Oleh Zaeni Boli
Kamis, 20 November 2025, bertempat di Sekretariat TBM Lautan Ilmu, Club Baca Sura Dewa kembali berkumpul untuk melakukan pertemuan rutin berbagi pengalaman membaca ataupun membuat karya. Club Baca Sura Dewa yang baru didirikan ini mencoba menjaga semangat bersama dari minat yang sama, yakni pada bidang literasi, baik membaca maupun menulis, juga berdiskusi kecil. Hadir pada hari ini Ayu, Tasya, dan Alin. Ini bukan hanya soal jumlah, tetapi soal semangat.
Ayu mendapatkan kesempatan pertama untuk kembali menceritakan karya tulis yang pernah ia ikutsertakan pada lomba menulis opini terkait karya sastra di era digital. Ada kegelisahan bahwa sudah jarang orang menulis karya mereka di buku diari; lebih banyak yang menulis di media sosial yang rentan terhadap plagiasi. Karya Ayu sendiri adalah sebuah perbandingan dan persamaan antara karya Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya dan karya sastra yang ditulis oleh penulis Adonara, yang namanya Ayu lupa.

Selain Ayu, Tasya juga mendapatkan kesempatan bercerita tentang karyanya. Namun, Tasya lebih ingin berbagi tentang prosesnya dalam menulis cerpen yang ia hasilkan hingga meraih prestasi di Agenda Bulan Bahasa beberapa waktu lalu.
Lain Tasya, lain pula Alin. Alin mengaku dalam beberapa minggu ini lebih fokus menonton film. Maka, Alin diberikan kesempatan untuk menceritakan kembali apa yang ia tonton. Adapun film yang Alin tonton bercerita tentang kasus bullying yang terjadi di kalangan remaja—sesuatu yang memang relevan, banyak terjadi saat ini, dan membutuhkan perhatian khusus dari orang dewasa atau pemerhati pendidikan karena ada potensi bahaya dari maraknya bullying di lingkungan pendidikan.

Banyak hal menarik terjadi sore ini di TBM Lautan Ilmu, tempat mereka bertemu. Club Baca Sura Dewa adalah ruang sederhana untuk remaja, khususnya peserta didik SMK Sura Dewa, untuk mengekspresikan diri dan melatih keberanian bersuara di depan publik, dimulai dari lingkaran kecil dan semoga makin terlatih jika saatnya tiba di forum-forum yang lebih besar.


