Rudi berdiri merapat ke tembok. Tubuhnya terhalang tanaman pucuk merah. Awalnya dia tidak mau melihat ke dalam cafe. Tapi Yanto membalikkan tubuhnya dengan paksa.
“Ayo, lihat, sana! Kamu harus kuat! Ini bukan hoax!”
Rudi dengan dada ibarat sedang ada badai, melihat ke dalam café secara leluasa. Cahaya temaram melindungi keberadaannya. Badai di dadanya mengamuk.
“Tuh, mereka! Dasar!” Yanto merapat ke tubuh Rudi; dia juga melihat ke ruangan dalam café. “Alex emang bengsek! Agnes juga!”

“Ssst! Jangan keras-keras,” Rudi mendorong tubuh Yanto dengan halus agar menjaga jarak. Dia risih ketika beberapa pengunjung cafe yang hendak pulang naik motor melihat kepadanya.
Sejak tadi kedua mata Rudi tidak berkedip, menatap marah kepada Alex dan Agnes, yang duduk bermesraan di sudut café. Tangan Alex membelai punggung tangan Agnes. Candle night menghiasi meja mereka.
“Sekarang kamu percaya kan! Aku nggak nyebar hoax kan!” Yanto tersenyum, mendekat lagi ke Rudi. “Alex nggak bisa dipegang janjinya kan!” Yanto merasa di atas angin dengan apa yang disampaikannya.
“Aku nggak nyangka! Agnes biang keroknya!” Rudi mengepalkan tangan kanannya. “Padahal aku kurang apa coba sama Alex! Brengsek!”
“Pagar makan tanaman! Temen makan temen!” Yanto tertawa menang.
Rudi menjambak-jambak rambutnya dengan kedua tangannya. “Nyesel juga udah ngenalin Agnes sama Alex!”
“Dibilangin, nggak mau denger! Sudah! Lupakan Alex! Lupakan Agnez! Mereka toxic, tau!”
“Bagaimana bisa!”
“Aku bilang kan, jangan percaya sama Alex! Dia mendua!”
“Ah!” Rudi membalikkan badan. Dia menengadah, melihat ke langit. Batinnya berontak, hidup selalu ibarat siang dan malam!
“Rud! Masih ada aku yang mencintaimu!” Yanto yang sejak tadi berdiri gelisah meraih tangan kiri Rudi, meremasnya dengan perasaan sayang tapi was-was.
“Jangan, To…”
“Aku serius, Rud…”
Rudi menepis tangan Yanto dengan halus. “Aku mohon maaf. Tanpa bermaksud menyakitimu. Kita berteman saja!”
“Kamu lihat sendiri kan! Apa yang sudah Alex lakukan sama kamu!”
“Biarkan saja! Sekarang aku memikirkan omongan Mama! Selama ini aku dan Alex sudah salah jalan!”
“Rud!”
“Sadarlah, To! Apa yang kita lakukan ini salah jalan!” Rudi membalik, pergi, dan meninggalkan Yanto yang berdiri mematung.
Yanto menjerit dan berlari mengejar Rudi. Tangan kanannya yang seperti penari ketika berlari menjadi bahan tertawaan orang-orang.
*) Rumah Dunia 20 Mei 2022

GOL A GONG – Lahir di Purwakarta 15 Agustus 1963. Menulis 125 buku berupa novel, antologi cerpen, antologi puisi, travel writing, esai, dan parenting. Buku puisi “Air Mata Kopi” (Gramedia, 2014) masuk 10 besar Hari Puisi Indonesia 2014. Mengelola Komunitas Rumah Dunia di Serang Bante. Buku terbarunya Gong Smash (Epigraf). Sejak 30 April 2021 diamanahi meneruskan perjuangan Najwa Shihab sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025.

REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


