Kampung Sinday, Desa Pajagan, terhampar sebuah lanskap yang memukau. Dikelilingi oleh perbukitan hijau yang menjulang tinggi. Kampung itu terletak di tepi sungai Ciberang yang membelah lembah dengan gemerlapnya air yang mengalir tenang. Pemandangan alam yang menakjubkan itu menjadi hiburan bagi mata dan jiwa warga yang tinggal di sana.

Kampung itu terdiri dari sejumlah rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Setiap rumah memiliki halaman yang luas yang ditanami dengan tanaman beraneka warna dan bunga-bunga indah. Di sekitar kampung, terdapat persawahan yang subur yang menjadi sumber mata pencaharian utama warga.
Suatu pagi yang cerah, sinar matahari menyinari langit dengan kehangatan yang menyegarkan. Warga kampung Sinday terbangun dengan semangat, siap untuk menghadapi hari yang baru. Mereka beraktivitas dengan riang, saling menyapa, dan menikmati keindahan pagi yang menakjubkan.
Namun, takdir berkata lain bagi para warga di kampung Sinday. Pada saat itu, langit yang cerah berubah menjadi kelabu dan mendung. Dalam sekejap, hujan deras turun dengan intensitas yang luar biasa. Tetesan air yang besar jatuh dengan keras menghantam atap rumah dan membuat aliran sungai Ciberang kian membesar.
Suasana yang awalnya riang menjadi tegang dan mencekam. Warga berlarian kesana-kemari mencoba menyelamatkan barang-barang berharga dan mengamankan keluarga mereka. Namun, kekuatan alam tidak bisa mereka bendung. Air yang deras memasuki rumah-rumah mereka menyebabkan kepanikan dan kekacauan.
“Teh, kaki Tia sakit.” Gadis kecil yang mengenakan seragam merah putih itu meringis lantaran kakinya tertusuk kepingan bambu.
Desi pun menggendong sang adik di punggungnya sambil terisak. Sekuat tenaga gadis berusia 15 tahun itu mengarungi luapan air yang mulai merendam seluruh bagian kakinya. Sementara, tubuh Tia mulai menggigil. Desi mempererat pelukannya di kedua kaki Tia.
Baru saja 1 jam lalu mereka menikmati kehangatan sarapan bersama Bapak dan Ibu. Setiap pagi Ibu selalu menghidangkan singkong rebus dan teh tawar hangat. Dengan beralaskan tikar, mereka duduk melingkar untuk menyantap menu andalan Ibu.
Desi masih bisa merasakan aroma singkong rebus dan teh tawar hangat buatan Ibu. Senyuman Ibu dan Bapak ketika pamit pergi ke sawah pun terbayang dalam ingatan. Gadis itu seolah melihat mereka sedang berada jauh di depannya. Dia tidak menyangka momen hangat itu akan digantikan dengan jeritan orang-orang meminta tolong.
Apakah Ibu dan Bapak baik-baik saja? Teteh dan Tia di sini kedinginan, ucap Desi dalam hati sembari masih berusaha berjalan mencari pertolonga.
Tenggelam dalam air yang dingin, rumah-rumah di kampung Sinday menjadi pemandangan yang memilukan. Dinding-dinding yang kuat dan atap-atap yang indah kini hancur berantakan. Gemuruh suara air yang memenuhi seluruh kampung menjadi latar tempat yang menyedihkan.
***

“Akhirnya, perkampungan itu lenyap juga. Semesta memang sangat baik kepadaku. Dengan begittu, kekayaanku akan makin berlipat-lipat.” Sosok pria paruh baya yang mengenakan jas berrwarna hitam itu pun matanya berbinar-binar.
“Benar sekali, Pak. Jadi, kapankah perkampungan itu akan kita habiskan semuanya?” tanya pria berkumis yang berada di samping kanannya.
“Sabar dululah. Kita jangan langsung bertindak. Kita harus pastikan para warga di sini terpenuhi kebutuhannya. Jangan sampai wajah kita tercoreng atas kejadian ini.”
Pria di samping kanannya itu hanya mengangguk patuh dengan perintah atasannya.
***

