Cerpen Anak: Siapa yang Akan Menang Karya Nasywan Rizkia

Setiap musim panas, sekolah sihir Nusantara selalu mengadakan Lomba Sapu Terbang. Pertandingan yang sangat dinantikan para murid di sana. Siapa yang cepat sampai di garis finis, ia akan dihadiahi sebuah piala emas. Dan ini tahun pertama bagi Popay untuk mengikuti perlombaan tersebut.

”Kamu pasti bisa menang! Aku yakin,” seru Berto sembari menepuk-nepuk pundak Popay. Dia selalu mendukung laksana tongkat setia.

Popay mengangguk semangat. Tekadnya untuk mengikuti lomba sudah bulat.

Dari belakang, Pitu si senior datang lalu mendorong bahu Popay. Sementara di belakangnya, dua temannya yang bernama Rio dan Marri tertawa sinis.

”Aku yang akan menang. Dan cuman aku,” tegas Pitu. Dia menunjuk-nunjuk tepat di depan wajah Popay.

Popay hanya diam. Bukan tidak berani melawan, tapi dia tak mau mencari masalah. Ditambah ia sudah terbiasa menghadapi kelakuan tiga sekawan itu sejak pertama kali masuk ke sekolah ini.

Saat awal-awal masuk sekolah, Popay sebenarnya tidak mau berhadapan dengan Pitu. Karena geng Pitu terkenal sebagai anak-anak yang selalu bermasalah. Namun, satu kejadian mengharuskan mereka berseteru. Popay sendiri sudah berusaha untuk melupakan masa-masa itu. Tetapi, Pitu beserta teman-temannya hingga sekarang masih saja mengungkit-ungkit dan menyimpan dendam pada Popay.

Pitu dan geng kemudian pergi. Menghilang di ujung lorong.

”Mereka itu …,” geram Berto.

”Tenang, Berto. Kamu nggak boleh terbawa emosi. Kayak nggak tahu mereka aja.”

”Hai!” Cio, anak dari klub fotografer, tiba-tiba muncul.

”Wah! Kamera baru, ya?” Popay mendapati kamera yang sebelumnya tidak pernah dia lihat tergantung di leher Cio.

Cio mengangguk. Dia kemudian memegang kameranya, bersiap untuk memotret. Sebuah kilatan pun muncul.

”Hei!” protes anak lelaki yang baru saja Cio foto. Dia kesilauan.

”Maaf, Kawan!” ujar Cio. Tersenyum lebar sampai gigi kelincinya terlihat.

”Lihat ini.” Cio menyodorkan hasil potretannya kepada Popay dan Berto.

”Wow!” seru Berto, ”Hasilnya jelas banget. Padahal tadi orangnya lagi lari.”

”Kamera ini hadiah dari sayembara waktu itu. Mau aku pakai buat ngambil foto di perlombaan nanti,” kata Cio bersemangat.

Cio kemudian melirik arlojinya, ”Ah, aku harus cepat-cepat masuk kelas. Nanti lagi, ya!” Dia berlari meninggalkan keduanya.

Setelah Cio pergi menjauh, Berto kembali ke topik awal, ”Well, kalau kamu mau ngalahin Pitu, kamu harus latihan yang serius.”

Popay mengepalkan tangan dan mengangkatnya setinggi dada, ”Tentu.”

Untuk membuktikan kepada Pitu jika ia juga pasti bisa menang. Lima hari berturut-turut menjelang lomba, Popay terus berlatih bersama Berto di lapangan setiap setelah menghadiri kelas belajar. Tidak ada kata lelah. Sampai akhirnya, tibalah hari di mana perlombaan pun dimulai.

Pagi ini, di sirkuit sapu terbang, suasana begitu ramai. Anak-anak dari setiap asrama bersorak riang menyemangati tiap-tiap perwakilannya.

”Semuanya … sudah siapkah kalian melihat pertandingan hari ini?” sambut Pak Made yang menjadi pembawa acara pada lomba kali ini. Bak harimau lapar di tengah lapangan, dia sungguh bergairah.

”SIAAPPP!!”  Penonton menjawab serentak.

”Sebelum lomba dimulai, saya akan membacakan lebih dulu peraturan dan ketentuan yang berlaku. Agar perlombaan bisa berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan atau kecurangan sedikit pun,” ucap Pak Made. Suaranya menggelegar.

”Pertama, para peserta tidak diperbolehkan membawa tongkat sihir. Dan kedua, para peserta dilarang melakukan kontak fisik. Jika ada yang melanggar salah satunya, maka peserta tersebut akan langsung didiskualifikasi!” lanjut Pak Made, ”Tanpa berlama-lama lagi ….”

Sorakan penonton terdengar lebih keras dari sebelumnya.

