan mempengaruhi peran TNI pada masa kini. TNI pada masa kini masih mengambil peran dalam pertahanan.
TNI terus menjalankan tugas pokoknya untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia dari berbagai ancaman, baik dari luar maupun dalam negeri. TNI mampu menghadapi tantangan masa kini seperti ancaman terorisme, separatisme, dan konflik lainnya. Keberadaan TNI di perbatasan dan daerah rawan menjadi ujung tombak dalam menjaga stabilitas nasional.

TNI AD juga berperan sebagai tenaga pengajar atau motivator di sekolah-sekolah, terutama di wilayah yang kekurangan guru, memberikan wawasan kebangsaan, disiplin, dan semangat bela negara kepada generasi muda, sehingga secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia diIndonesia secara merata.
Dalam tugas kemasyarakatan, TNI berperan dalam kegiatan kemanusiaan dan penanggulangan bencana. Indonesia sebagai negara yang rawan terhadap bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan kekeringan, menjadikan TNI sebagai garda terdepan dalam operasi bantuan kemanusiaan.
Setelah menjejaki lorong dari cerita sejarahnya yang panjang hingga peran TNI AD saat ini, terdapat satu ruangan proyeksi yang menjadi final destinasi. Hampir sama dengan ruangan bioskop, namun ruangan ini tidak disertai dengan pemutaran film, disebut ruang foto. Proyeksi kita akan tampil di layar jika berdiri di titik tertentu, namun dalam proyeksi layar, kita dapat mengenakan baju perang beserta atributnya lengkap.

Setelah keluar gedung dari pintu belakang dan dalam perjalanan menuju tempat parkir, bagian samping timur bangunan terdapat taman bonsai yang ditata rapi. Tempat tersebut digunakan untuk perlombaan bonsai yang belum lama ini dilangsungkan.
Menurut saya ini merupakan pemandangan yang unik dan tidak biasa karena dibawah bonsai ditanamkan juga sejenis tumbuh-tumbuhan lumut yang berwarna terang, yang menambah poin tersendiri. Berhubung rumah kami dekat, kami tidak mampir-mampir ke tempat makan, jadi kami langsung pulang setelah puas melihat-lihat bagian taman.
Kesan yang Mengena
Mengunjungi Museum TNI AD Dharma Wiratama tidak hanya memberi wawasan mendalam tentang perjalanan sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan menghormati jasa para pahlawan serta memperkuat semangat patriotisme di era modern.

Tempat ini menjadi destinasi edukatif gratis yang cocok bagi keluarga, pelajar, maupun pecinta sejarah, sekaligus menjadi pengingat akan keberanian dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dan keutuhan NKRI.
Dengan suasana yang penuh makna dan pengalaman yang mendidik, Museum ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi di kota Jogja, tanpa perlu mengeluarkan biaya, namun memberikan nilai yang tak ternilai bagi setiap pengunjung.
Tentang Penulis:
Maria Laras Wati Candra Sari, seorang mahasiswa Psikologi di sebuah kampus swasta di Babarsari, Yogyakarta.

TRAVELING setip hari Jumat. Nah, kamu punya cerita traveling? Tidak selalu harus keluar negeri, boleh juga city tour di kota sendiri atau kota lain masih di Indonesia. Antara 1000-1500 kata. Jangan lupa transportasi ke lokasi, kulinernya, penginapannya, biayanya tulis, ya. Traveling diluar negeri juga oke. Fotonya 5-7 buah bagus tuh. Ada honoarium Rp. 100.000. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dan golagongkreatif@gmail.com dengan subjek: traveling.


