Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman, dia merasa sangat bahagia sekali, karena bisa terpanggil interview kerja setelah dua bulan menganggur usai lulus Sekolah Menengah Atas.
Selama dua bulan di rumah, Nala sering uring-uringan, merasa tidak berguna karena kerjaannya hanya tidur dan makan. Bahkan, Nala juga menahan dirinya untuk memendam keinginannya dalam berbelanja, padahal jauh dalam lubuk hatinya dia ingin membeli baju baru, serta keperluan lainnya.
Nala seringkali mengeluh saat sekolaH, karena dia tidak bisa mengikuti zaman seperti anak-anak pada umumnya. Boro-boro beli pakaian baru untuk bermain, uang sakunya saja hanya cukup untuk membeli cilok.
“Udah jam delapan? Wah, bisa-bisa aku terlambat ke sana.” Nala melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, perempuan itu kali ini melangkahkan kakinya dengan cepat, dia memang sengaja tidak menaiki angkutan umum, karena uangnya untuk beli es teh dan makanan ringan lain saja sepulang interview. Akan tetapi, jika begini jadinya, sepertinya dia akan memilih untuk tidak membeli jajanan tersebut dan memutuskan untuk naik angkutan umum. Dikarenakan sudah terlanjur, Nala kembali melanjutkan perjalanannya, lagipula jarak ke tempat yang dituju tinggal sebentar lagi juga sampai.
Benar saja, Nala terlambat. Namun, untung saja dia masih diberikan kesempatan untuk tetap memasuki ruangan.
Selama di ruang tunggu, Nala tidak mempunyai teman untuk berbincang, meski sebenarnya di sana terbilang ada beberapa orang yang juga sepertinya, menunggu giliran diinterview. Perempuan berambut sebahu itu tidak mempunyai keberanian untuk berkenalan pada orang yang belum ditemuinya sama sekali, makanya dia memutuskan untuk tetap diam sembari menunduk, pikirannya saling beradu seolah tercampur menjadi satu.
Tidak lama kemudian, Nala dipanggil. Sebelum memasuki ruangan, dia mengembuskan napasnya dengan kasar berusaha untuk menenangkan dirinya. Perempuan itu berusaha untuk percaya diri di depan HRD.
“Selamat pagi.” Seorang pria berperawakan tegap, mengenakan kemeja warna abu tua menyapanya lebih dulu. Nala tersenyum kikuk begitu memasuki ruangannya, dia merasa takut jika harapannya tidak sesuai dengan ekspetasi.
“Silakan duduk.” Pria itu pun mempersilakannya duduk di depannya. Nala tersenyum membalas keramahan dari sang HRD yang tampak tersenyum sumringah.
“Terima kasih.” Nala kali ini memberanikan diri bersuara setelah terlalu banyak diam.
“Santai saja, saya tidak semenyeramkan itu kok.” Pria itu terkekeh begitu melihat ekspresi Nala yang terlihat sangat kaku, dia bisa menebaknya dengan benar, perempuan di depannya itu memiliki kepribadian introvert.
Selama sepuluh menit lamanya, Nala memperkenalkan diri dan sesekali menjawab beberapa kali pertanyaan dari sang HRD. Bahkan kalimat tanya yang diajukan oleh sang HRD pun tidak begitu menyulitkannya, dia bisa menjawabnya.
“Apa rencana Anda dalam waktu lima tahun ke depan?” tanyanya dengan serius. Nala memainkan jemarinya, dia merasa dari sekian pertanyaan yang diberikan kepadanya jauh lebih susah dari sebelumnya.
“Saya ingin membuka usaha sendiri, Pak.” Nala memang berkeinginan untuk segera mewujudkan mimpinya itu, tapi dia menundanya, karena dalam berbisnis perlu modal untuk menunjang kebutuhan usahanya.
“Apa kamu sudah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya?” tanyanya, pria itu menyimak perempuan di depannya yang terlihat gugup karena itu kali pertamanya dia interview kerja.
“Belum pernah, Pak.”
“Apa yang akan kamu berikan kepada kami jika menjadi salah satu karyawan di sini?” tanyanya dengan serius.
“Saya akan rajin bekerja dan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan.” Nala mengatakannya dengan penuh semangat. Hal itu pun membuat pria di depannya mengangguk seolah paham atas apa yang disampaikan oleh Nala.
Pria itu meraih dokumen milik Nala yang berisi perihal CV serta portofolionya, dia membacanya secara menyeluruh, hal itu membuat perempuan berambut sebahu tampak lesu dan pasrah. Akan tetapi, dia terus berusaha berdoa yang terbaik.
“Baik, besok kamu sudah bisa mulai bekerja di sini.” Kalimat tersebut dikatakan dengan sangat lantang oleh sang HRD, membuat Nala terkesiap saking kagetnya.
Kedua matanya mulai berkaca-kaca, karena terharu. “Beneran, Pak?” tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh pria di depannya.
“Terima kasih banyak ya, Pak.” Nala mengatakannya dengan penuh semangat.
