Mulanya aku hanya ingin cuti ngampus, tapi gaji NGO lebih menarik. “Kenapa setahun ini kamu membohongi kami, Ng?” tuduh Ibu di pelantang ponsel sore tadi benar-benar merusak mood sehingga aku baru bisa menyelesaikan laporan pukul 01.15. “Apa benar, kata Bu Leka, kalau kamu jual diri di sana?” Aku tahu aku hanya anak pungut yang keberadaannya tak lagi penting setelah adik tiriku hadir ke dunia sepuluh tahun yang lalu. Tapi hinaan itu terdengar garing.
Begitu meninggalkan kantor, aku memasang penyuara telinga. Belakangan aku menggilai Savage Garden. Ketika Darren Hayes hendak melengkingkan chorus “Truly Madly Deeply” dengan falsetto-nya yang lembut, dua orang laki-laki empat puluh tahunan di persimpangan, sekitar dua puluh meter dari tempatku mulai memperlambat langkah, sedang berseteru.
Sembari berjalan pelan volume Hayes kuredam. Entah mengapa, aku malah punya ide mencuri dengar keributan mereka.

Sepuluh meter lebih dekat. Rupanya salah satu dari mereka mengambil laba yang lebih banyak dari perusahaan yang mereka rintis empat bulan ini. Namun, yang lebih mengejutkanku, si Penilap melakukannya karena sakit hati kepada rekannya yang menggoda istrinya.
Lima meter lebih dekat. Kejutan belum berhenti. Si Penilap menyebut si Penggoda sebagai politisi cabul yang takkan terpilih lagi. Sementara si Penggoda, alih-alih menyangga, malah menyebut si Penilap sebagai si kere yang iri hati.
Si Penilap mengambil batu bata, namun si Penggoda berhasil menghindar dan melakukan serangan balik dengan kaki kanannya yang berkelebat sebelum mendarat di dada rekannya.
Brug. Si Penilap terjatuh satu meter di hadapanku. Di hadapanku, si Penggoda memukul bagian belakang kepala rekannya dengan batu bata, enam kali.
Oh, tak ada orang lain atau kendaraan yang melintas.
Setelah menyingkir dari si Penilap yang terkapar, kupercepat langkah.
Aku tahu, di belakangku, laki-laki itu…

Aku balik badan. Rupanya ia sedang melompat ke arahku dengan batu bata di tangan. Aku mengelak, sehingga ia jatuh terjerembab dan, sebagaimana rekannya, wajahnya pun mencium trotoar.
Aku ingin berlari, tapi kaki kananku kini dalam genggamannya. Aku berteriak minta tolong. Aku memang juara judo, tapi melawan gadis sebaya di arena dengan wasit, penjaga, dan penonton, bukan melawan laki-laki tinggi-besar di jalanan lengang pukul dua dini hari!
“Tidak mungkin kau akan tutup mulut, ‘kan?” Ia menyergapku dan, oh pikiran buruk itu melintas. Napasnya yang menyengat membuatku membuang muka. Meski bukan pemabuk, aku tahu kalau laki-laki itu minum alkohol terlalu banyak.
Benda seukuran telunjuk—dan tampak mengilap diterpa lampu jalan—keluar dari pinggangnya. Aku refleks memiringkan badan ke kiri karena terkejut, bukan karena satu-dua jurus judoku.
Ketika ia memutar dan kembali mengarahkan benda yang kemudian kuketahui sebagai pisau lipat itu ke pinggangku, gerakan berputar membuatku dengan mudah merebut stainless itu dan … aku tak punya pilihan …
Ia tergeletak, meninggalkan pertunjukan enam lubang air mancur marun di lehernya.
***