Beberapa minggu kemudian, takdir pahit kembali menghampiri warga kampung Sinday. Pemerintah pusat mengumumkan proyek strategis nasional untuk membangun waduk Karian di daerah tersebut. Kampung Sinday dipilih sebagai lokasi proyek karena diharapkan memberikan manfaat bagi pertanian dan pasokan air di wilayah tersebut.
Kabar itu diketahui oleh warga kampung Sinday yang telah pindah ke tempat-tempat yang berbeda. Mereka merasa bingung dan sedih. Setelah kejadian banjir itu, mereka memutuskan untuk memperjuangkan pemulihan rumah dan kehidupan di kampung Sinday. Namun, ada banyak tantangan dalam proses pemulihan tersebut.
Kampung Sinday terisolasi dari sumber daya dan infrastruktur yang diperlukan untuk membangun kembali. Bantuan dari pemerintah terlambat dan tidak memadai sehingga proses pembangunan berjalan lambat dan terhambat. Warga yang sebelumnya penuh harapan, kini merasa putus asa dan kecewa.
Desi telah kehilangan seluruh anggota keluarganya akibat banjir besar saat itu. Tia, sang adik yang sudah digendong oleh Desi pun akhirnya nyawanya terenggut lantaran dia sudah mengeluarkan banyak darah di kakinya.
Tiga hari kemudian, Desi baru mengetahui bahwa Ibu dan Bapaknya ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sekitaran sawah milik mereka. Bagaimana perasaan gadis itu tidak tercabik-cabik? Dalam satu waktu dia sudah kehilangan keluarga kecilnya.
Tidak hanya Desi yang merasa terpukul atas kejadian itu, warga kampung Sinday lainnya pun meratapi nasibnya yang menyedihkan. Kampung Sinday tetap menjadi kampung mati yang tidak berpenghuni. Bangunan-bangunan yang hancur tidak pernah dibangun kembali dan alam telah merenggut kembali apa yang pernah ada.
***

“Silakan dinikmati kopinya, Pak.” Gadis yang mengenakan kemeja putih dan rok panjang berwarna hitam itu menyajikan segelas kopi di atas meja untuk majikannya.
Pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih dan langsung menyeruputnya dengan perlahan. Usai menyajikan segelas kopi, gadis itu pun kembali lagi ke dapur. Dia sangat senang karena pekerjaannya selalu dinilai bagus oleh keluarga orang terpandang di kabupatennya itu. Sebenarnya, dia terpaksa bekerja sebagai asisten rumah tangga. Seharusnya saat ini dia kelas 3 SMA. Namun, lantaran sebatang kara, dia harus bisa menghidupi dirinya sendiri.
Keesokan paginya, rumah Pak Rais mendadak gempar. Bu Sri histeris lantaran Pak Rais ditemukan sudah terbujur kaku di atas kasur. Awalnya dia membangunkan Pak Rais. Tidak biasanya pria itu belum bangun ketika sudah pukul 06.00. Pikirnya, mungkin Pak Rais, suaminya terlalu lelah. Namun, ternyata tubuh suaminyya dalam keadaan dingin dan tidak ada lagi embusan napasnya.
Kematian Pak Rais sebagai orang penting di kabupatennya itu tentu langsung menjadi santapan banyak media. Terlebih peristiwa itu sangat mendadak. Meski sudah dinyatakan tiada, Pak Rais masih harus dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih mendalam tentang penyebab kematiannya. Sembari menanti kepulangan jasat Pak Rais, gadis berusia 18 tahun itu merapikan rumah bersama asisten rumah tangga lainnya dan menghidangkan minuman untuk para pelayat.
Ketika berada di dapur untuk menghidangkan minuman lagi, gadis itu tersenyum puas. (*)
*) Foto-foto CNBC Indonesia dan Akurat Banten

Tentang Penulis: Vivi Intan Pangestuti, mahasiswi disabilitas netra Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Jika ingin mengenal lebih dekat, melalui akun instagram @viviintan99.

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.


