Sudah dua hari Nawar tidak tahu di mana rimbanya. Pemuda berkulit hitam itu memang seringkali terlihat murung dan banyak melamun, padahal Pak Lurah sudah memberikan posisi enak di kantornya sebagai Sekretaris Lurah. Sebelum hilangnya Nawar, pemuda itu kelihatan seperti orang tak waras. Sering bicara sendiri, seolah-olah ada yang dia ajak bicara. Staff kelurahan mengadukan hal ini pada Pak Lurah. Rasanya muka pejabat kelurahan itu seperti ditampar mendengar laporan anak buahnya.

Nawar pun dipanggil Pakdenya. “Kamu kenapa, War, sering melamun? Nanti bisa kemasukan, lho!” ujar Pak Lurah.
Nawar hanya menatap wajah Pakdenya sebentar lalu dia menunduk.
“Apa yang kamu pikirin?” tanya Pak Lurah. “Nanti ada malaikat lewat, bisa dicabut nyawamu!” lanjutnya.
Nawar menarik napas panjang, “Sekarang saya lagi ngobrol sama malaikat, Pakde.”
“Hah? Ngaco kamu! Jangan sembarangan kalo ngomong!”
“Betulan, Pakde! Izroil bilang, bakal ada warga kampung sini yang meninggal karena jatuh dari pohon!”
Hal itu pun Nawar sampaikan ke warga kampung dan staff kelurahan. Mereka menanggapi ramalan Nawar dengan menaruh telunjuk di kening sebagai tanda kalau pemuda itu sudah gila. Nawar tidak peduli. Dia terus berkicau bakal ada yang meninggal karena jatuh dari pohon.

Dua hari kemudian warga kampung geger dengan berita ada warga yang meninggal karena jatuh dari pohon, persis seperti ramalan Nawar.
Pak Lurah kaget. Akhirnya banyak warga yang mendatangi Nawar meminta untuk diramal. Kalau mau meramal, dia cuma bengong sebentar lalu membisikan sesuatu ke pasiennya. Anehnya semua ramalan Nawar tidak ada yang meleset.
Ini hari ketiga Nawar menghilang. Semua warga ikut mencari dan meminta Pak Lurah untuk melapor ke polisi supaya Nawar ditemukan dan bisa membantu mereka melihat peristiwa yang bakal terjadi. Pak Lurah mengumpulkan semua warga di halaman kantor. Di tengah kerumunan, tiba-tiba Nawar muncul dengan pakaian rapi tapi dengan rambut yang acak-acakan. Ia mendekati Pakdenya.
“Nawar, kamu darimana aja? Kami semua kuatir dengan keadaanmu?!”
Semua warga bersorak gembira melihat Nawar sudah pulang.
“Aku diajak jalan-jalan sama Izroil, Pakde,” jawabnya santai.
“Jangan ngaco kamu! Izroil kan malaikat pencabut nyawa! Kalau kamu diajak, mana bisa kamu pulang lagi!” Suara Pak Lurah menahan geram.
“Suwer, Pakde!” Nawar mengacungkan dua jarinya.