“Ya, besok kamu akan diberikan tugas oleh pegawai lama di restaurant di sini. Ingat, di sini kamu melamar sebagai pelayan, artinya harus memiliki sikap yang baik kepada pengunjung yang pasti tujuannya makan di sini. Kamu harus ramah kepada mereka ya.” Pria itu memberitahunya dengan tenang, dan hal itu membuat Nala semakin bersemangat bekerja, karena memiliki bos yang menurutnya baik, dan ramah.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
***
Nala terduduk di halte, hari ini merupakan hari yang membahagiakan baginya, karena dia diterima bekerja menjadi salah satu pelayan. Kedua matanya menyusuri sekitar, hingga terpaku pada seorang anak yang usianya lebih muda darinya. Gadis kecil itu mendorong sebuah gerobak yang terlihat tampak berat, entah apa isi di dalamnya.
“Ternyata aku selama ini kurang bersyukur.” Nala memperhatikan gadis kecil itu yang tengah mengambil beberapa botol bekas di dalam tong sampah dekat halte.
Nala bahkan sempat merutuki dirinya sendiri karena belum mendapatkan pekerjaan selama dua bulan itu, tapi setelah melihat apa yang terjadi pada gadis kecil itu, dia terlihat tidak mengeluh dan bersemangat memunguti beberapa barang bekas yang mungkin dapat terjual.
Setelah dirasanya barang bekas di tong sampah tersebut sudah habis, gadis kecil itu pun kembali mendorong gerobaknya, tapi justru dia nyaris terjungkal karena sepertinya isi di dalamnya terlalu berat dan banyak.
Nala pun segera membantunya. “Biar aku bantu, Dek.”
Gadis kecil itu melirik Nala beberapa saat, “enggak apa-apa, biar aku saja.”
“Tapi kayaknya ini terlalu berat untuk kamu. Aku akan bantu mendorongnya.” Nala merasa perlu untuk membantu, terlebih lagi gadis kecil itu bertubuh mungil, melihatnya saja membuatnya tidak tega jika mengabaikannya begitu saja.
“Tidak usah, Kak. Aku kayaknya butuh istirahat saja.” Gadis itu pun terduduk dan membiarkan gerobaknya.
Nala teringat dengan roti serta sebotol minuman es teh yang sempat dibelinya sepulang interview, tapi dia belum sempat memakannya.
“Makan dulu ini, kayaknya kamu perlu tenaga deh.” Nala menyodorkan makanan dan minuman miliknya, gadis itu pun menerimanya sembari tersenyum manis.
“Terima kasih ya, Kak.”
“Siapa nama kamu?” tanya Nala memastikan.
“Hannah.”
“Oh, aku Nala. Silakan dimakan ya, Hannah.” Nala merasa senang bisa berbagi, meski sebenarnya dia sedang lapar juga. Akan tetapi, menurutnya Hannah jauh lebih membutuhkan daripada dirinya. Gadis kecil itu harus mempunyai banyak tenag, karena pekerjaannya yang cukup berat untuk anak seusia dia.
Hannah memotong rotinya menjadi dua bagian. Hal itu membuat Nala tampak mengernyit dan segera memberitahu kepada gadis kecil itu bahwa roti tersebut untuk dirinya saja.
“Kamu makan saja semuanya, aku sudah kenyang.” Nala berpikir jika roti yang sedang dibagi menjadi dua bagian itu untuk dirinya sebagian, tapi ternyata salah.
“Hannah membaginya untuk pemilik pintu syurganya Hannah.” Gadis itu pun segera mengampiri gerobaknya.
Pergerakan Hannah membuat dahi Nala mengernyit kebingungan, bahkan dia juga tidak mengerti apa yang dimaksudnya.
“Pemilik pintu Syurga?” tanya Nala tidak paham.
Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan tubuh yang sangat mengkhawatirkan muncul, terlihat oleh kedua mata Nala. Hannah menyuapi sebagian roti itu kepadanya.
“Ayo dimakan, Bu. Hari ini kita dapat rezekinya roti dan es teh.”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Hannah, membuat hati Nala terasa seolah diiris, dia merasa tersentuh. Anak sekecil Hannah sudah merasakan kisah kehidupan yang begitu pahit.
Kini, Nala paham dengan perkataan Hannah. Maksud dari pemilik pintu Syurga itu adalah ibunya. Gerobak sederhana yang digunakannya untuk memungut barang-barang bekas untuk dijadikannya sumber kehidupan ternyata bukan sembarang gerobak biasa. Akan tetapi, itu gerobak menuju ke Syurga untuk Hannah.
***

TENTANG PENULIS: Fidy Putri atau dengan nama lengkap Fidya Hulwani Putri yang mempunyai dua nama pena yaitu Fidy Putri dan Cloveriestar. Dia merupakan seorang penulis online yang menulis beberapa cerita novel dengan genre romansa di beberapa platform, yaitu KBM, Fizzo, Wattpad dan lainnya. Dia juga seorang mahasiswa yang masih menempuh Pendidikan tinggi di salah satu Universitas di Tasikmalaya, jurusan Akuntansi. Bisa mengenalnya lebih lanjut di : Instagram : @fidyputrii , Wattpad : fidyputri , Kbm dan Fizzo : Cloveriestar ,

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu dari Ditjen Kebudayaan, Kemdikburistek RI. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