Para peserta mulai mengambil ancang-ancang di garis start. Popay dan Pitu bersebelahan di barisan belakang. Mereka saling melirik. Kemudian keduanya memegang sapu terbang masing-masing dengan lebih erat.

Dalam hitungan ketiga, setelah terompet menjerit, para peserta langsung melesat terbang. Dedaunan dan debu di tanah berhamburan.

Persaingan ketat terjadi. Semuanya saling menyalip. Terutama Popay dan Pitu. Mereka tahu-tahu telah berada di barisan paling depan.

”Kamu tidak akan bisa menang!” Samar-samar Popay mendengar teriakan Pitu yang terbawa angin.

Pitu lalu meninggalkan Popay jauh di belakang.

Tidak tinggal diam, Popay langsung berusaha menyusul Pitu. Kini, jarak di antara keduanya hanya sejauh lima jengkal.

Popay dan Pitu bergantian memimpin di depan. Namun sekarang, giliran Pitu yang ketinggalan di belakang sana.

Sungguh sengit! Para penonton terpukau.

Satu putaran akhirnya terlaksana. Tinggal dua putaran lagi.

”Dan … ini dia putaran kedua! Masih dipimpin oleh Popay!” ujar Pak Made.

Beberapa menit berlalu. Popay tetap berada di paling depan. Sepertinya para penonton sudah bisa menebak siapa yang akan menjadi bintang pada Lomba Sapu Terbang tahun ini.

Garis finis tinggal beberapa meter lagi. Saat pandangan Popay fokus ke depan. Di belakang, Pitu diam-diam mengeluarkan sedikit tongkat sihir dari balik jubahnya. Dia kemudian merapalkan sebuah mantra dan mengarahkan tongkatnya ke sapu terbang Popay. Tidak ada penonton yang menyadari kejadian tersebut, bahkan Pak Made. Dan di waktu yang bersamaan, sekilas muncul kilatan dari barisan penonton.

Seketika sapu terbang Popay oleng. Terbang ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri tanpa henti, serta sesekali berputar. Membuat Popay terguncang. Dia hampir terjatuh. Tetapi utungnya ia masih bisa bertahan.

”Oh, tidak! Apa yang terjadi kepada Popay?”

Peluh di dahi Popay bercucuran. Tinggal sedikit lagi! batinnya.

”Lihat! Siapa yang kini berada tepat di belakang Popay?”

Pitu tersenyum kikir. Ia menyalip, dan menjadi yang pertama mengakhiri putaran terakhir. Kemudian disusul Popay bersama sapu terbangnya yang masih tidak terkendali. Dilanjut para peserta lainnya.

”Yuhuuu!” seru Pitu kegirangan.

Popay terjatuh dari sapu terbangnya. Menatap Pitu dengan pasrah.

”Apa yang terjadi pada sapu terbangku?” Popay bertanya-tanya.

”Ini dia! Pemenang Lomba Sapu Terbang pada musim panas tahun ini!” Dengan membawa piala emas, Pak Made melayang menghampiri sang juara.

Semuanya bersorak-sorai gembira.

Namun, sorakan itu sirna seketika saat Cio tiba-tiba menyela, ”Tunggu dulu!” Sambil memegang kamera, dia ke luar dari barisan penonton. Terbang ke tengah-tengah sirkuit.

”Lihat itu!” Cio menunjuk layar besar yang seketika muncul. Sebuah foto yang memperlihatkan kecurangan Pitu tadi.

Semua orang bingung dan tercengang, terutama Popay. Sementara Pak Made langsung melemparkan tatapan kecewa pada Pitu. Wajah Pitu seperti tidak percaya kalau kecurangannya bisa ketahuan. Rasa malu berkobar dalam dirinya. Tidak tahan mendengar cibiran para penonton, ia lalu pergi menggunakan sapu terbangnya.

”Berarti, juara kita yang sebenarnya adalah …,” seru Pak Made. Mengembalikan suasana.

Seluruh orang menyerukan nama Popay. Pak Made menyerahkan piala emas kepadanya. Tepukkan tangan menggema dari semua penonton.

Berto turun ke sirkuit. Memeluk sahabatnya itu. Bagai burung yang terbang bebas, sukacita bergejolak di hati Popay.

oOo

TENTANG PENULIS: Halo semuanya. Perkenalkan, nama saya Nasywan Rizkia, kerap dikenal dengan nama pena Awan Biru. Saya anak kelahiran 2009 yang sangat menggemari dunia kepenulisan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya bercita-cita menjadi penulis terkenal seperti Tere Liye atau J.K. Rowling. Untuk mengenal lebih lanjut, silakan kunjungi Instagram saya: @awanbiruhere_

CERPEN ANAK: Mulai Juni 2025 ada kategoi baru, yaitu Cerpen Anak. Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Silakan dikirim. Edisi perdana 7 Juni 2025. Jangan sampai ketinggalan.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==