Warga yang berkerumun saling kasak-kusuk menerka apa yang dibicarakan oleh Om dan keponakan.
“Hey, Nawar! Kamu sudah bikin heboh seisi kampung!” teriak salah satu warga.
Hansip Hanif berusaha menenangkan warga yang penasaran.
“Tenang sodara-sodara sekalian, kita dengarkan penjelasan Nawar dulu!” ujar Pak Lurah dengan suara lantang. “Nawar, udah cepetan jelasin ke warga,” bisik Pak Lurah sambil menyenggol lengan keponakannya.
Nawar masih bengong. Wajahnya memandang sekumpulan warga yang menunggu penjelasannya.
“Sebentar sodara-sodara, aku mau minta izin Izroil dulu,” sahutnya, tenang.
“Eeaalah! Bocah gendeng!” teriak seorang nenek tua.
Orang-orang saling pandang mendengar ucapan Nawar. Ada yang bilang pemuda itu kesambet. Ada yang menganggap orang edan.
“Kalian percaya nggak kalau aku baru diajak jalan-jalan sama Izroil?” tanyanya.
“Izroil malaikat pencabut nyawa?” tanya seorang warga.
Nawar mengangguk.
“Kamu gila ya, Nawar!”
“Mana bisa manusia ketemu Izroil, kecuali dia sudah menjelang ajalnya!”
“Apa buktinya kamu ketemu Izroil?”
Nawar maju selangkah. Dia berdiri tegak menghadap warga. “Buktinya selama ini aku bisa tau siapa aja yang mau mati. Semua karena Izroil membisikkan kepadaku kabar itu,” jawab Nawar.
“Nggak percaya! Apa bukti yang lain?” sahut lelaki berbadan besar itu.
“Kalau mau bukti, ayo ikut aku ke tempat Izroil. Aku juga bisa tau di mana pintu neraka!” jelas Nawar.
Pak Lurah mengggelengkan kepala. Keponakannya sudah makin kacau pikirannya. Namun demi membuktikan kebenaran ucapan keponakannya dan menjaga gengsi di depan warga, akhirnya Pak Lurah mengutus Hanif dan dua orang warga untuk mengikuti ke mana Nawar bisa bertemu dengan Izroil. Sementara warga lain tetap menunggu dan ada juga yang pulang ke rumah.

Nawar, Hanif, dan dua orang warga mengikuti pemuda itu melangkah mendatangi puskesmas. Mereka bertiga bingung kenapa Nawar membawa mereka ke tempat itu. Lalu Nawar meminta izin perawat untuk melihat pasien yang lagi sekarat.
“Nawar, ngapain kita kemari? Mengganggu orang sakit aja,” bisik Hanif.
“Sssst …, jangan berisik, nanti Izroil marah,” Nawar menaruh telunjuk di bibirnya.
Hanif kebingungan karena pasien yang lain menatap ke arah mereka.
“Izroil, kamu di mana?” tanya Nawar dengan suara pelan sambil jalan ke sudut ruangan.
Tiba-tiba dalam ruangan terdengar suara bising dan udara bertambah dingin mengalahkan suhu AC.
“Heh, Nawar! Ngapain kamu di sini?” tanya sebuah suara.
Nawar menoleh ke arah suara, lalu tersenyum. “Izroil, semua warga masa nggak percaya kalau aku kemarin itu ikut kamu jalan-jalan! Mereka bilang aku sudah gila. Sekarang coba kamu tunjukan kepada mereka wujudmu,” pinta Nawar.
“Enak aja, nggak segampang itu. Orang yang bisa melihatku adalah yang sudah di ambang maut,” jelas Izroil.
“Lah, koq aku bisa? Hayoo, kamu jangan mengelak,” Nawar cengengesan.
“Kamu lain dengan mereka. Sudah, sana pergi! Bikin repot aja!” sergah Izroil.
“Tolong aku, Izroil! Kalau mereka nggak bisa lihat kamu, nanti disangka aku sudah gila,” Nawar memohon.
“Bocah ngeyel. Kamu mau pergi atau aku cabut sekalian nyawamu! Ganggu kerjaanku aja. Cepat pergi!” bentak Izroil.
Nawar bergidik mendengar suara itu. Dia berlari ke luar ruangan disusul Hanif dan dua temannya. Melihat Nawar lari, mereka ikutan ngacir mengejarnya.
“Nawar, mau ke mana kamu?” tanya Hanif.
“Aku mau pergi!” jawab Nawar.
“Lho, Izroilnya?” tanya Hanif lagi.
“Izroil lagi sibuk! Bilang saja pada Pak Lurah dan warga, kalau mau ketemu suruh bikin surat proposal dulu! Nggak bisa minta duluan, sekalipun dia pejabat. Dan tunggu antrean!” teriak Nawar sambil berlari.
Hanif dan dua warga itu berhenti mengejar Nawar. Napas mereka terengah-engah.
“Dasar bocah edan!” umpat Hanif.
###

REDAKSI CERPEN SABTU: Cukup 500 – 1000 kata. Teknik menulis baru diperbolehkan, kritik sosial, plot point, absurd, realis, surealis, boleh. SARA dan pornografi dilarang. Honor Rp. 200 ribu. Terbit mingguan setiap hari Sabtu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri. Kirim ke email gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Sabtu.



