Oleh: Irma Nurul Utami
Pasar bunga selalu memiliki aroma yang sulit dijelaskan. Segar, manis, sekaligus tenang. Seolah setiap bunga menyimpan cerita yang tak sempat disampaikan manusia. Pasar bunga selalu membuatku ingin kembali, kembali meraba ingatan yang tak pernah usai. Rasanya, pasar bunga terlalu banyak menyimpan memori sederhana yang melekat tanpa memberi jeda. Tanpa banyak kata, aku memutuskan membeli setangkai bunga lili. Bunga yang selalu menarik perhatianku, ingatanku dan bahkan memori tentang seseorang yang pernah hadir dalam hidupku.
Dua tahun lalu, tepat di tempat aku berdiri, ada seseorang yang mengajakku menyusuri pasar bunga. Waktu itu, aku menanggapinya setengah hati. “Apa sih serunya ke pasar bunga?” tanyaku malas.

Dia tersenyum kecil. “Coba aja dulu,” katanya pelan. Hari itu kami berjalan berdampingan di antara lorong-lorong pasar yang penuh warna dan aroma. Dia menunjuk satu per satu bunga yang menarik perhatiannya. “Bunga ini wanginya lembut, coba deh,” katanya sambil menyodorkan bunga kecil ke arahku. Ia kembali menyusuri setiap sudut ruko, lalu mengambil satu persatu bunga yang ia pilih dengan penuh perhatian. “Bunga ini cantik… sama kaya kamu,” ucapnya tiba-tiba, dengan senyum menggoda.
Aku mendengus pelan. “Aku tuh ga suka bunga Kak,” jawabku agak kesal.

Tapi ia hanya tersenyum kecil, lalu mengambil sesuatu dari tangan kirinya dan menyodorkannya ke arahku. “Coba pegang deh,” katanya pelan.
Aku menerima bunga itu tanpa antusias. “Ini namanya bunga lili.” Ia menatapku sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, “Bunga lili itu lambang ketulusan. Sederhana, tapi punya makna yang dalam. Dia gak perlu jadi mencolok buat bisa indah. Dan tau gak? Lili itu simbol cinta yang gak banyak bicara… tapi terasa. Kaya… cinta yang gak nuntut apa-apa.”
Aku memperhatikannya dengan seksama. Saat itu, aku belum tahu bahwa bunga lili akan menjadi penanda. Bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang rasa yang tak pernah selesai. Beberapa tahun berlalu. Kami tak pernah lagi berbicara, bahkan tak pernah benar-benar berpamitan. Hanya menghilang perlahan, seperti pagi yang berganti siang.
Sepulang dari toko bunga, langkahku terasa berat. Seolah kenangan menahanku untuk menetap. Dan tepat di depan pintu rumah, aku melihatnya. Sebuah buket bunga lili. Cantik. Segar. Diam-diam menggetarkan. Ada secarik kertas terselip di tengahnya. “Lilies – proof that flowers know how to say everything without saying a word.”
Airmataku jatuh, pelan. Bukan karena sedih, tapi karena ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Ternyata ada cinta yang tidak menuntut balasan, tidak memaksa hadir, tapi selalu memperlihatkan kehadirannya. Cara mencintainya terlihat unik, dalam diam, dalam jarak, tapi tak pernah benar-benar hilang. Peran penjaga yang tak terlihat.
Aku tak pernah menganggapnya benar-benar pergi. Ia masih menetap rapi dalam ingatan, menyisakan banyak kenangan yang tak pernah sempat aku utarakan. Kehadirannya membuat setiap perjalanan terasa menyenangkan. Aku menganggap semua hal tentangnya adalah hal sederhana yang menyenangkan. Tapi aku lupa, apakah ia juga menganggap demikian?
Kali ini aku menggenggam bunga lili dengan perasaan tak karuan. Perasaan tentang melewati perjalanan panjang tanpa pernah tersiar kabar. Dan anehnya, ia kembali hadir dengan menguak segala kenangan yang tak pernah benar-benar ingin aku lupakan. Semuanya terasa seperti penyiksaan.

“Kalau suatu hari ada seseorang yang mencintaimu seperti bunga lili… tenang, tidak menuntut, tapi selalu ada. Kamu bakalan gimana?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh pelan. “Cinta yang kaya bunga lili?” ulangku, nyaris seperti gumaman. “Yang gak nuntut apa-apa tapi selalu ada?” Aku diam sejenak dan menghela nafas. “Emang ada, ya, cowok kayak gitu?”
Ia hanya tersenyum, menunduk pelan lalu berkata, “Siapa tau… kamu lagi ngomong sama salah satunya.”
Aku hanya terdiam. Tapi rasanya seperti ada kupu-kupu berterbangan liar di dalam perutku. Aneh, dia selalu punya cara untuk membuatku menyukai hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Dan yang lebih anehnya lagi, aku justru tertarik pada apapun yang ingin ia tunjukkan. Seolah apapun yang ia tunjukkan terlihat sangat menyenangkan. Perjalanan di Pasar bunga hari itu, pelan-pelan mengubah cara pandangku. Aku mulai memperhatikan detail warna, wangi dan bentuk dari setiap bunga yang aku lihat.
Tanpa sadar, aku kembali menatap buket bunga yang ada dalam genggaman tanganku. Pikiran-pikiran dalam kepalaku mulai bergumam pelan. “Aku sudah mulai menyukai semua hal yang pernah kamu tunjukkan.” Tapi nyatanya… sekarang aku melakukan itu sendirian. Lalu hari ini, kamu datang lagi. Bukan lewat suara atau tatapan mata, tapi lewat setangkai bunga lili. Seakan-akan kamu ingin bilang, “Aku masih disini. Aku akan kembali.” Padahal, dari awal kita menyusuri pasar bunga itu… kita belum pernah benar-benar mulai.
Tentang Penulis

Irma Nurul Utami adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Korea di Universitas Pendidikan Indonesia. Ia mencintai dunia penulisan, fashion, dan kerajinan tangan. Bagi Irma menulis adalah cara untuk memahami diri sendiri dan menyampaikan suara-suara yang tak selalu terdengar.

CERPEN SABTU Cukup 1000 – 1500 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Redaksi menyediakan honor Rp. 100 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu. Jika ingin melihat cerpen-cerpen yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


