Cerpen Gol A Gong: Di Parkiran Mal

            Aku tiba di ATM Center, yang posisinya sejajar dengan jalan raya. Rupanya ini strategi baru, agar orang-orang bisa dengan cepat mengambil uang tanpa perlu masuk ke areal mal. Sebetulnya aku bisa saja mengirim uang di dalam mal secara e-banking sambil makan siang. Tapi entahlah, aku ingin menikmati antrean, memijit angka-angka, mengambil dan merasakan lembutnya uang kertas yang keluar dari mesin ATM.

            Di dalam ATM Centre ada 3 orang sedang mengambil uang. Aku menuju mesin ATM  keempat. Ketika hendak memasukkan kartu ke mesin ATM, aku melihat 3 lelaki keluar dari dalam mobil. Mereka menjinjing 3 tas besar, bergegas menuju pintu mal.

            Setelah semuanya beres, aku keluar dari ATM Center dan menelepon Syifa. Tapi tidak diangkat. Aku mengirim voice note saja, “Nak, Mama sudah transfer untuk keperluan praktik. Sun sayang.”

Aku masukkan HP ke tas jinjing yang terbuat dari kulit pohon pisang, berjalan melewati lorong yang terbentuk dari deretan mobil. Hari Minggu areal parkir mal ini penuh sesak ibarat pabrik mobil.

            BUM!

            Telingaku pekak. Ledakan itu sangat keras. Aku berlari ke pintu utama mal. Orang-orang berlarian ke luar. Orang-orang berteriak. Orang-orang jatuh bergulingan dan saling injak.

            “Aldy!” aku berteriak-teriak memanggili anakku.

            BUM!

BUM!

Tubuhku terlempar membentur bodi mobil. Punggungku terasa sakit. Aku berusaha bangkit.

“Aldy,” suaraku tenggelam oleh jeritan dan tangis orang-orang. Air mataku berubah hitam, tumpah ke aspal parkiran mal. Air liurku menyumbat tenggorokan terasa pahit.

“Maafkan Mama, Aldy,” aku hanya menatap mal yang megah itu runtuh mengubur Aldy. Ya, Allah!

Beberapa orang lalu-lalang bermandikan darah. Ada yang dipapah temannya, dibopong, dipangku. Anak-anak dan orang dewasa yang terluka dibaringkan di aspal parkiran. Awan hitam berkabung di langit, menyembunyikan matahari.

Aku melihat 3 orang lelaki tadi berjalan tergesagesa. Tiga tas besar itu tidak ada lagi. Aku langsung mendapatkan tenaga besar. Aku bangkit. Aku berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk, “Itu, itu terorisnya! Mereka yang meledakkan mal!”

Ketiga orang itu kaget dan mempercepat langkah menuju mobil, tapi beberapa petugas parkir menghalangi. Aku berteriak lagi.

Mereka terlibat perkelahian. Ketiga orang itu sangat mahir bela diri. Orang-orang semakin banyak berdatangan dengan membawa berbagai alat seperti tang, obeng, rantai, kunci pas  – mereka mengepung.

Ketiga orang itu terdesak. Amarah dilampiaskan. Darah muncrat ke mana-mana.

Aku hanya menangisi kepergian Aldy yang malang seperti ayahnya.

*) Surabaya 2 November 2022

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Ceritanya singkat, tapi penuh dan membuat hati puas. Meski endingnya menyedihkan, tapi benar-benar tak terduga. Terima kasih Pak Gol A Gong, satu kisah yang bisa saya jadikan satu pembelajaran jika ingin membuat cerita dengan plot twist yang mengejutkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==