Dibumbui ini-itu peristiwa dini hari itu menyebar dalam berbagai versi drama. Kabar terakhir yang kubaca, kepolisian menunggu si Penilap yang ternyata bernama Rahmat Andika sadar dari komanya. Subuh tadi, seorang perempuan paruh baya yang biasa berjualan lontong pakis di depan ruko nahas itu menemukan dua laki-laki tergeletak. Yang satu tewas kehabisan darah, satu lagi terlelap dengan kepala bagian belakang yang memar.
Jelang dini hari tadi, hujan memang turun sebentar, seakan-akan hanya untuk menghapus jejak kehadiranku pada tubuh korban.
Kemujuranku purna ketika dua CCTV yang dipasang berdekatan dengan lampu jalan yang terang benderang—yang seharusnya merekam kejadian nahas itu—malah dikerubungi laron dini hari itu.
Kabar itu kudengar dengan perasaan campur aduk. Lega karena aku bebas untuk sementara. Cemas karena, hanya menunggu waktu, polisi pasti meringkusku.
Sejak itu hari-hariku kacau. Tak satu laporan NGO pun yang bisa kurampungkan. Beberapa kali aku ditegur kepala bagian.
Dan di hari kesepuluh setelah pembunuhan itu, wakil kepala kantor, yang tak lain tak bukan adalah teman yang memberiku pekerjaan ini, menyambangi kos. Ia memarahi habis-habisan. Dari menuduhku memalsukan surat sakit dari Puskesmas hingga menyebutku sebagai pelacur yang tak tahu terima kasih.
Dadaku bergemuruh. Kudorong ia keluar dan kukunci pintu dari dalam. Di luar kudengar ia menyebut-nyebutku, lagi dan lagi: pelacur!
***

Empat hari kemudian, usai membaca surat pemberhentianku dari NGO di surel, aku gegas memasukkan pisau lipat berlumuran darah dalam plastik transparan ke dalam tas sandang. Honda Brio sudah menunggu di luar.
“Benar ini tujuannya ke kantor polisi ya, Kak?” sopir Grab, pemuda sebayaku itu, memastikan dengan hati-hati begitu kendaraannya melaju.
Aku mengangguk. Aku tahu dia bisa melihatku dari spion tengah mobil.
Meskipun aku bisa berkeliaran bebas sampai hari ini, perasaan bersalah menghantuiku. Aku mengidap insomnia, selera makanku hilang, dan hapeku mati total. O, bagaimana bisa pembunuh bisa berpelesiran? Atau aku saja yang berlebihan?
Sudahlah, niatku sudah bulat. Menyerahkan diri adalah langkah terbaik bagi seseorang yang pada dasarnya tak bermaksud membunuh. Siapa tahu pengadilan akan memberiku keringanan hukuman setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi dini hari itu.
Kunyalakan ponselku. Lima puluh enam missed-call dari kantor. Portal-portal berita mengecam kepolisian yang gagal mengungkap misteri pembunuhan caleg petahana Hellyasukromarjo (Oh, rupanya si Penggoda itu adalah anggota DPRD kota ini dua periode!). Namun di platform X dan Instagram, #thankskiller menjadi trending.

Aku mengusap-usap ponsel untuk berburu penyebab keanehan reaksi warganet itu.
Selama menjabat sebagai wakil rakyat Hellyasukromarjo terlibat dalam banyak kasus. Dua tahun lalu namanya disebut dalam dokumen pembakaran 55 permukiman warga yang hari ini lahannya menjadi nganga tambang nikel nomor dua terbesar di Sumatra. Tiga tahun sebelumnya, namanya santer disebut berada di balik penjualan komplotan gadis di bawah umur ke ibukota dan Thailand. Empat tahun ke belakang, ia sempat dilaporkan dalam kasus pemerkosaan ART-nya. Lima tahun lalu …. Enam tahun lalu …. Dan masih banyak lagi.
Namun, jabatan strategis membuatnya bebas melenggang.
“Sudah sampai, Kak,” kata sopir itu begitu mobil menepi di luar gerbang Polres.
“Ini,” aku memberikan selembar uang merah jambu. “Maju tiga puluh meter lagi. Aku mau ke mal di depan itu. Kembaliannya ambil saja.”
Sopir itu menginjak pedal gas.
*) Lubuklinggau, 24 Februari 2024
TENTANG PENULIS: Benny Arnas, sejauh ini, menulis 31 buku. Saat ini sedang merampungkan sekuel novel perjalanannya. Karya-karyanya berumah di www.bennyarnas.com.


REDAKSI CERPEN MINGGU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.




Benny emang keren, Bos